Ketika saya masih kuliah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dulu IKIP Bandung, saya mempunyai teman dekat, yang saya harap menjadi kekasih hati, karena dia cantik, teman satu pesantren dulu di Pesantren Keresek, saya sering berkunjung ke tempat kuliahnya di Universitas Siliwangi Tasikmalaya, saking sudah dekatnya saya yakin dia mau menerima saya jadi kekasih. Namun fakta bicara lain, ketika dia saya ajak menikah, dia tidak mau Den, entah dengan alasan apa, intinya tak serius barangkali, karena dia terlalu cantik untuk saya, atau saya kurang ganteng untuk dia, sama saja he…he…. akhirnya saya cari di kampus sendiri, untuk jadi teman hidup, namun dari sekitar sepuluh orang yang saya kejar, tak satupun yang mau menerima saya. Apa hendak dikata, bertepuk sebelah tangan…wah gawat ini….. Istri dan Putriku, cantik khan…? Namun saya ini marketing, masa dari seratus orang customer yang didatangi tak satupun yang nyantol, teori peluang mengatakan nggak mungkin, pasti 20 % ada yang tertarik dan mungkin 10 persen ada yang nyangkut, maka tanpa mengenal lelah saya mencari cinta, tebar pesona kesana sini. Akhirnya dengan gaya tembak di tempat, saya mendapatkan juga yang mau (atau terpaksa mau), yah istri saya inilah pada akhirnya, dia cantik dan smart, wah Ya Allah terima kasih …Engkau memberikan yang terbaik…..di awal perkawinan kami memang ada perbedaan latar belakang, namun Alhamdulillah semakin kesini, semakin saling mengerti dan bebagi….duh ni’matnya…..dan sekarang sudah tujuh tahun kami sukses mengarungi bahtera rumah tangga………….., Istri yang lulusan SMA saya kuliahkan tanpa takut biaya darimana, alhamdulillah sekarang lagi PPL, tahun depan kelar, sehingga level cara berpikir kita menjadi sama….. Walau memang pada saat mau menikah saya juga sempat ragu, karena usaha bangkrut, tak punya uang, namun keluarga dan saudara mendorong, gotong royong sumbangan dari sana sini, buat bawaan pas nikah, jas pinjem dari Apa (orang tua), mobil dari kakak, Kartu undangan ngebon dulu dari sahabat pengusaha T Muhtar Salim (akhirnya diikhlaskan, karena kesal tak dibayar-bayar), cenderamata kebaikan teman seperjuangan Yayat S Hidayat dan Istrinya (Ineu), yang dengan mendadak beli di Pasarbaru Bandung, perias pengantin dengan sangat malu mengandalkan Teh Iis (Istri Kang Asep ZM) dan Teh Mimin yang merias barang bawaan, untuk uang mas kawin saya bingung lagi, alhamdulillah, dengan bantuan Kang Hendi Sutresna, saya mendapatkan bantuan dari Pak DadaRosada (sekarang Walikota Bandung, terima kasih Pak Wali). Jadi juga nikah…. Ketika saya membuat perusahaan kecil-kecilan, semua orang berkata, darimana modalnya, usaha begituan butuh modal besar, namun akhirnya saya membuka usaha juga, dan alhamdulillah sukses dalam dua tahun, menginjak tahun ketiga usaha saya mulai bangkrut, namun, saya mempunyai pengalaman usaha. Saat saya bangkrut usaha, saya lalu mencoba kuliah lagi, istri saya mengatakan darimana buat bayar kuliahnya ? namun saya tetap nekad, sambil kuliah saya menjadi kernet angkot, sering ketika akan ujian saya belum bisa bayar, saya mendatangi bendahara dan meminta waktu agar saya bisa membayar, namun ujian tetap bisa dilaksanakan, alahamdulillah saya dapat kartu ujian dan selesai juga kuliah, jadi sarjana. Dikala saya mengutarakan ingin menjadi dosen, istri saya tertawa…mimpi….katanya, saya lalu melamar ke berbagai perguruan tinggi di Bandung, nginep dirumah sahabat (Aceng Roni Sya’ban, sekarang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, terima kasih atas tumpangannya setiap kali saya nginep di Bandung, juga pada istri beliau Euis Siti Widuriani, terima kasih untuk numpang makannya), do’a saya dikabul Tuhan, Bu Hj. Hilda memanggil saya dan awalnya saya dijadikan asistennya, lalu akhirnya saya dijadikan dosen tetap dan sekarang menjabat sekretaris Program studi PAI di Universitas Garut. Melalui keponakan saya Agus Hidayat, Bu Hj. Momom (Istri mantan Bupati Garut, Momon Gandasasmita) meminta saya menjadi dosen di Sekolah Tinggi Hukum Garut, alhamdulillah sampai sekarang sudah 3 tahun saya ikut ngajar di STH. Spanduk Prof. DR. Alimudin, S.Pd.I, MA. ketika menjadi calon anggota DPRD Kabupaten Garut sebelum menjadi presiden Pada waktu saya mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kabupaten Garut, orang-orang tak mendukung, apalagi saya mencalonkan dari Partai Kecil (atau gurem disebutnya), saya tak punya uang, belum ada basis masa kuat, apalagi memang kultur masyarakat yang selalu memilih calon yang sudah jelas segalanya (maksudnya jelas ngasih uang nya), saya nekad tak bagi-bagi uang (uang darimana?), saya tahu tak akan terpilih, namun sebagai bagian dari ikhtiar, saya tetap mencalonkan diri, memang saya terlalu idealis (padahal idealis itu dekat-dekat idiot lho), ingin berkiprah memajukan daerah saya, berharap jadi anggota DPRD dengan modal tawadu (tara mawa duit) dan tawakkal (tara mawa bekel) memang ironis. Akhirrnya memang yang memilih saya cuma sekitar 300 orang, dari target yang jadi harus dapat sekitar 7000 orang pemilih. Yang menyakitkan, bahkan dikampung saya sendiri pun yang menang calon dari daerah lain karena punya banyak uang, karena sebelumnya dia sudah jadi anggota dewan. Namun saya bersyukur, barangkali saya perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi kalau ingin menjadi pemimpin. Partainya juga harus partai yang besar, memang saya tak terlau serius waktu itu. Alhamdulillah tak jadi…..Tuhan masih sayang….karena saya belum siap kayaknya…!, ma’lum, saat ini saya sedang bersiap-siap menjadi Bupati Garut he…he…(istri saya tersenyum lagi nih…) Bertahun tahun jadi kontraktor (rumah tiap tahun ngontrak terus…) pindah sana pindah sini, saya berdo’a sama Tuhan agar mendapatkan rumah, Ketika saya dapat beasiswa, sisanya saya belikan rumah, istri dan anak saya protes, karena rumah saya panggung, di kanan kiri ada kandang domba, sehingga rumah bau domba, tanahnya juga tanah Perum Kereta Api, tanah Hak Guna pakai, sewaktu waktu bisa diambl lagi, pas di belakang rumah, ada irigasi dan selokan, sehingga kalau malam, suaranya mengganggu tidur. Namun karena saya hanya punya uang sedikit, saya nekad membeli rumah tersebut, di tempat lain mana ada rumah yang hanya dua puluh juta. Istri saya demo tiga hari nggak ngomong-ngomong, dia nggak bisa tidur, anak saya menangis protes, namun saya tak bergeming sedikitpun, sambil berdo’a pada Tuhan agar anak dan istri menerima keadaan ini. Alhamdulillah dua minggu sejak dibeli, perubahan terjadi, saya beli banyak pewangi, agar rumah menjadi harum, domba di pinggir rumah dijual semuanya oleh pemiliknya, karena mau dijadikan rumah juga. Satu bulan dari sana istri malah betah di rumah, saya dan istri menata halaman depan rumah yang sedikit menjadi taman, kekhawatiran tentang tanah perumka tak ada lagi, karena istri sudah mengerti kalau suatu saat kami akan beli rumah lagi, yang lebih baik, dan rumah tersebut bisa dikontrakkan kepada orang lain. Saya berjanji dengan (sekali lagi) saya mengandalkan Tuhan, Insya Allah saya punya rumah lagi, yang lebih baik dari sekarang. Saya percaya dengan apa yang diungkapkan oleh film The Secret, bahwa alam ini sebenarnya merespon keinginan kita, sebagai penganut agama tentu saya percaya alam merespon dengan Izin Tuhan. Saat saya membuat kolam-kolaman dengan kreasi sendiri, istri tak setuju, buat apa kolam-kolaman, mendingan bunga aja udah cukup, namun saya tetap melanjutkan karena di pikiran banyak ide mengalir tak terbendung, akhirnya kolam-kolaman jadi saya tanam ikan mas merah, komet, nila merah saya tanam, saya hiasi dengan air mancur melalui sirkulasi dari kolam sendiri. Sekarang, malah istri yang menyirami tanaman, anak saya dengan senang hati setiap hari mengasih makan ikan-ikan dan burung yang saya taruh di atas kolam. Sambil bekerja di FAI Univesitas Garut, sekarang, saya juga sedang merintis lagi satu usaha namanya GARBIZ, keren kan…! sepeertinya bahasa apa tuh Garbiz ? Sssst… jangan ribut itu usaha kecil saya yang insya Allah akan menjadi besar, GarBiz itu singatan dari Garut Bisnis, doakan ya semoga berhasil…saya tak kapok-kapok nih berusaha….kalau ada yang mau kerjasama boleh dong….!, makanya nama saya Alimudin Garbiz, jadi keren nama saya. Belajar dari Orang-orag Sukses, mereka tak mau mundur dengan segala visinya, walau halangan dan rintangan menghadang. mereka cuma berbuat. Ada yang memuji, ada yang mengkritik dan bahkan mencaci, namun mereka jalan terus. Kita menganggap bodoh ide Marzuki Ali yang ingin membubarkan KPK, atau pernyataannya agar kampanye politik dibiayai oleh rakyat, memang nyeleneh, namun, bukankah saat ini pula kampanye politik dibiayai dari uang rakyat juga, hasil korupsi ? terlepas dari itu beliau tetaplah hebat sebagai ketua DPR saat ini, Sekenceng, kencengnya orang mencaci SBY, beliau tetaplah manusia hebat, karena sudah menjadi presiden, Orde Baru dicaci karena berkuasa selama lebih dari 30 tahun, Pak Harto tetaplah orang hebat, karena dia sudah tercatat dalam sejarah panjang Indonesia, begitu pula dengan Gus Dur, Habibi dan Pak Karno, mereka orang-orang hebat yang telah banyak berbuat, terlepas dari berbagai kekurangan yang dimiliki. Kita mencaci mereka, lalu persoalannya, sudah jadi apa kita sekarang…? Jadi apapun yang kita lakukan, selalu ada resiko yang kita ambil, namun jangan takut, berbuatlah,jika kita saat ini menjadi pengangguran, berbuatlah apapun, bantu orang lain, keluarlah dari rumah, berkelilinglah walau dalam keadaan bingung, dalam satu bulan atau bahkan kurang, saya jamin Anda akan dapat kerjaan asal ada kemauan. Begitupun dalam menulis, tak usah takut macam-macam, menulis sajalah, karena yang pantas ditakuti adalah rasa takut itu sendiri. Dipuji, dikritik atau bahkan dicaci adalah bagian dari kehidupan yang haus kita jalani. Saya bercita-cita menjadi penulis yang banyak membuat tulisan, blog, artikel, membuat banyak buku, makanya tips dari teman-teman saya lahap semua, saya menulis apapun yang saya mau, seperti saran teman-teman kepada kami semua, saya ingin menjadi penulis hebat seperti yang banyak bertebaran di kompasiana ini. doakan saya ya….dan saya yakin apalagi Anda semua pasti sudah hebat-hebat….. Dan sekarang, saya membuat tulisan ini, terima kasih jika Anda mau memuji, mengkritik dan bahkan mencaci saya, saya ucapkan terima kasih… Salam Sukses Alimudin Garbiz Bila menang itu merupakan anugerah Allah seubhanahu wata'ala, min haetsu la yahtasib, tak disangka-sangka Bila kalah Alhamdulillah, itu adalah sesuatu yang realistis dan sangat mungkin, Ada kesempatan yang lebih baik lagi Insya Allah.... PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM DALAM AKSELERASI PEMBANGUNAN DI DAERAH Oleh : Prof.Dr.H. Endang Soetari Ad., MSi. 1. PENDAHULUAN Kebijakan pembangunan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa senantiasa berkembang sesuai dengan laju pembangunan dan selalu memperhatikan kondisi daerah dan perkembangan global, terakhir diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kebijakan tersebut seirama dengan pengembangan sistem pemerintahan yang antara lain menggunakan prinsip otonomi daerah, sebagaimana diatur daIam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan kebijakan tersebut maka pembangunan pendidikan lebih mengedepankan prinsip demokratisasi, pemberdayaan dan pembudayaan dalam proses dan mekanisme pemerintahan dan pembangunan yang melibatkan pemerintah baik di pusat maupun di daerah dan atas partisipasi seluruh warga masyarakat. Kebijakan tersebut sesuai dengan sistem pendidikan yang bersifat nasional dan demokratis. Bersifat nasional dalam arti bahwa susunan dan isi pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan bangsa Indonesia, bersifat demokratis dalam arti bahwa pendidikan adalah untuk rakyat secara merata, sehingga pendidikan adalah untuk semua warga bangsa, baik anak-anak, pemuda, orang dewasa, laki-Iaki dan perempuan. Secara historis dan faktual telah berdiri lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat, berupa Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, baik Negeri maupun Swasta. Lembaga pendidikan tersebut berada di bawah pembinaan Departemen Agama, namun oleh regulasi Sistem Pendidikan Nasional dikualifikasi sebagai lembaga pendidikan umum setara dengan lembaga pendidikan yang berada dalam pembinaan langsung Departemen Pendidikan Nasional. Dengan demikian, PerguruanTinggi Agama Islam merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional dan secara fungsional berada di bawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan pendidikan tinggi strategis berupa produktivitas pendidikan. baik sistemnya maupun pencapaian tujuannya bagi peningkatan kualitas masyarakat bangsa Indonesia. Produktivitas pendidikan meliputi keseluruhan proses penataan kelembagaan dan sumber dayanya yang harus mampu melaksanakan fungsi substantifnya untuk mencapai tujuan pembangunan pendidikan secara produktif, efektif dan efisien. Pengembangan perguruan tinggi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek relevansi antara program pengembangan dan tuntutan perubahan masyarakat, hubungan timbal balik antara kedua aspek tersebut mengisyaratkan dinamika perubahan yang semakin kompleks. Sebagai agen perubahan, perguruan tinggi dituntut untuk memainkan fungsi kontrol terhadap dinamika masyarakat yang terus berkembang, sementara masyarakat memberikan umpan balik bagi pengembangan perguruan tinggi. Memasuki abad ke 21 dan menyongsong milenium ketiga terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat langsung dari era globalisasi, sehingga terjadi proses transformasi secara fundamental dalam semua dimensi kehidupan. Hal tersebut melahirkan berbagai tantangan yang sangat serius berupa kompetisi global, dan agar mampu menghadapinya maka perlu sumber daya manusia yang memiliki keunggulan dan berkualitas. Di Jawa Barat terdapat 2 PTAI Negeri, yakni Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Cirebon, terdapat 90-an PTAI Swasta yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Al-Ahwal al-Syakhsiyah, Komunikasi Penyiaran Islam, dan Perbandingan Agama. PTAIS berada di semua Kabupaten dan Kota, masing-masing Kabupaten/Kota lebih dari 1 PTAIS. PTAI tersebut berdiri sejak tahun 1960-an secara berangsur-angsur sampai tahun 2000-an, telah berkiprah dengan proses pendidikan seiring dengan proses pembangunan dan telah mempersembahkan alumni yang diserap oleh kehidupan masyarakat dan pembangunan bangsa. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, perlu dianalisis bagaimana upaya pengembangan lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam di Jawa Barat sejalan dengan kebijakan otonomi dan akselerasi pembangunan daerah di Jawa Barat. 2. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN TINGGI Menghadapi berbagai tantangan masa depan, baik yang berdimensi makro global, berskala mikro nasional, maupun yang berhubungan dengan aspek teknis lokal, maka diperlukan pengembangan pendidikan yang meliputi segala jenis dan jenjang, agar dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dari perspektif tersebut, maka pembangunan pendidikan merupakan agenda nasional yang sangat strategis, mengingat beberapa argumen : (1) pendidikan dimaknai sebagai upaya melakukan investasi sumberdaya manusia yang mempunyai implikasi luas, (2) pendidikan akan melahirkan elit sosial yang menjadi motor kemajuan dan pelopor pembangunan, (3) pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan (4) pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan martabat bangsa. Dalam era reformasi dikembangkan pendidikan yang demokratis, dan demokratisasi pendidikan dijadikan sebagai paradigma baru dalam memperkukuh pendidikan. Demokratisasi pendidikan memberikan ruang publik yang cukup, membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat menjadi subjek yang aktif dalam keseluruhan sistem pendidikan dengan ikut menentukan arah dan kebijakan, merumuskan strategi, sasaran dan tujuan pendidikan serta ikut terlibat aktif dalam implementasinya, sebingga dapat merefleksikan pengakuan adanya potensi dan kekuatan masyarakat yang dapat memperkuat pendidikan. Demokratisasi pendidikan relevan untuk menjawab tuntutan desentralisasi dan otonomi daerah, yakni penyerahan atau pelimpahan sebagian wewenang dari institusi pendidikan ditingkat pusat kepada institusi di tingkat daerah. Pengelolaan pendidikan yang semula terkonsentrasi pada level instansi pusat diderivasi ke level instansi daerah, sejalan dengan kebijakan desentralisasi di bidang pemerintahan yang memberikan otonomi kepada daerah untuk mengurus rumah tangga sendiri. Dalam rumusan kebijakan, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar untuk membantu perkembangan kepribadian dan kemampuan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan ke arah suatu tujuan tertentu. Tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mu1ia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pembaharuan kebijakan pembangunan pendidikan tergambar pada rumusan berbagai prinsip, yakni : (1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai ku1tural dan kemajemukan bangsa, (2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan system terbuka dan multimakna (3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat (4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan. Membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (5) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Visi pembangunan pendidikan nasional adalah "Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”. Sedangkan misinya adalah ''Mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas dan kompetitif dengan adil, bermutu, dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global". Secara umum kebijakan strategis pembangunan pendidikan meliputi: (1) Peningkatan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, (2) Peningkatan mutu dan relevansi dan daya saing pendidikan, dan (3) Peningkatan tata kelola akuntabilitas dan pencitraan publik. Adapun kebijakan pembinaan pendidikan tinggi meliputi pembinaan akademik, kemahasiswaan, kelembagaan, ketenagaan, sarana dan manajemen, Aspek-aspek kebijakan tersebut dirinci dalam rumusan standar, kriteria, pedoman, prosedur pembinaan, pengembangan wawasan dan kemampuan, pemberian bimbingan teknis, supervisi dan evaluasi seluruh aspek pembinaan pendidikan tinggi. Paradigma penyelenggaraan pendidikan tinggi adalah otonomi, mutu pendidikan, akuntabilitas, evaluasi diri dan akreditasi. Fokus pengembangan pendidikan tinggi bertumpu pada paradigma baru yaitu daya saing bangsa, kesehatan organisasi dan otonomi perguruan tinggi yang berpedoman pada kerangka pengembangan pendidikan tinggi. Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, institusi pendidikan tinggi harus menjadi organisasi yang sehat, dan dalam organisasi yang sehat peningkatan mutu berkelanjutan dilakukan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Mutu pendidikan tinggi ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi menetapkan dan mewujudkan visi melalui misi yang harus dilaksanakan dan kemampuan memenuhi kebutuhan stakeholders yang meliputi kebutuhan dunia kerja masyarakat dan kebutuhan profesional. Berdasarkan kebijakan tersebut maka pendidikan tinggi harus mampu menciptakan masyarakat ilmu pengetahuan yang memiliki semangat menghadapi era persaingan baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. Itulah sebabnya pendidikan tinggi harus menyusun kurikulum berbasis kompetensi yang tergambar pada pengelompokan mata kuliah, proses pembelajaran dan evaluasi, pengadaan fasilitas, perubahan perilaku, serta peran dosen dan mahasiswa. Pembelajaran yang efektif memperhatikan orientasi (1) isi materi pembelajaran diarahkan lebih kepada tujuan pencapaian elemen kompetensi, (2) metode pembelajaran lebih banyak kepada student center learning (3) strategi mengajar lebih difokuskan pada memberi bekal how to learn dan method of inquiry, (4) belajar dapat dilakukan di dalam dan di luar kelas atau di dalam dan di luar kampus, dan (5) cara mengevaluasi lebih ditekankan pada evaluasi proses dan hasil terhadap adanya perubahan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Mahasiswa sebagai masyarakat ilmu pengetahuan diharapkan akan menjadi lulusan yang kompeten di bidangnya, sehingga mampu bersaing dalam menghadapi fenomena kehidupan.Oleh karenanya bekal selama mengkonstruksikan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi, tidak hanya pengkayaan isi dari ilmu pengetahuan tersebut, namun mahasiswa perlu pengkayaan dalam cara mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut. Arah dari kebijakan pendidikan tinggi tersebut mencakup (1) strategi perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas dan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan yang menumbuhkembangkan kreativitas, (2) strategi dalam menjalin kemitraan dengan stakeholders untuk menangani program kreativitas mahasiswa dalam rangka mengurangi ketergantungan pada pemerintah (3) program yang tersistem dalam meningkatkan soft skills mahasiswa agar menjadi lulusan yang tangguh dan handal. Strategi pendidikan tinggi untuk menciptakan insan Indonesia cerdas dan kompetitif diakselerasikan dengan peningkatan kapasitas dan modernisasi, penguatan pelayanan dan daya saing baik regional maupun internasional. Kinerja pengembangan pendidikan tinggi dilihat dari angka partisipasi kasar, kapasitas lulusan terhadap dunia kerja, kondisi kampus dalam jenis program studi yang proporsional, kondisi dosen dalam kapasitas keahliannya, perpustakaan, buku teks dan publikasi jurnal yang memadai, dan lain-lain. 3. Kebijakan Pembangunan Daerah Jawa Barat Pola Dasar Pembangunan Daerah Jawa Barat telah mencanangkan visi Jawa Barat, yakni “Jawa Barat dengan iman dan taqwa sebagai propinsi termaju di Indonesia dan Mitra terdepan ibu kota negara tahun 2010". Visi tersebut merupakan hasil dari rangkaian dialog yang dilaksanakan masyarakat dan pemerintah Propinsi Jawa Barat, sehingga upaya pencapaian visi tersebut harus mendapat dukungan dari segenap komponen masyarakat Jawa Barat. Ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia sebesar 80 tahun 2010. IPM merupakan indikator komposit yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia dari aspek pendidikan, kesehatan dan kemampuan ekonomi, maka pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat merupakan faktor strategis dalam mewujudkan visi Jawa Barat. Atas dasar itu, maka ditetapkan visi Pemerintah Propinsi Jawa Barat, yakni "Akselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat guna mendukung pencapaian visi Jawa Barat 2010", melalui berbagai upaya yang lebih keras, cerdas dan terarah dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan lima misi Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Pertama, Peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, yang akan diraih terutama melalui upaya peningkatan pendidikan, kualitas kesehatan dan peningkatan produktivitas masyarakat Jawa Barat. Kedua, Pengembangan struktur perekonomian regional yang tangguh, hal ini diperlukan untuk mencapai peningkatan dan pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat agar memiliki kemandirian, kemampuan dan daya saing dalam menghadapi persaingan global serta mengentaskan masyarakat miskin. Ketiga, Pemantapan kinerja pemerintahan daerah, termasuk di dalamnya pengelolaan aspek politik, hukum dan hak asasi manusia, sehingga diharapkan dapat menjadi pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keempat, Peningkatan implementasi pembangunan berkelanjutan, terutama untuk mengendalikan keseimbangan daya dukung lingkungan dengan jumlah dan persebaran penduduk serta meningkatkan mitigasi bencana alam. Kelima, Peningkatan kualitas kehidupan sosial yang berlandaskan agama dan budaya daerah, yang harus menjadi landasan utama untuk seluruh aspek pembangunan. Kebijakan strategis untuk pembangunan Jawa Barat adalah : (1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta apresiasi terhadap budaya daerah, (2) Memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan dan kesehatan (3) Mendayagunakan penelitian dan ilmu pengetahuan teknologi untuk pembangunan daerah (4) Meningkatkan produktivitas sumber daya manusia (5) Mengembangkan ekonomi daerah melalui pengembangan core business berdasarkan potensi lokal untuk mengurangi disparitas kesejahteraan antar wilayah dan antar golongan (6) Memantapkan infrastruktur wilayah dalam rangka mendukung pemerataan dan pertumbuhan ekonomi (7) Mewujudkan efektivitas dan efisiensi aparatur dalam rangka meningkatkan pelayanan publik (8) Meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah (9) Mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui keseimbangan penduduk dan lingkungan dalam kesatuan ruang (10) Memelihara iklim sosial politik yang kondusif (11) Menguatkan tatanan masyarakat dan lingkungan sosial untuk mendukung terpeliharanya ketertiban umum. Misi Peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia Jawa Barat dengan faktor kunci keberhasilan mengoptimalkan komitmen untuk meningkatkannya, mengisyaratkan bahwa di era persaingan global kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam mencapai tujuan pembangunan. Karena itu program pembangunan manusia menjadi salah satu prioritas agar sumber daya manusia Jawa Barat memiliki produktivitas dan daya saing yang memadai dalam memasuki kancah globalisasi. Pembangunan pendidikan dilakukan secara terintegrasi dengan mengutamakan pembangunan moral berdasarkan agama dan budaya selain meningkatkan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembangunan pendidikan perlu memperhatikan link and match antara dunia pendidikan dengan dunia kerja serta meningkatkan muatan kewirausahaan untuk menciptakan generasi masa datang yang lebih tangguh dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Misi Peningkatan kualitas kehidupan sosial yang berlandaskan agama dan budaya daerah, dengan faktor kunci keberhasilan meningkatkan peran pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi kekuatan pengaruh negatif. Fenomena yang terjadi di seputar kehidupan masyarakat seperti semakin tingginya penyalahgunaan obat terlarang, tingkat kejahatan, penggunaan kekerasan serta penyakit masyarakat lainnya merupakan refleksi kekurangmampuan pemerintah dalam penegakan hukum serta kekurangmampuan masyarakat untuk mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, upaya penegakan hukum dan peningkatan pengamalan ajaran agama dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran agama mempakan alternatif terbaik yang perlu dikedepankan dalam rangka mengatasi berbagai penyakit masyarakat. Sesuai dengan karakteristik masyarakat yang religius, maka program-program sosial, agama dan budaya harus menjadi salah satu prioritas pembangunan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan : (1) Pembangunan bidang sosial, agama dan budaya diperlukan untuk mewujudkan tatanan sosial yang kondusif guna menjamin kesinambungan pembangunan agar tidak terhambat oleh ancaman konflik, kerawanan dan gejolak sosial (2) Pengalaman menunjukkan bahwa program-program pembangunan yang dijalankan melalui pendekatan agama dan budaya daerah dapat lebih diterima masyarakat, (3) Ancaman masuknya nilai-nilai dan budaya asing yang negatif perlu mendapat penanggulangan seeara seksama agar tidak lebih mengikis pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama dan jati diri budaya daerah. Misi meningkatkan kualitas kehidupan sosial yang berlandaskan agama dan budaya daerah berfokus pada pengembangan kesalehan sosial melalui kebijakan peningkatan keimanan dan ketaqwaan yang diwujudkan dengan program peningkatan pemahaman dan pengamalan agama, peningkatan kerukunan hidup beragama, dan pembinaan lembaga sosial keagamaan. Suksesnya pembangunan daerah sangat tergantung pada kesungguhan pemerintah dan partisipasi masyarakat pada keseluruhan proses pembangunan. 4. Problematika Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam Sebagaimana diutarakan terdahulu, bahwa di Jawa Barat terdapat 2 buah Perguruan Tinggi Agama Islam yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan sekitar 90 buah PTAIS yang diselenggarakan oleh masyarakat. Secara kelembagaan PTAI tersebut telah memenuhi ketentuan dasar keberadaannya, sebab diproses melalui syarat dan mekanisme yang ditentukan oleh perundang-undangan. Dalam operasionalisasinya terdapat juga PTAI yang terhambat, tersendat bahkan terhenti, terutama dalam penyelenggaraan Program Studinya. Pada PTAI yang diselenggarakan oleh masyarakat, yakni PTAI Swasta (PTAIS), mayoritas berupa Program Studi Pendidikan Agama Islam, kemudian Program Studi tertentu dari Fakultas Syari'ah, Dakwah dan Ushuluddin. Permasalahan yang dialami oleh PTAIS meliputi infrastruktur, mahasiswa, pembiayaan, proses akademik, dan kualitas lulusan. Dari segi inftastruktur, walaupun Pada umumnya PTAIS telah memiliki kampus, namun bervariasi antara yang berada di tanah milik dilengkapi dengan bangunan dan sarana yang memadai, namun ada juga yang masih menyewa, atau di kampus sendiri namun sarananya masih sederhana dan terbatas. Kampus PTAIS yang berada di Pondok Pesantren sangat ideal, namun mahasiswa yang mondok di Pesantren terbatas jumlahnya. Kampus PTAIS rata-rata dilengkapi dengan Perpustakaan namun bervariasi antara yang banyak dan sedikit buku pustakanya. Sedangkan laboratorium, baik Micro Teaching, Komputer atau Bahasa, rata-rata masih terbatas, bahkan ada yang belum memiliki. Dari segi mahasiswa, rata-rata Program Studi PTAIS kecil sekali animonya, apalagi yang selain Prodi PAI, sehingga kualitas in put tidak bias diseleksi. Penurunan penerimaan mahasiswa terjadi di semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, hal tersebut karena angka partisipasi kasar nasional masih rendah, sementara PTN memperluas Program Studi yang menyedot animo yang biasa masuk PTAIS, dan jumlah PTAIS makin banyak. Salah satu implikasi dari kondisi ini, maka sementara PTAIS membuka kelas jauh untuk mengejar animo dengan mendekatkan jarak antara mahasiswa dengan kampus. Dampak Dari kecilnya jumlah penerimaan mahasiswa maka mengakibatkan sulitnya pembiayaan PTAIS, sebab rata-rata pembiayaan PTAIS tergantung pada dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Sedikit sekali, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada, PTAIS yang mempunyai sumber lain yang menjadi kiprah usahanya untuk membiayai program akademik. Bantuan dari Pemerintah belum terbuka, walau dari segi equity, harusnya Pemerintah menyetarakan anggaran bagi perguruan tinggi negeri dan swasta. Terdapat PTAIS yang secara berkala mendapat alokasi anggaran dari Pemerintah Daerah setempat, terutama yang secara historis kelembagaannya dibidani oleh Pemerintah Daerah. Dari problematika sarana yang terbatas, input mahasiswa yang kecil, jumlah biaya yang tidak memadai, berimplikasi pada problematika proses akademik. Dari segi kurikulum ditempuh pengurangan sks sampai batas yang limitatif, dari segi hari perkuliahan dikurangi jumlahnya perminggu, rekruting dosen terbatas pada pemenuhan kebutuhan pokok, tidak mustahil terjadi penyederhanaan dalam proses perkuliahan dan ujian. Yang pasti, darma penelitian masih sangat terabaikan, kecuali dalam penelitian skripsi yang dilakukan mahasiswa. Begitu juga Kuliah Kerja Nyata atau yang sejenisnya sebagai salah satu program untuk darma pengabdian kepada masyarakat, ditunaikan dalam porsi yang terbatas. Dalam pada itu PTAIS justru menikmati keterbatasan, walaupun tidak tersedia sarana dan dana yang banyak namun tetap berjuang maksimal dalam proses akademik melalui mekanisme yang sesuai dengan standar regulasi untuk mengantarkan para mahasiswa menjadi alumni yang memenuhi kompetensinya. Problematika di atas berimplikasi bagi masalah kualitas yang belum optimal, baik kualitas kelembagaannya maupun kualitas lulusan yang menjadi out put PTAIS. Namun patut disyukuri bahwa berdasarkan basil akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, PTAIS mendapat akreditasi yang tidak buruk, walau belum banyak yang mendapat akreditasi puncak, rata-rata sedang-sedang saja, antara B dan C. Begitu juga lulusan PTAIS, rata-rata mendapat job di masyarakat karena mayoritas adalah Guru Agama yang sudah mendapat status sebelum masuk kuliah atau mendapat tugas setelah lulus, baik sebagai guru, mubalig, pimpinan organisasi Islam, kader politik dan lain-lain. Memang masih banyak alumni yang berorientasi untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil baik di lingkungan Depertemen Agama atau Departemen lain dan Pemerintah Daerah. Mereka menekuni proses testing yang sudah berulang-ulang namun banyak yang sambil menjadi Guru Honorer. 5. Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam di Jawa Barat Berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam di Jawa Barat merupakan kehendak yang datang dari umat dan ulama berupa harapan maju dalam kehidupan agama Islam yang sinkron dengan program dari pemerintah untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian khidmah manusia pada fungsi ibadah dan khilafah dalam mekanisme sunnatullah fil ardhi. Keberadaan PTAIS merupakan perpaduan motivasi antara social demand man power planning dan theological message dalam akselerasi pembangunan menuju kesejahteraan masyarakat. Didorong oleh motivasi tersebut, maka PTAI mencanangkan tujuan yang berorientasi pada tujuan yang ditetapkan oleh regulasi sistem pendidikan nasional yakni : (1) Menyiapkan peserta didik yang memiliki karakteristik keagungan akhlak, kearifan spiritual, keluasan ilmu dan kematangan professional, (2) Mengembangkan penelitian bagi pengembangan proses dan produk ilmu agama Islam secara monodisiplin dan interdisiplin yang terpadu dengan nilai-nilai Islami dan tanggung jawab sosial, (3) Menyebarluaskan ilmu agama Islam dan ilmu lain yang terpadu dengan nilai-nilai Islami serta mengupayakan penggllnaannya untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Pengembangan tujuan PTAI harus mengarah pada upaya menghasilkan lulusan yang memiliki mutu kompetensi yang diakui luas dan memiliki daya saing tinggi serta mampu berkiprah dalam kehidupan masyarakat. Kompetensi lulusan bersifat komprehensif namun dengan penekanan pada kompetensi tertentu berhubung dengan perbedaan program studio Kompetensi tersebut meliputi kompetensi akademik, intelektual, profesional, kepemimpinan dan spiritual. Kompetensi akademik adalah kapasitas dan kewenangan dalam pemahaman teori keilmuan, kompetensi intelektual adalah kemahiran dalam problem solving atas suatu masalah berdasarkan teori yang relevan melalui analisis pemecahan masalah yang akurat Kompetensi profesional merupakan keterampilan mengimplementasikan teori dan ilmu pada kehidupan sehari-hari. Kompetensi kepemimpinan adalah kemampuan pengambilan keputusan dalam setiap aktivitas pembangunan. Adapun kompetensi spiritual adalah kapasitas diri sebagai insan yang beriman dan bertaqwa untuk membingkai kapasitas kesarjanaannya. Indikator mutu lulusan yang harus dikejar adalah diakui setara dengan lulusan perguruan tinggi terkemuka, dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi mana pun tanpa syarat, mampu bersaing dalam mengisi lapangan kerja profesional, dan dapat memainkan peran strategis dan konstruktif dalam kehidupan masyarakat modem. Atas dasar itu, maka pengembangan PTAI merupakan keniscayaan yang harus ditunaikan dengan memperhatikan prinsip bahwa setiap kebijakan dan usaha pendidikan tinggi dipandang sebagai investasi hanya jika menghasilkan lulusan yang bermutu, dan prinsip bahwa pelaku utama pendidikan tinggi adalah dosen yang mengajar dan mahasiswa yang belajar dengan wahana pertemuannya di kampus. Untuk mengadakan pengembangan, semua PTAI harus melakukan analisis tentang kondisi positif dan negatif masing-masing PTAI baik internal maupun ekstemal, yang biasa disebut dengan analisis SWOT, sehingga diketahui faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dirumuskan visi, misi, strategi, kebijakan, sasaran dan program pengembangan yang berlaku untuk kurun waktu tertentu, misalnya 5 tahun. Visi merupakan pandangan dan jangkauan ke depan untuk jangka waktu tertentu yang secara substantif meliputi esensi Islam, ilmu dan pembangunan, dan secara dinamik meliputi proses pencerahan (enlighting) dan pemberdayaan (empowerment) untuk peningkatan kualitas dan keunggulan, sehingga diharapkan menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif pada tingkat regional, nasional dan global dalam mengembangkan sumber daya manusia, ilmu agama Islam dan nilai-nilai Islami untuk disumbangkan bagi pembangunan masyarakat bangsa yang lebih terbuka dan demokratis. Untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. maka PTAI harus merumuskan misi yang merupakan perpaduan antara tujuan dan fungsi kelembagaan. Misi seyogyanya meramu benang merah antara pemahaman, pengamalan dan pengembangan Islam dalam kehidupan, yakni tathim, tathbiq dan tadbir. Menyiapkan tenaga ahli yang berakhlak mulia untuk menjaga warga masyarakat yang berkualitas dan mandiri serta mampu menemukan, mengembangkan dan menerapkan ilmu dan teknologi. Untuk merealisasikan visi dan misi harus dirumuskan kebijakan berupa prinsip dinamika yang sistemik yang menjadi acuan umum program pengembangan.Pada kondisi sekarang kebijakan yang relevan untuk ditempuh oleh PTAI antara lain : (1) Pengembangan paradigma keilmuan yang mewujudkan keterpaduan iman taqwa, ilmu pengetahuan, teknologi dan sem, (2) Pengembangan kinerja kelembagaan, ketenagaan, dan seluruh aspek substansi akademik, dan (3) Pengembangan akreditasi dalam kualitas, relevansi, efisiensi dan perluasan kesempatan. Sedangkan dalam strategi pengembangan perlu memperhatikan (1) Deregulasi pedoman untuk akselerasi peningkatan mutu pendidikan tinggi, (2) Penataan dan fungsionalisasi institusi bagi efektifitas pencapaian tujuan sejalan dengan semangat reformasi, (3) Peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga terwujud tenaga yang produktif, bersih, berwibawa dan berakhlak mulia, (4) Peningkatan kualitas akademik dan kemahasiswaan sebagai tanggung jawab kompetensi, (5) Otonomi dan transparansi penyelenggaraan Sctrta debirokratisasi mekanisme kegiatan dan pelayanan dengan efisiensi~ efektivitas, akuntabilitas dan akreditas, dan (6) Pembinaan suasana ketaqwaan, keilmuan dan ukhuwah. Dalam upaya mewujudkan pengembangan tersebut dirumuskan program dalam aspek-aspek yang dikualifikasi berdasarkan faktor penentu keberhasilan (key success factor) : kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, pendidika perpustakaan, penelitian, pengabdian, kemahasiswaan, manajemen, sarana dan dana. Pengembangan kelembagaan meliputi peningkatan bentuk dan status perguruan tinggi penataan fakultas dan jurusan, penambahan jenis dan jenjang program studi keahlian dan profesional, dan peningkatan akreditasi program studi Pengembangan ketenagaan berupa peningkatan kuantitas dan kualitas dosen, pegawai dan pimpinan dengan rekruting tenaga, penempatan yang tepat, penugasan studi lanjut penyelenggaraan pelatihan teknis manajemen dan kepemimpinan. Pengembangan akademik dimulai dengan pengembangan kurikulum agar semakin mantap berkembang dan terarah sesuai dengan kompetensi serta tinggi relevansinya dengan dasar-dasar ilmu ke-Islaman, kehidupan dan lapangan kerja. Pengembangan pembelajaran dilakukan dengan intensifikasi proses perkuliahan, praktikum, penulisan karya ilmiah dan ujian, sesuai dengan pedoman akademik dan diselenggarakan secara seksama oleh para dosen dengan pelayanan yang maksimal dari karyawan dan koordinasi pimpinan. Pengembangan perpustakaan dilakukan dengan menambah buku pustaka dan meningkatkan kelancaran pelayanannya bagi civitas akademika, yakni dengan pembelian buku, langganan jurnal. dan inovasi pelayanan melalui teknologi informasi pustaka. Pengembangan penelitian dilakukan dengan melipatgandakan jumlah penelitian dengan metodologi dan kualitas penelitian yang memadai. Serta meningkatkan informasi dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian. Pola penelitian, baik untuk mahasiswa maupun dosen disesuaikan dengan pengembangan keilmuan. Jumlah penelitian ditingkatkan dengan mengakses program dari berbagai lingkungan baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah atau institusi swasta. Pemanfaatan hasil penelitian digunakan untuk menggalakkan diskusi dan seminar serta untuk penerbitan jural dan buku daras. Pengabdian kepada masyarakat dikembangkan dengan pendalaman, pengamalan dan pengembangan ilmu agama Islam dalam realitas sosial. seperti kuliah kerja nyata. bakti sosial. dakwah, dan desa binaan. sebagai media partisipasi pembinaan lingkungan kampus dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan kemahasiswaan berupa pembinaan akhlak. kepemimpinan dan kreatifitas dalam natar. bakat minat dan kesejahteraan secara terpadu dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstra kurikuler yang ditangani melalui kerjasama antara seluruh unsur civitas akademika. Pengembangan manajemen diharapkan untuk mewujudkan efektivitas Program melalui mekanisme proses dan fungsi perencanaan, pelaksanaan..kerjasama. koordinasi dan pengawasan. Inovasi manajemen dicirikan dengan digunakannya sistem informasi manajemen berbasis teknologi informasi komunikasi. dan dengan makin luasnya jejaring. Adapun pengembangan sarana dan dana adalah dengan menggali sumber dana, baik dari intern kampus maupun dari luar, terutama dengan program kerjasama yang dapat mengakses bantuan dana, terutama dengan Pemerintah Daerah. Target hasil perubahan dengan pengembangan PTAI adalah (1) Lulusan program studi setara dengan lulusan serupa dari perguruan tinggi terkemuka (2) Lulusan dapat melanjutkan tanpa syarat ke jenjang lebih tinggi pada perguruan tinggi manapun (3) Bertambahnya mobilitas lulusan dalam mengisi lapangan pekerjaan profesional (4) Adanya hasil penelitian dan karya ilmiah yang lebih bervariasi, menyentuh realitas kehidupan (5) Keberpihakan program dan budget untuk PTAIS meningkat (6) Manajemen pembinaan lebih efektif dan efisien. Sesuai dengan target tersebut, maka sasaran utama pengembangan adalah mahasiswa, dosen, proses pendidikan dan manajemen. ltulah sebabnya fungsi pelayanan birokrasi untuk civitas akademika dan alokasi dana pengembangan ditujukan untuk mahasiswa, dosen, proses pendidikan dan manajemen. Pelayanan pemerintah tidak diskrimantif antara PTAIN dan PTAIS, dukungan dan fasilitas diberikan kepada program perguruan tinggi yang mengutamakan peningkatan mutu. Perlu dicari perumusan strategi kebijakan yang bersifat terobosan, umpamanya (1) mengganti regulasi, personil dan program yang sudah tidak efektif dan tidak konsisten dengan tujuan, (2) mengurangi beban dengan merasionalisasi bobot kurikulum dan jumlah program studi (3) merubah beban menjadi energi dan meningkatkan citra dengan program bernilai unggul dan modem. Atas dasar itu maka untuk pengembangan PTAI dibuat program unggulan (1) pengembangan budya akademik (2) peningkatan mutu dosen (3) peningkatan mutu layanan akademik langsung bagi mahasiswa (4) pengembangan sarana, dukungan dan beasiswa. Dalam program pengembangan budaya akademik perIu dilakukan kegiatan penataan ulang statuta, standarisasi program studi, standarisasi kompetensi lulusan dan sistem ujian, penataan ulang disiplin ilmu, peningkatan mutu penelitian dan pengabdian, dan peningkatan jaringan kerja sarana akademik. Untuk peningkatan mutu dosen perIu ditempuh program beasiswa studi lanjut, kajian ilmu dan program sertifikasi, pembibitan calon dosen, promosi karir dosen berprestasi, peningkatan kesejahteraan dosen. Peningkatan mutu layanan akademik bagi mahasiswa berupa beasiswa, peningkatan visi, wawasan dan keterampilan manajemen. dan intelektual mahasiswa, bimbingan karir dan pendidikan lanjutan. Untuk peningkatan sarana, dukungan dan beasiswa diusahakan bantuan biaya pendidikan, bantuan program peningkatan mutu, bantuan perpustakaan, bantuan teknologi pembelajaran, bantuan pembangunan dari pemerintah daerah, dan pemanfaatan hibah atau pinjaman luar negeri. Berdasarkan ungkapan di atas, maka perIu dirumuskan berbagai crash program sebagai upaya optimalisasi peran dan fungsi PTAI bagi proses pembangunan di daerah dan dijalin kerja sama antara PTAI dan Pemerintah Daerah dalam program-program pendidikan dan ke-Islaman yang dapat mengakselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pendidikan tinggi Islam di daerah. Sumber Rujukan : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. Keputusan Menteri Agama RI No. 486 Tahun 2003 tentang "Statuta lAIN Sunan Gunung Djati Bandung" 4. Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI, "Kebijakan Pengembangan Pendidikan Tinggi" 5. Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, ''Kebijakan Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam" 6. Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat, "Pola Dasar Pembangunan Daerah Jawa Barat" 7. BAPEDA Propinsi Jawa Barat, "Akselerasi Pembangunan Pendidikan di Jawa Barat" 8. lAIN Sunan Gunung Djati Bandung, "Tasyakur Pengembangan lAIN Sunan Gunung Djati Bandung" 9. Pusat Penelitian lAIN Sunan Gunung Djati Bandung, "Pengembangan Perguruan Tinggi Menghadapi Milenium III" 10. IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, "Rencana Strategis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung" Riwayat Hidup Nama Lengkap : Prof. Dr. H. Endang Soetari Adiwikarta., M.Si Tempat Tanggal Lahir : Ciamis, 11 Agustus 1945 Jabatan : Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gun ung Djati Bandung Ketua Konsentrasi Studi Hadits Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Rektor Universitas Garut (UNIGA) Alamat : Pondok Amal Bakti : · Gombong Layang Cipadung Bandung. · Muncang Pandak Pamulihan Sumedang · Dayeuh Sarakan Cinyasag Ciamis Tlp (022) 7831047, 7801907, 7831046, 7812703 Fax 7831047. HP. 0816620169 email: amalbakti@plasa.com PENDIDIKAN : 1. Sekolah Rakyat Negeri (SRN Cinyasag Ciamis, 1957 2. Pendidikan Guru Agama Negeri (PGASN) Cirebon, 1961 3. Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta, 1964 4. Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1974 5. Program Magister (S2) Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 1996 6. Program Doktor (S3) Ilmu Administrasi, Universitas Padjajaran (UNPAD), 2003 KEDUDUKAN POTENSIALITAS MANUSIA SEBAGAI MAHLUK DAN RELASI ANTARA CIPTAAN DAN PENCIPTA Oleh : Andri M. Nuroni, SE. MSi. Abstrak: Tulisan ini membahas tentang kedudukan potensialitas manusia sebagai mahluk dan relasi antara ciptaan dan pencipta yang memberi corak khusus pada eksistensi manusia. Dalam artian manusia tidak sendirian dalam menjalani hidupnya. Ia ada dalam kaitannya dengan mahluk lain dan juga tuhan sebagai khalik-Penciptaannya. Makna hidup manusia harus dicari dalam relasinya terhadap pencipta yaitu Allah SWT dan manusia sebagai mahluk mempunyai misi hidup mentaati suruhan-Nya dan menghindari larangan-Nya dengan suatu kewajiban pokok menyembah Tuhannya. Potensialitas yang dimiliki manusia harus teraktualisasikan dalam kehidupan sebagaimana diketahui bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lainnya. Kelebihan-kelebihan tersebut karena manusia mempunyai beberapa potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia. Potensi-potensi itu dapat diaktualisasikan dalam kehidupan melalui proses pendidikan. Dan pengertian pendidikan disini bersifat umum tidak hanya pendidikan formal dan nonformal tetapi pendidikan seumur hidup yang berlaku baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat karena proses belajar untuk mencapai kebaikan itu berlaku selamanya sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan untuk mencari ilmu mulai dari buaian sampai dengan liang kubur. Kata kunci: Potensi, Aktualisasi dan Implementasi. Pendahuluan Manusia merupakan makhluk yang menempati posisi istimewa di dunia ini. Manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi (QS. al-Baqarah, 2:30) dan diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. al-Tin, 95:4). Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. Al-Ahzab, 33:72) Manusia terdiri dari dua substansi; pertama, substansi jasad/materi yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta), kedua, substansi immateri/nonjasadi, yaitu peniupan ruh ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah. Dari kedua substansi tersebut maka yang paling esensial adalah substansi immateri atau ruhnya. Manusia yang terdiri dari dua substansi itu telah dilengkapi dengan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar yang harus diaktualkan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak di akherat. Coba bayangkan seorang manusia, dalam hal ini Adam a.s., diciptakan semata-mata untuk menjadi pengganti-Nya di dunia dan dipercayakan kepadanya amanah Tuhan di mana langit dan bumi serta gunung menyatakan diri tidak sanggup menerimanya. Bahkan para malaikatpun pernah diperintahkan Tuhan untuk bersujud kepada Adam a.s. Inilah martabat yang sangat tinggi yang Tuhan karuniakan kepada manusia, dan tentu saja harus menjadi pilar utama aktualisasi pendidikan sekarang ini. Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk mengungkapkan hakekat manusia, potensi-potensi apa saja yang dimiliki manusia, bagaimana mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut dan bagaimana mengimplementasikan pendidikan agama Islam. Pendidikan Kita tahu bahwa ada banyak definisi pendidikan. Ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai hal yang sangat penting, sehingga banyak pihak yang merasa perlu untuk memberikan definisi dan pengertian. Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah pedagogik, yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Para ahli pendidikan menemui kesulitan dalam merumuskan definisi pendidikan Kesulitan itu antara lain disebabkan oleh banyaknya jenis kegiatan serta aspek kepribadian yang dibina dalam kegiatan ini. JOE Park umpamanya merumuskan pendidikan sebagai the art or process of imparting or acquiring knowledge and habit through instructional as strudy. Di dalam definisi ini tekanan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran (instruction). Sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan. Theodore Mayer Grene mendefinisikan pendidikan dengan usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan bermakna. Di dalam definisi ini aspek pembinaan pendidikan lebih luas. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya. Pendidikan dalam Islam lebih banyak dikenal dengan menggunakan istilah al-tarbiyah, al-ta`lim, al-ta`dib dan al-riyadah. Setiap terminologi tersebut mempunyai makna yang berbeda satu sama lain, karena perbedaan teks dan kontek kalimatnya dan pendidikan Islam memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan pengertian pendidikan secara umum. Beberapa pakar pendidikan Islam memberikan rumusan pendidikan Islam, diantaranya Yusuf Qardhawi, mengatakan pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam keadaan aman maupun perang, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya. Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Sedangkan Endang Syaifuddin Anshari memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi) dan raga obyek didik dengan bahan-bahan materi tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam. Dari uraian di atas, dapat dilihat perbedaan-perbedaan antara pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam. Perbedaan utama yang paling menonjol adalah bahwa pendidikan Islam bukan hanya mementingkan pembentukan pribadi untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga untuk kebahagiaan akhirat. Selain itu pendidikan Islam berusaha membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-ajaran Islam. Potensi Manusia Potensi manusia dijelaskan oleh al-Qur`an antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS. al-Baqarah, 30-39). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sebelum kejadian Adam, Allah telah merencanakan agar manusia memikul tanggungjawab kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di samping tanah (jasmani) dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani), makhluk ini dinaugerahi pula potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam, pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan Iblis dan akibat buruknya, dan petunjuk-petunjuk keagamaan. Agama yang bersumber dari Tuhan dan sarat dengan ajaran dan nilai-nilai fundamental yang menjadii pegangan hidup bagi manusia, ternyata tidak bisa lepas dari persoalan interpretasi, yang pada gilirannya memunculkan keragaman pandangan. Interpretasi ini merupakan manifestasi dari keinginan seseorang untuk memahami dan memperkokoh keyakinan akan kebenaran agamanya melalui aktualisasi potensi-potensinya, baik aspek nafsiyah, yakni keseluruhan kualitas insani yang khas milik manusia, yang mengandung dimensi al-nafs, al-'aql, dan al-qalb, maupun aspek ruhaniyah, yakni keseluruhan potensi luhur psikis manusia yang memancar dari dimensi al-ruh dan al-fithrah. Potensi manusia dapat dibedakan dalam dua pendekatan. Pertama, Potensi fithrahi-huluqi atau potensi yang didasarkan pada hakekat penciptaan, bahwa: a. Manusia memiliki kesanggupan besar untuk mengurus alam dengan memikul amanah yang besar setelah teruji lebih hebat daripada seluruh makhluk materi, langit, bumi, gunung (QS. al-Ahzab, 33:72) bahkan malaikat dan jin (QS. al-Baqarah, 2:30-33). b. Dengan potensi besar tersebut manusia diberikan kedudukan yang tertinggi yang belum pernah dinyatakan oleh siapapun selain Allah, yakni khalifah fi al-ardh (QS. al-Baqarah, 2:30-33) c. Kedudukan tersebut dimotivasikan dengan dasar yang amat kuat, yakni melayani Allah berupa kewajiban beribadah (QS.al-Dzariyat, 51:56) dan melayani manusia serta pemakmur bumi. d. Untuk mendukung hal tersebut, manusia diberikan perangkat yang paling canggih, yakni ruhani, aqal, jasad, fithrah, dan nafs. Sebagai makhluk fi ahsani taqwim (QS.al-Tin, 95:4). e. Seluruh tugas tersebut diberikan fasilitas yang memadai yakni bumi sebagai warisan dan rezeki untuk hidup layak serta al-huda sebagai pedoman dan Rosulullah sebagai tauladan (QS. al-Ahzab, 33:21). f. Manusia memiliki kelemahan umum seperti; tergesa-gesa, mudah keluh kesah, lemah, mudah merasa puas, dan takabur. g. Manusia memiliki sifat-sifat utama; sabar, tawakal, bersyukur, iman, taqwa, adl, ihsan. Kedua, Potensi basyari, yakni potensi yang dimiliki oleh seseorang yang membedakannya dari orang lain. Potensi ini menjadikan seseorang unik dan memiliki keutamaan-keutamaan tertentu. Hal ini terjadi karena empat hal; pertama, bakat atau kecenderungan, kedua, usaha, hasil belajar dan pengembangan diri, ketiga, adanya kesempatan atau peluang yang tersedia dan keempat, takdir (faktor eksternal yang ghaib). Ada empat potensi basyari, yakni; Pertama, potensi aktual atau kasat mata yaitu potensi yang secara mudah dapat dikenali melalui pengamatan sekilas berdasarkan ciri-ciri fisik ataupun perbuatan yang tampak. Potensi ini bisa langsung dimanfaatkan seketika, tanpa harus sulit memunculkannya. Kedua, potensi laten yaitu potensi yang kadang muncul apabila ada kesempatan yang merangsangnya, tetapi tidak juga muncul apabila terbiarkan. Untuk memunculkannya perlu latihan dan peluang yang cukup. Ketiga, potensi tersamar, yaitu potensi yang tertutup karena adanya kelemahan tertentu atau adanya salah tempat atau tersia-siakannya karena mengerjakan hal lainnya, yang boleh jadi merusak potensi yang utamanya. Untuk memunculkannya perlu penelusuran secara lebih mendalam oleh spesialis tertentu, serta perlu memperoleh proses pembelajaran dan pengaktifan yang khusus. Keempat, potensi rahasia yaitu potensi yang kita tidak pernah akan tahu kecuali sesuatu hal yang istimewa terjadi atau adanya pertolongan Allah, untuk memunculkannya memerlukan kedekatan dengan Allah dan menyerahkannya kepada izin Allah. Begitu tingginya derajat manusia, maka dalam pandangan Islam, manusia harus menggunakan potensi yang diberikan Allah kepadanya untuk mengembangkan dirinya baik dengan panca inderanya, akal maupun hatinya sehingga benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Aktualisasi Potensi Melalui Pendidikan Manusia merupakan makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifah Allah dan Abdullah (hamba Allah). Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Hasan Langgulung mengatakan, potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah. Sejalan dengan itu, Zakiyah Darajat mengatakan, bahwa potensi dasar tersebut berupa jasmani, rohani, dan fitrah namun ada juga yang menyebutnya dengan jismiah, nafsiah dan ruhaniah. Aspek jismiah Aspek jismiah adalah keseluruhan organ fisik-biologis, serta sistem sel, syaraf dan kelenjar diri manusia. Organ fisik manusia adalah organ yang paling sempurna diantara semua makhluk. Alam fisik-material manusia tersusun dari unsur tanah, air, api dan udara. Keempat unsur tersebut adalah materi dasar yang mati. Kehidupannya tergantung kepada susunan dan mendapat energi kehidupan yang disebut dengan nyawa atau daya kehidupan yang merupakan vitalitas fisik manusia. Kemampuannya sangat tergantung kepada sistem konstruksi susunan fisik-biologis, seperti; susunan sel, kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf sentral, urat, darah, tulang, jantung, hati dan lain sebagainya. Jadi, aspek jismiah memiliki dua sifat dasar. Pertama berupa bentuk konkrit berupa tubuh kasar yang tampak dan kedua bentuk abstrak berupa nyawa halus yang menjadi sarana kehidupan tubuh. Aspek abstrak jismiah inilah yang akan mampu berinteraksi dengan aspek nafsiah dan ruhaniah manusia. Aspek nafsiah Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas insaniah yang khas dimiliki dari manusia berupa pikiran, perasaan dan kemauan serta kebebasan. Dalam aspek nafsiah ini terdapat tiga dimensi psikis, yaitu dimensi nafsu, ‘aql, dan qalb. Dimensi nafsu merupakan dimensi yang memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam sistem psikis manusia, namun dapat diarahkan kepada kemanusiaan setelah mendapatkan pengaruh dari dimensi lainnya, seperti ‘aql dan qalb, ruh dan fitrah. Nafsu adalah daya-daya psikis yang memiliki dua kekuatan ganda, yaitu daya yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan mencelakakan (daya al-ghadabiyah) serta daya yang berpotensi untuk mengejar segala yang menyenangkan (daya al-syahwaniyyah). Dimensi akal adalah dimensi psikis manusia yang berada diantara dua dimensi lainnya yang saling berbeda dan berlawanan, yaitu dimensi nafsu dan qalb. Nafsu memiliki sifat kebinatangan dan qalb memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita-rasa. Akal menjadi perantara diantara keduanya. Dimensi ini memiliki peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniah pada diri manusia. Dimensi qalb memiliki fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta seperti berpikir, memahami, mengetahui, memperhatikan, mengingat dan melupakan. Fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa seperti tenang, sayang dan fungsi konasi yang menimbulkan daya karsa seperti berusaha. Aspek ruhaniah Aspek ruhiyah adalah keseluruhan potensi luhur (high potention) diri manusia. Potensi luhur itu memancar dari dimensi ruh dan fitrah. Kedua dimensi ini merupakan potensi diri manusia yang bersumber dari Allah. Aspek ruhaniyah bersifat spiritual dan transedental. Spiritual, karena ia merupakan potensi luhur batin manusia yang merupakan sifat dasar dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Bersifat transidental, karena mengatur hubungan manusia dengan yang Maha transenden yaitu Allah. Fungsi ini muncul dari dimensi fitrah. Dari penjabaran diatas, dapat disebutkan bahwa aspek jismiah bersifat empiris, konkrit, indrawi, mekanistik dan determenistik. Aspek ruhaniah bersifat spiritual, transeden, suci, bebas, tidak terikat pada hukum dan prinsip alam dan cenderung kepada kebaikan. Aspek nafsiah berada diantara keduanya dan berusaha mewadahi kepentingan yang berbeda. Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan diembannya dapat terwujud. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang. Pada hakikatnya, proses pendidikan merupakan proses aktualisasi potensi diri manusia. Sistem proses menumbuhkembangkan potensi diri itu telah ditawarkan secara sempurna dalam sistem ajaran Islam, ini yang pada akhirnya menyebabkan manusia dapat menjalankan tugas yang telah dibebankan Allah. Aspek rohaniah-psikologis inilah yang dicoba didewasakan dan di-insan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi positif dalam pembangunan kehidupan yang berkeadaban. Dari pemikiran ini, maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil). Implementasi Pendidikan Agama Islam Secara normatif, Islam telah memberikan landasan kuat bagi pelaksanaan pendidikan. Pertama, Islam menekankan bahwa pendidikan merupakan kewajiban agama dimana proses pembelajaran dan transmisi ilmu sangat bermakna bagi kehidupan manusia (QS. Al-‘Alaq, 96:1-5). Kedua, seluruh rangkaian pelaksanaan pendidikan adalah ibadah kepada Allah SWT (QS. Al-Hajj, 22:54). Sebagai sebuah ibadah, maka pendidikan merupakan kewajiban individual sekaligus kolektif , Ketiga, Islam memberikan derajat tinggi bagi kaum terdidik, sarjana maupun ilmuwan (QS. Al-Mujadalah, 58:11, al Nahl, 16:43). Keempat, Islam memberikan landasan bahwa pendidikan merupakan aktivitas sepanjang hayat. (long life education). Sebagaimana Hadist Nabi tentang menuntut ilmu dari sejak buaian ibu sampai liang kubur). Kelima, kontruksi pendidikan menurut Islam bersifat dialogis, inovatif dan terbuka dalam menerima ilmu pengetahuan baik dari Timur maupun Barat. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW tidak alergi untuk memerintahkan umatnya menuntut ilmu walau ke negeri Cina. Pelaksanaan pendidikan dikenal oleh para pakar pendidikan tidak hanya pendidikan formal berupa sekolah atau madrasah tetapi ada istilah pendidikan seumur hidup yaitu sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi pendidikan seumur hidup mencakup dan memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi). Pendidikan seumur hidup mencakup pola-pola pendidikan formal maupun pola-pola pendidikan non fomal, baik kegiatan-kegiatan belajar terencana maupun kegiatan-kegiatan belajar insidental. Penutup Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan makhluk sempurna yang memilki kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Salah satu kelebihan tersebut adalah karena manusia dipilih oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Dipilihnya manusia karena memiliki beberapa potensi dalam dirinya. Potensi-potensi tersebut baik berupa aspek nafsiyah, yakni keseluruhan kualitas insani yang khas milik manusia, yang mengandung dimensi al-nafs, al-`aql dan al-qalb, maupun aspek ruhaniyah, yakni keseluruhan potensi luhur psikis manusia yang memancar dari dimensi al-ruh dan al-fithrah. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Sistem proses menumbuhkembangkan potensi diri itu telah ditawarkan secara sempurna dalam sistem ajaran Islam, ini yang pada akhirnya menjadikan manusia dapat menjalankan tugas yang telah diamanahkan Allah. DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Andri Muhamad Nuroni Tempat dan Tanggal Lahir : Garut, 10 Pebruari 1979 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Status Perkawinan : Kawin Alamat : Perum Oma Indah A2.10 No Tlp : (0262) 4715380 Pekerjaan : PD. III Bidang Kemahasiswaan FE. UNIGA PENDIDIKAN FORMAL - 1991 Lulus SDN Gagaklumayung 2 Garut - 1994 Lulus SMPN 3 Garut - 1997 Lulus SMAN 2 Garut - 2002 Lulus FE. UNIGA Garut PENDIDIKAN NON FORMAL - Pelatihan untuk Pelatih dosen pembimbing kemahasiswaan - Pelatihan pengembangan kewirausahaan - Training of trainer program SCBD - Pilot testing ORGANISASI 2000 Ketua Senat Mahasiswa FE. UNIGA 2001 Pengurus Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia 1997 Salah Satu Pendiri Yayasan KEKER GUPAI CADAS 1998 Salah Satu Pendiri Yayasan Mentari Indonesia PERANAN MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN USIA DINI Oleh : Aja Rowikarim, M. Ag Abstrak: Masayarakat merupakan kelompok-kelompok manusia yang saling terkait oleh sistem-sistem, hukum-hukum, adat istiadat, ritus-ritus dan konvensi-konvensi serta hidup bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu. Dalm lingkup luas ia dapat berupa bangsa, suku bahkan kota ataupun desa, sedangkan dalam lingkup yang lebih kecil lagi, ia dapat berwujud sebagai lembaga-lembaga kemasyarakatan (pranata sosial) yang jumlahnya sangat banyak dan sangat plural, seperti RT, RW, Ormas-ormas keagamaan, NGO/LSM-LSM, Organisasi kepemudaan, Organisasi kemahasiswaan (NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam, MUI, Persis, dll). Melalui lembaga-lembaga inilah masyarakat (dalam arti sebagai institusi) turut serta dalam rangka mendukung pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini bagi anggota masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, peran masyarakat dalam rangka mendukung pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini lebih sebagai objek partisipasi pendorong, pelembaga, pengawal serta pengawas pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini dalam bentuk norma-norma atau hukum-hukum Kata Kunci: Masyarakat, Mendukung pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini Pendahuluan Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling bergantung dengan sesamanya. Tidak ada satupun manusia didunia yang tidak berhubungan dan tidak membutuhkan sesamanya. Kalaupun ada, pasti orang itu telah hilang kemanusiaannya. Terlebih suatu program yang telah dierencanakan untuk mengembangkan masyarakat itu sendiri, tentunya partisipasi, dorongan, pelaskanaan, pengawasan dari masyarakat itu sendiri menjadi suatu keniscayaan yang mutlak dibutuhkan dukungan dari masyarakat sebagai objek dan subjek program tersebut. Dalam kaitan dengan pentingya dukungan dari masyarakat atas pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini, apakah bentuk partisifasi atau peran-peran apa saja yang dilakukan masyarakat dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tersebut ?. Sikap menerima, menolak, atau acuh tak acuh masyarakat terhadap program tersebut menjadi penentu keberhasilan sekaligus kesuksesan program PAUD dikabupaten Garut. Pembahasan Menurut Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah. Adapun Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Dengan ruang lingkup PAUD Infant (0-1 tahun) Toddler (2-3 tahun) Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun) Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun) Sedangkan Satuan pendidikan penyelenggara pendidikannya adalah Taman Kanak-kanak (TK) Raudatul Athfal (RA) Bustanul Athfal (BA) Kelompok Bermain (KB) Taman Penitipan Anak (TPA) Sekolah Dasar Kelas Awal (kelas 1,2,3) Bina Keluarga Balita Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Usia dini (0-5 thn) merupakan usia yang sangat menentukan, dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Usia itu sebagai usia penting bagi pengembangan intelegensi permanen dirinya, mereka juga mampu menyerap informasi yang sangat tinggi. Informasi tentang potensi yang dimiliki anak usia itu, sudah banyak diketengahkan di media massa dan media elektronik lainnya. Bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan, pada usia itu memiliki kemampuan intelegensi yang sangat tinggi. Tetapi kenyataannya, sebagian besar orang tua dan guru tidak memahami akan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak pada usia itu. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki orang tua dan guru, menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang. Karena itu Pendidikan anak usia dini, prasekolah dan taman kanak-kanak tidak boleh diabaikan atau dianggap sepele. Bahkan pendidikan seorang anak sebaiknya dilakukan sejak anak itu masih berada dalam kandungan. Menurut data tahun 2001, dari 26,1 juta anak yang ada di Indonesia baru 7,1 juta atau sekira 28% anak yang telah mendapatkan pendidikan. Terdiri atas 9,6% terlayani di bina keluarga bawah lima tahun, 6,5% di taman kanak-kanak, 1,4% Raudhatul Athfal, 0,13% di kelompok bermain, 0,05% di tempat penitipan anak lainnya, 9,9% terlayani di sekolah dasar. Ini menunjukkan, pentingnya Pendidikan anak usia dini, belum mendapatkan perhatian dengan baik. Kemampuan ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebab dari terhambatnya Pendidikan anak usia dini, sedikitnya pendapatan dan naiknya harga kebutuhan pokok mengharuskan kaum ibu ikut bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini yang menyebabkan perhatian akan Pendidikan anak usia dini terbengkalai. Pendidikan anak usia dini , ternyata juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan anak usia dini (RPP PAUD) yang mengatur Pendidikan anak usia dini, ternyata belum terlaksana dengan baik. Contoh, terbatasnya jumlah lembaga pendidikan atau program layanan Pendidikan anak usia dini . Lembaga yang sudah ada pun hanya berstatus lembaga swasta dengan biaya yang relatif mahal, sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat merasakan Pendidikan anak usia dini. Kendala lain, lembaga pendidikan itu tidak memiliki program yang terstruktur, dalam arti tidak adanya keterpaduan antara pendidikan, layanan gizi perawatan atau pengasuhan serta kesehatan. Kurang perhatian Di negara lain Pendidikan anak usia dini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seperti halnya di Singapura dan Korea Selatan, hampir seluruh anak-anak usia dini telah mendapatkan pendidikan. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia kedua negara itu jauh di atas Indonesia. Singapura peringkat ke-25, Korea Selatan peringkat ke-27, sedangkan Indonesia hanya berada di peringkat 110 dari 173 negara. Masalah itu agar mendapatkan perhatian dari pemerintah, masyarakat, dan instansi lainnya. Lembaga Pendidikan anak usia dini agar mendapat prioritas dari pemerintah, tidak hanya dari pengadaan sarana, tapi juga kurikulum dan program yang terstruktur. Faktor ekonomi adalah salah satu yang menjadi penyebab terhambatnya pendidikan. Pendidikan yang murah merupakan salah satu cara agar Pendidikan anak usia dini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sarana penunjang lain yang tak langsung ikut berpengaruh terhadap Pendidikan anak usia dini juga agar menjadi perhatian. Sarana kesehatan seperti posyandu, berpengaruh terhadap peningkatan gizi anak, gizi mempengaruhi tingkat kecerdasan anak atau IQ. Jika anak mendapatkan gizi yang buruk maka berisiko kehilangan IQ 20-13 poin, kini jumlah anak yang kekurangan gizi mencapai 1,3 juta, berarti potensi kehilangan IQ anak di negara ini 22 juta poin. Organisasi yang terkait yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat seperti organisasi pemberdayaan perempuan, keluarga atau anak perlu mengadakan program yang menunjang bagi pemecahan masalah itu. Organisasi itu agar dapat memberikan pendidikan dan informasi kepada para orang tua dan masyarakat, tentang pentingnya Pendidikan anak usia dini. Komponen lain yang paling berpengaruh, keluarga dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Karena itu, keluarga dan masyarakat harus dapat memberikan contoh baik, karena pada dasarnya seorang anak akan senantiasa mengikuti atau mencontoh orang di sekitarnya. Orang tua pun harus mengembangkan potensi diri dengan cara memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi, melalui media masa ataupun media elektronik. Terutama informasi dan ilmu pengetahuan terkini, sehingga orang tua bisa menjadi pusat informasi (tempat bertanya) yang baik bagi anak mereka. Pendidikan anak usia dini da pat berjalan baik jika semua pihak dapat saling bekerja sama. Sebab, adalah modal dasar bangsa untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas kelak, dan diharapkan akan mampu bersaing dengan bangsa lain Pengenalan umum Ciri-Ciri Khas Anak usia dini Jasmani - Sangat aktif, senang berlari, dan melompat.
- Cepat lelah.
- Otot kecil belum berkembang secara sempurna.
- Belum dapat mengatur persendian otot-otot.
- Pada umumnya sudah dapat mengendalikan diri dalam membuang air besar maupun kecil.
- Mudah terserang penyakit.
- Pita suara belum berkembang secara sempurna.
Mental - Daya konsentrasi lemah, mudah merasa jemu.
- Rasa ingin tahu sangat besar, suka menjamah benda-benda yang ditemuinya.
- Belajar melalui pancaindra.
- Menyukai hal-hal yang sudah dikenal dan senang untuk mengulang.
- Perbendaharaan kata masih sangat terbatas.
- Daya ingat masih kurang, perlu sering diingatkan kembali.
- Suka menggambar.
- Belajar melalui bermain.
Emosi - Menyukai suasana yang sudah dikenal dan takut pada suasana yang asing.
- Takut pada orang asing.
- Emosinya tidak stabil.
- Sangat peka terhadap lingkungan sekitar.
Pergaulan - Sifat ketergantungan masih besar, namun juga ingin menonjolkan sifat kemandirian.
- Egosentris, egoistis.
- Suka mengatakan "tidak". Masa ini adalah masa menentang.
Kerohanian - Meniru tingkah laku orang dewasa, termasuk juga sikapnya terhadap Tuhan.
- Banyak kebenaran yang tak dapat dipahami, namun dapat dirasakan.
- Tahu mengucapkan syukur pada Bapa di surga.
- Suka mendengar cerita Alkitab.
- Dapat memahami kasih Allah.
- Dapat memahami hal-hal yang berhubungan dengan Allah.
Potensi kabupaten Garut dalam mendukung pelaksanaan program pendidikan dan pengembangan usia dini Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur. Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²) dengan batas-batas sebagai berikut: Utara : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang Timur : Kabupaten Tasikmalaya Selatan : Samudera Indonesia Barat : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hitterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam mengembangkan kultur dan sarana pendidikan dalam berbagai jeanjang pendidikan, terlebih dalam pengembangan pendikan usia dini yang didukung kultur masyarakat yang agamis Jumlah penduduk kabupaten Garut berdasarkan Sumber dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut tahun 2005 adalah 2.204.175 (Dua Juta Dua Ratus Emapat Ribu Seratus Tujuh Puluh Lima Jiwa) dengan potensi anak usia dini ±200.000 (dia ratus ribu) anak usia dini pada tahun 2005 dengan tabel sebagai berikut Tabel Penduduk Menurut Kelompok Umur Usia Dini Kab. Garut 1999-2005 | Usia/Tahun | 1999 | 2002 | 2003 | 2004 | 2005 | | 0-4 | 230.519 | 267.876 | 261.791 | 259.698 | 263.811 | | 5-9 | 271.962 | 253.684 | 264.955 | 258.836 | 262.932 | | 10-14 | 269.145 | 235.002 | 240.443 | 232.990 | 236.683 | Satuan penyelenggara pendidikannya adalah Taman Kanak-kanak (TK) Raudatul Athfal (RA) yang tercatat di kabupaten garut adalah sebagai berikut | Kecamatan | RA | TK | | Banjarwangi | - | - | | Banyuresmi | 13 | 9 | | Bayongbong | 13 | 7 | | Bl. Limbangan | 5 | 7 | | Bungbulang | - | 9 | | Caringin | 1 | 1 | | Cibalong | 3 | 6 | | Cibatu | 9 | 21 | | Cibiuk | - | 5 | | Cigedug | 9 | - | | Cihurip | - | - | | Cikajang | 5 | 6 | | Cikelet | - | 2 | | Cilawu | 6 | 7 | | Cisewu | 3 | 4 | | Cisompet | 1 | 4 | | Cisurupan | 4 | 12 | | Garut Kota | 7 | 21 | | Kadungora | - | 11 | | Karangpawitan | 9 | 11 | | Karangtengah | - | 1 | | Kersamanah | 3 | 3 | | Leles | - | 4 | | Leuwigoong | - | 4 | | Malangbong | 11 | 6 | | Mekarmukti | - | 4 | | Pakenjeng | 1 | 3 | | Pameungpeuk | 4 | 3 | | Pamulihan | - | 3 | | Pangatikan | 3 | 5 | | Pasirwangi | - | 2 | | Pendeuy | - | 2 | | Samarang | 3 | 4 | | Selaawi | 15 | 3 | | Singajaya | 4 | 3 | | Sucinaraja | - | 2 | | Sukaresmi | - | 2 | | Sukawening | 4 | 8 | | Talegong | - | 4 | | Tarogong Kaler | 9 | 17 | | Tarogong Kidul | 8 | 23 | | Wanaraja | 2 | 1 | | Jumlah | 155 | 250 | | Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2005 | | Penyelenggaraan Pendidikan Sementara sarana-prasarana penyelenggaraan pendidikan Usia dini yang tercatat dikabupaten garut pada tahun 2005 baru berjumlah 1436 kelas, dengan jumlah guru 1364 orang dengan rasio satu guru dua belas siswa, hal tersebut dapt dilihat dari tabel dibawah ini Tabel Hasil Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Garut Tahun 2005 | Tingkat | Ruang Kelas | Jumlah Kelas | Jumlah Guru | Jumlah Murid | Rasio Guru:Murid | | TK | 244 | 424 | 789 | 8.321 | 1:11 | | RA | 247 | 421 | 575 | 7.838 | 1:13 | | Jumlah | 591 | 845 | 1.364 | 16.159 | 1:12 | | Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Tahun 2005 | Potensi Lembaga Masayarakat Potensi organisasi masyarakat yang tercatat di Badan Pemberdayaan Masyarakat Kesbang Dan Linmas Kabupaten Garut Tahun 2004 berjumlah lebih dari 100 Ormas dan Lembaga Swadaya Masyarakat dapat menjadi agen informasi dan partisifasi dalam mengkampanyekan bahkan sebagai motor penyelenggara pendidikan usia dini, banyakanya ormas semoga dapat mencerminkan keteraturan masyarakat untuk taat pada aturan dan mekanisme, sehingg mempermudah menembus kepada seluruh lapisan masyarakat garut akan arti pentingnya pendidikan usia dini. Bila diperhatikan data yang tercatat di kabupaten garut pada tahun 2005 seperti halnya dibawah ini Tabel Daftar Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Garut | No | Nama Organisasi | Alamat | Ketua | | 1 | Madani Foundation | Jl.Pahlawan Gg.H.Yusuf No.7 Garut | | | 2 | APKUGA | Jl.A.Yani No.312 Garut | | | 3 | GEPAK (Galudra Eka Paksi) | Jl.Rengganis utara 74/37 Tlp.(0262)242305 Garut | Drs. Dedi | | 4 | SARBUMUSI | Jl.Pahlawan Gg.H.Yusuf No.7 Garut | | | 5 | GIBASS Distrik Garut | Jl.Perintis Kemerdekaan No.1 Garut | | | 6 | RESMA (Riset dan Studi Pengembangan SDM) | Jl.Pramuka samping RSPD Garut | Aja Rowikarim | | 7 | Mulya Bakti | Jl.Raya Cibiuk Tlp.(0262)431882 | U. Abdulah Rizal | | 8 | GEIMA (Gema Insan Madani) | Jl.Cimanuk No.179 Garut | Drs. Undang Suheryawan | | | | | | | 9 | At-Tamam | Jl.Raya Cipanas Tarogong Tlp.(0262)238917 | | | 10 | Sawarga | Jl.Timanganten No.238 | Tegep Sujana | | 11 | Bina Swadaya Guswil Garut | Jl.Sanglumajang 382 Pameungpeuk Tlp.(0262)521471 | | | 12 | I N S A N I | Jl.Terusan Pembangunan No.424 Tlp.(0262)242529 Garut | | | 13 | LPE Al-Syura | Jl.Pasundan No.49 Tlp.(0262)237753 Garut | Arif R. Hidayat, SE.Ak. | | 14 | PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ) | Gg.Sedahurip Ciledug No.69/419 Tlp.(0262)240305 Garut | | | 15 | PMI (Pemuda Muslim Indonesia ) | Jl.A.Yani No.312 Tlp.(0262)231713 Garut | Uloh Saepulloh | | 16 | Pemuda Panca Marga | Jl.A.Yani No.28 Tlp.(0262)231035 Garut | | | 17 | Pemuda Demokrat Indonesia | Jl.Guntur No.27 Garut | | | 18 | H M I | Jl.Cimanuk No.112 B Tlp.(0262)540689 Garut | Azza Rowi Karim | | 19 | GEMA PITI (Generasi Muda Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ) | Jl.Gunung Kendang No.64 Tlp.(0262)239314 Garut | | | 20 | GM FKPPI | Jl.A.Yani No.28 Garut | | | 21 | I P N U | Jl.Cikuray No.67 Garut | | | 22 | G M N I | Jl.Cimanuk No.747 Babakan kalapa Tarogong | | | 23 | Pemuda Muhammadiyah | Jl.A.Yani No.156 Tlp.(0262)231547 Garut | | | 24 | AMS (Angkatan Muda Siliwangi) | Jl.A.Yani No.28 Garut | | | Dan seterusnya masih banyak daftar lembaga yang tercatat di Masyarakat dan Linmas Kabupaten Garut (ini hanya sebagian yang ditulis) | | Sumber : KaBadan Pemberdayaan Masyarakat Kesbang Dan Linmas Kabupaten Garut Tahun 2004 | Peran-Peran Masyarakat Untuk mengenali peran-peran masyarakat terlebih dahulu perlu dikenali dulu apa itu masyarakat, apakah masyarakat itu eksis sebagaimana eksisnya individu, dan bagaimana wujud kongkrit eksistensi masyarakat itu. a. Apakah masyarakat itu ?. masyarakat terdiri atas kelompok-kelompok masia yang saling terkait oleh sistem-sistem, adat istiadat, ritus-ritus, konvensi-konvensi, dan hukum-hukum, dan hidup bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu. Bangsa, suku, bahkan kabupaten, kecamatan, desa, kampung merupakan kumpulan masyarakat. b. Apakah masyarakat itu eksis ? apakah masyarakat itu benar-benar ada sebagaimana adanya individu, ataukah masyarakat itu sekedar berkumpulnya individu-individu dalam wilayah geografis tertentu, merupkan pertanyaan yang debatable Suatu teori menyatakan bahwa masyarakat itu terdiri atas individu-individu. Masyarakat hanyalah sintesis dan bentukan dari individu-individu. Dalam kehidupan bersama, manusia tidak pernah saling terlebur. Hanya individulah yang benar-benar eksis, bersifat nyata, dan merupakan objek terkenali. Kehidupan dan tujuan individu tak saling tergantung, jadi walupun kehidupan manusia berwarna kolektif, tetapi anggota-anggota masyarakatnya tak melebur menjadi suatu senyawa sejati yang disebut “masyarakat” itu. Teori kedua bersebrangan dengan teori pertama, teori yang dibidani Karl Mark ini- Marxisme : menyatakan, bahwa masyarakat merupakan suatu senyawa sejati yang lebih tinggi daripada senyawa alamiah, dalam hal senyawa alamiah, seperti individu, unsur-unsur pokoknya mempunyai kedirian dan identitas sebelum sintesis terjadi. Selama aksi dan reaksi mereka berlangsung, maka terwujudlah syarat-syarat bagi munculnya suatu wujud baru. Namun manusia tak memiliki kedirian apapun ketika belum ada masyarakat. Pada saat ini ia seperti bejana hampa yang hanya mampu menampung jiwa kemasyarakatan. Tanpa adanya masyarakat, lanjut Mark, manusia sepenuhnya seperti hewan. Bedanya, manusia manusia memiliki sifat kemanusiaan sedagkan hewan tidak sifat manusiawi seorang manusia adalah sadar kan “ke-aku-an” dan pikirannya, kesukaan dan ketidak sukaannya, serta emosi dan perasaan-perasaan lain yang berkaitan dengan manusia, justru bisa maujud karena pengaruh jiwa kemasyarakatan. Jiwa inilah yang megisi bejana hampa tadi dan memberinya kepribadian. Jiwa kemasyarakatan selalu maujud dengan manusia, dan akan selamanya demikian melalui perwujudan-perwujudan seperti moral, agama, pendidikan, falsafah, dan seni. Teori kedua ini percaya bahwa perwujudan manusia itu sepati dan mutlak. Menurut teori ini, yang ada hanyalah jiwa bersama, kesadaran bersama, perasaan bersama, kehendak bersama, dan “aku” bersama.kesadaran diri hanyalah sebentuk perwujduan kesadaran bersama. Teori ketiga: pertama kali digagas failusuf dan sosiolog Islam, Ibnu holdun, kemudia failosuf perancis, Mountesquie – menyatakan, bahwa masyarakat merupakan suatu senyawa sejati, sebgaimana senyawa-snyawa alamian. tetapi , yang disintesis disini adalah jiwa, pikiran, kehendak dan hasrat, yakni suatu sintesis yang bersifat kebudayaan, bukannya fisik. (unsur-unsur bendawi (yang dalam prosesnya saling aksi-reaksi dan susut lebur) menyebabkan munculnya suatu wujud baru, dan berkat reorganisasi ini mewujudkan suatu senyawa baru yang maujud dengan identitas baru, yakni jiwa kemasyarakatan. Jadi menurut teori ketiga ini, baik individu maupun masyarakat adalah sejati. Teori ketiga ini mengakui keberadaan merdeka para individu, tetapi menolak teori pertama yang mengesampingkan jiwa masyarakat. Teori ini juga mengakui kemaujudan masyarakat, tapi menolak teori kedua yang megabaikan jiwa individu. Menurut teori ketiga ini baik individu dan masyarakat memilki hukumsendiri-sendiri yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hukum individu tidak berlaku bagi hukum masyarakat; demikian juga sebaliknya hukum masyarakat tidak berlaku bagi indvidu. Bagaimana pandangan al-Qur’an ? Menurut Murtadha Muthahhari (1986), ayat-ayat al-Qur’an membenarkan teori ketiga. Al-Qur’an mengemukakan gagasan sejarah bersama, tujuan bersama, perbuatan, kesadaran, pengertian, perasaan, dan prilaku bersama bagi al-Ummah (Society). Dalam ayat 34 surah al-A’raf : ”dan setiap ummah (masyarakat) mempunyai ketentuan. Mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak (pula) dapat memajukannya. Menurut Muthahhari, ayat ini merujuk kepada kehidupan dan keberadaan yang terbatas masanya dan tak dapat di ubah. Akibatnya, tak dapat dengan bangsa (Ummah), dan bukan dengan individu-individu. Sekiranya berkaitan dengan individu, tentu keberadaan individu-individu suatu bangsa akan tercabut secara perorangan, bukan secara bersama dan serempak. Ayat lainnya surat al-Jatsiah 28, “setiap ummah (masayarakat) akan diseru untuk melihat buku catatan amalnya. Disini, lanjut Muthahhari, bukan hanya individu yang dietntukan oleh catatan tertentu perbuatannya sendiri, tetapi masyarakat juga ditentukan oleh catatan-catatan perbauatanya sendiri, sebab, ia juga seperti makhluk hidup yang sadar dan bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatannya, karena ia bebas berkehendak dan bertindak. Dalam suarah al-An’am ayat 108, “...demikianlah Kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka... Ayat ini menurut Muthahhari, menegaskan bahwa setiap bangsa berjalan berdasarkan kesadaran tertentunya sendiri, norma-norma tertentunya sendiri, dan cara tertentu berfikirnya sendiri. Kesadaran, pengertian, dan pandangan setiap bangsa mempunyai watak yang khas. Allah menghukum makar pada satu Ummah, padahal pelakunya hanya satu atu berapa orang saja, Surah al-Mukmin, 5, ”dan setiap ummah (bangsa ) telah merencanakan makar terhadap rasul mereka dan mereka bersikeras dengan kebatilan. (dan mereka mengira) bahwa dengan demikian akan melenyapkan kebenaran, maka aku adzab mereka, dan betapa (pedihnya) adzab-Ku” Ayat ini menurut Muthahhari, berkenaan dengan tekad dan keputusan jahat suatu bangsa. Ia merujuk pada suatu keputusan bersama untuk menentang kebenaran. Serta menegaskan bahwa keingkaran bersama patut dibalas dan dihukum secara bersama pula. Al-Qur’an beberapa berulangkali memberikan contoh betapa perbuatan seorang individu dinisbahkan kepada suatu kelompok secara bersama. Pembunuhanunta betina kaun Tsamud itu hanya seorang. Tetapi Allah menghukum semua kaum itu dan menyebutkannya bahwa pelaku pembunuh unta betina itu dengan kata “mereka “ bukannya “dia” c. Lembaga-lembag kemasyarakatan. Untuk mengkongkritkan dan mengoprasionalkan permasalahan, maka pembahasanya masyarakat dalam tulisan ini lebih dikhususkan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan umum yang lebih kecil lingkup geografis ataupun keanggotaanya. Lembaga kemasyarakatan yang diamksud diantaranya. Dewan kemakmuran Mesjid (DKM), rukun tetangga (RT) Rukun Warga (RW) lembaga-lembaga yang menghimpun infaq dan sodaqoh warga yaitu Lembaga amil zakat (LAZ) dan badan amil zakat (BAZ) dan organisasi Masyarakat NU, Muhammadiyah, SI, Persis, serta OKP, IRMA, dan lembaga swadaya masyarakat. Masyarakat dan peranannya dalam pembinaan Akhlak Dalam al-Qur’an, masyarakat itu bisa baik dan juga buruk tergantung dari peran yang dimainkannya. Dalam suatu ayat, Allah memuji suatu masyarakat karena melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, tetapi pada ayat lainnya seperti telah disebutkan dia awal, Allah menghukumnya karena melakukan perbuatan makar terhadap rasul, berikut ini akan dikemukan peran lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini sebagi berikut a. Peranan DKM dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini DKM selama ini fungsinya hanya hanya sebagai pengelola salat berjamaah, harian, dan solat jum’atan, serta pengumpul zakat fitrah, padahal dalam rutinitasnya funsi masjid multi fngsi, selain tempat ibadah masjid dapat dijadikan sarana yang murah meriah untuk sarana belajar melalui pengajian, anak-anak. DKM lebih dekat dengan lingkungan warga, sehingga memudahkan pembinaan dan pengembangan pendidikan usia dii tersebut. Dimasyarakat kita telah menjadi kultur, anak-anak belajar dimasjid ba’da dhuhur, ba’da asar atau ba’da magrib, namun dalam pelaksanaannya hanya bersifat rutinitas untuk mengisi waktu luang saja, tanpa didukung kurikulum dan perencanaan yang matang, tanaga pengajar yang asal-salan jauh dari profesional menyebabkan kultur PAUD di kita tertinggal. Dewasa ini telah tumbuh kesadaran, masjid selain fungsi ibadah dijadikan juga fungsi belajar dengan mendirikan TPA, RA, TK disudut-sudut masjid, namun kesadaran ini belum merata, data Dari DEPAG Garut, terdapat ±5000 mesjid dan surau dikab. Garut sementara yang digunakan RA/TK yang tercatat samapai tahun 2005 hanya 591 ruang kelas yang dipakai. Bayangkan kalau kita pakai jumlah masjid yang ada digarut tentunya program pendidikan usia dini dapat berjalan secara epektif dan efisien. Upaya pendampingan kita melakukan pendekatan kepada para pengurus DKM untuk memilki kesadaran akan arti pentinya penyelenggaraan pendidikan usia dini di masjid-masjid. Dan DKM lah sebagai pelopor dan motor penggeraknya. b. RT-RW dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini Berbeda halnya dengan masjid, RT-RW punya andil yang lain dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini. Tindakkannya lebih pada power dan presure/tekanan terhadap warganya agar setiap warganya dapat mengikutsertakan anaknya dalam pendidikan Usia Dini. RT-RW dapat memberikan sangsi moral bagi kepala keluarga yang memiliki anak usia dini yang tidak mengikut sertakan perogram Pendidikan Anak Usia Dini, pengurus RT-RW bekerjasama dengan DKM dan tokoh masyarakt lainnya untuk mendukung sekaligus penyelenggara PAUD c. Peranan Lembaga Zakat Infaq dan Sodaqoh (LAZ/BAZ) program Pendidikan Anak Usia Dini salah satu kelemahannya adalah kurang profesionalitas pengajar, hal ini disebabkan para pendidik PAUD sangat minim honor bahkah tidak dihonor sekalipun,sehingga hilangnya ketertarikan untuk menjadi guru PAUD. Oleh sebab itu kesadaran yang kolektif kolegial dibawah koordiansi RT-RW DKM dan tokoh masyarakat, mampu menginfentaris potensi Muzakki, sehingga pembagian zakat yang merata dan tepat sasaran mampu mendorong dan mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini. Hal yang terlupakan dimasyarakat RT-RW, lemahnya pendampingan terhadap warga akan kesadaran berzakat, infaq dan sodaqoh, ini disebabkan warga masih anti pati dan kurang percaya terhadap pengelola zakat itu sendiri. Oleh sebab itu LAZIS/BAZIS harus menjawab menjawab persolan itu dengan mampu menghimpun dan mendayagunakan harta zakat secara proaktif, produktif dan tepat sasaran, salah satu sasaran bazia adalah memberikan tambahan honor bagi para pendidikan PAUD. Semangat LAZ/BAZ bergerak dibidang pengentasan kemiskinan, maka seyogyanya LAZ/BAZ menjadi garda terdepan yang bergerak dalam pembiayaan mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini d. Peran Ormas, OKP, LSM dalm mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini Dengan bergabugnya kedalam organisasi masa (Ormas), organisasi kepemudaan (Okp), Lembaga swadaya masyarakat (LSM), menunjukkan bahwa mereka memang siap mencitrakan diri sebagai masyarakat yang teratur, siap taat terhadap aturan yang telah disepakati, tanpa mengesampingkan sebagian masyarakat yang tidak tergabung dalam ormas, okp tidak teratur/tidak baik. Setidaknya masyarakat sebagai anggota Ormas, Okp, LSM, siap membina diri dan dibina oleh induknya. Peran apakah yang seyogyanya dilakukan Ormas, Okp, LSM dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini ?. Peran-peran Ormas, OKP, LSM, seyogyanya harus lebih terprogram, terencana dan termenej secara profesional jangan sekedarsekedar seperti peran-peran yang dapat dilakukan DKM atau RT-RW. Dengan jaringan dan kebesaran anggota dan simpatisannya, ormas-ormas sepantasnya berperan menyiapkan kader sejak dini, sebagai cikal bakal penerus perjuangan organisasinya, peran Ormas, bukan sekedar pendukung program Pendidikan Anak Usia Dini, melainkan pelaku dan penanggung jawab terwujudnya pendidikan terhadap usia dini. Peran LSM, ORMAS, OKP dan lembaga lainnya belum maksimal, yang nampak hanyalah kepentingan pragmatis yang bersifat politis. Citra LSM oleh sebagian orang negativ, begitu pula ada ormas yang tidak memilki mekanisme rekruitmen, pembinaan, pengkaderan serta ketidak jelasan struktur dan pengurus juga keanggotaan yang tidak jelas. Sudah saatnya ORMAS melakukan pembinaan bagi anggotanya dengan kepdulian terhadap pengkaderan dengan memaksimalkan potensi yang dimilkinya melalui Pendidikan Anak Usia Dini. Penutup Sesuai eksistensi masyarakat, yakni kelompok manusia yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan, maka peran masyarakat dalam mendukung terhadap program Pendidikan Anak Usia Dini, paling sedikit mencakup tiga hal: Pertama, peran internalisasi nilai-nilai menciptakan budaya, dalam hal ini masyarakat lebih bersifat sebagai pengakomodasi nilai-nilai terhadap doktrin pentingnya pendidikan usia dini bagi setiap anak, nilai yang berkembang dimasyarakat senantias mengarah bahwa sangat berdosa dan biadab apabila ada orang tua yang memilki anak usia dini tidak melakukan upaya/usaha mendidik anaknya pada usai dini. Kedua, Peran institusiaonalisasi, yaitu peran yang bersifat pelembagaan nilai-nilai dengan melalui kesepakatan-kesepakatan untuk dijadikan sebagai tata aturan hidup bersama, biasanya alam bentuk konvensi-konvensi, norma-norma, hukum-hukum atau adat istiadat. masyarakat dengan ormasnya, terlibat langsung sebagai subjek sekaligus pendukung, pendorong, pelaksana pengembangan program pendidikan Anak Usia Dini. Ketiga, peran sosialisasi nilai-nilai, yaitu masyarakat berperan sebagai institusi yang menyebarluaskan sekaligus merasakan manfaat program Pendidikan Anak Usia Dini dan sekaligus mengaplikasikan nilai-nilai, biasanya peran ini diemban oleh berbagai macam lembaga kemasyarakatan, RT, RW, DKM, MUI, LSM, Ormas-ormas lainnya Daftar Pustaka · A. Budiman, Tes Iq Remaja, Bandung: Pustaka Grafika, 2005 · Aja Rowikarim, Psikologi Pendidikan, Garut: Universitas Garut, 2006 · Asmar Yetty Zain, Psikologi Ibu dan anak, Yogyakarta: Tramaya, 2005 · Basyir, Ahmad Azahar, Refleksi atas persoalan keislaman: seputar Filafat, Hukum, Politik dan ekonomi, Mizan, 1993 · Muthahhari, Murtadha, Falasafah Akhlak: Kritik atas konsep Moralitas Barat, Bandung: Pustaka Hidayah, 1995. · Muthahhari Murtadha, Masyarakat dan sejarah: kritik Islam atas Marxisme dan teori lainnya, Mizan, 1986 · Sajogyo, Pudjiwati, Sosiologi Pedesaan Jilid I Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 19987 · Siti Rahayu Haditomo dkk, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta, Gadjah Mada University, 2004 · Suparlan Parsudi, Kemiskinan di perkotaan, Jakarta: sinar harapan, 1984 · UU. Pendidikan Nasional tahun 2003, P0ous Media, 2007- · www.wikimedia.kom · www.garut.go.id Curriculum Vitae Nama : Aza Rowi Karim, S.Ag., M.Ag. Tempat Tgl Lahir : Garut, 11 Agustus 1977 Alamat : Kp. Bangker PENDIDIKAN KOLABORATIF; INTEGRASI PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI Oleh : Hj. Hilda Ainis Syifa, S.Pd.I. Pembantu Dekan I Bidang Akademik Fakultas Agama Islam - Universitas Garut Pendidikan secara substansial memiliki orientasi agar tercipta partisipasi masyarakat secara menyeluruh, sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat menjadi terdidik. Pendidikan tidak hanya terfokus pada penyiapan tenaga kerja, tapi lebih jauh dari itu, harus memperkokoh perilaku keberagamaan dan memperkuat kemampuan dasar peserta didik sehingga memungkinkan baginya untuk berkembang lebih jauh sebagai hamba Allah, individu, anggota masyarakat maupun sebagai warga negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, berbagai tantangan muncul secara kompleks. Sejatinya, kokohnya pendidikan sebagai produk perguruan tinggi tidak sekedar ditakar dengan mengukur kesesuaian antara produk (sarjana) yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja (market-driven), tetapi lebih jauh lagi, yaitu mewujudkan insan manusia yang memiliki karakteristik insan kamil. Apabila menilik keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tinggi, nampak tegas bahwa salah satu tugasnya adalah menciptakan insan-insan yang memiliki ketangguhan dalam mengantisipasi berbagai pergeseran nilai (tradisional vs modern; analog vs digital; atau manual vs otomasi), dan berdaya kala harus ditempatkan sebagai kekuatan sosial-budaya maupun sosial-keagamaan. Sungguh tugas berat bagi lembaga pendidikan, ketika kita mendefinikan pendidikan sebagai upaya manusia menyempurnakan kebermaknaan hidupnya, dan terlalu naif manakala seluruh tanggungjawab pendidikan diserahkan pada sebuah lembaga yang memiliki berbagai keterbatasan. Berbagai keterpurukan sebagai salah satu fenomena masyarakat kekinian, tak akan banyak tertolong apabila tanggung jawab ini hanya diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan. Oleh karenanya, sistem pendidikan perlu memberikan aksentuasi pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pengembangan suatu hubungan fungsional antara lembaga pendidikan dan komponen pemangku kepentingan (stake-holder) lainnya dalam upaya saling memperlengkapi kekurangan dan menyerap kelebihan. Pendekatan ini perlu dilakukan dalam kerangka pembangunan manusia yang memiliki orientasi yang komperhensif, yakni pembangunan mental spiritual dan fisik material. Kepentingan itu makin mendesak, ketika kita menyebut bahwa pendidikan sebagai bagian dari institusi sosial (social institution) yang menempati posisi strategis dan kritis. Dikatakan demikian, karena pendidikan menyimpan suatu kekuatan untuk menciptakan lingkungan hidup, memberi informasi pegangan hidup masa depan, serta mampu melakukan langkah-langkah adoptif dan adaptif. Manakala berpijak pada proses pendidikan sesuai dengan fitrah manusia, maka dapat ditemukenali bahwa guru pertama dan utama bagi seorang anak manusia adalah orang tuanya. Dimana, kita dapat menjumpai format pendidikan, yang dipahami bukan semata transfer pengetahuan formal yang dikembangkan secara mekanik untuk pengayaan intelektual yang bersifat teoritik, juga bukan berkecenderungan sebagai proses pertumbuhan aspek fisik material yang kurang menyentuh unsur mental spiritual. Pola pendidikan ini memiliki orientasi pada penyadaran potensi keagamaan, menumbuhkan dan mengembangkan wawasan, pembekalan akhlak, sadar untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih maju, serta agar mampu beramal saleh dalam rangka beribadah kepada Allah. Orientasi pendidikan tersebut, tak hanya bisa ditumpukan pada lembaga pendidikan. Sebab, diakui secara jujur ketika lembaga pendidikan secara spektakuler mencanangkan profesionalisme, juga memerlukan topangan orang tua dari peserta didik untuk meneguhkan tanggung jawab agama, mengokohkan tanggung jawab sosial, memperkuat nilai kejujuran dan nilai-nilai moralitas lainnya. Sehingga melalui sinergi antara lembaga pendidikan dengan orang tua peserta didik (mahasiswa) maka akan diperoleh manusia yang memiliki profesionalisme dan mampu menapaki kehidupan mandiri dengan sarat atas nilai-nilai moralitas yang tinggi. Kerangka pendidikan model ini mempersyaratkan perhatian yang utuh dan komperhensif dari lembaga pendidikan dan orang tua. Penanaman kepercayaan orang tua bagi anaknya --yang menjadi mahasiswa pada suatu perguruan tinggi--, untuk menentukan sendiri tempat tinggalnya (kost), mengatur uang belanja, memilih organisasi tempat berhimpun, memilah teman bergaul, dan kebebasan-kebebasan lainnya, secara esensial merupakan bentuk pendidikan untuk mengajari kemandirian. Namun, seperti diuraikan di atas, dengan mencoba objektif pada kondisi kekinian dengan berbagai tantangannya, nampaknya kebebasan ini perlu disikapi dengan arif oleh orang tua dengan tetap memberikan perhatian yang mendalam terhadap seluruh aktivitas anaknya. Rentang kendali yang terkontrol, sebagai bagian dari mekanisme pendidikan anak, harus tetap menjadi perhatian dan kepedulian orang tua. Secara operasional, wujud kasih sayang ini dapat diaktualisasikan dengan seringnya sentuhan fisik (jengukan) dari orang tua, berkomunikasi secara intens dengan anak, dan tidak salah apabila berkomunikasi secara berkala dengan lembaga pendidikan tentang keberadaan prestasi anak kesayangannya. Dengan demikian, pendidikan kolaboratif ini akan memiliki format yang efektif dan efisien dalam menghasilkan insan-insan yang unggul, memiliki identitas keagamaan yang kuat, serta memiliki daya saing yang andal dan tangguh dalam zaman globalisasi yang penuh tantangan. Filosofi pendidikan kolaboratif ini dijalankan bukan hanya untuk sekedar menciptakan insan profesional, tetapi lebih dari itu untuk mengembangkan dirinya menjadi insan yang memiliki competitive advantage dengan tetap mempertahankan integritasnya sebagai manusia yang terhormat dan bermoral. Insya Allah. PENDIDIKAN DAN JAMINAN KUALITAS MASA DEPAN Oleh : KH. Aceng Akbarul Muslim Lc. Abstrak Pendidikan ke depan adalah pendidikan yang punya jaminan kualitas. Kalau jaminannya kualitas, maka harga mahal pun tidak masalah. Kualitas sebuah pendidikan tidak bias dipisahkan dari factor pendidikan itu sendiri yaitu peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan sarana pendidikan lingkungan pendidikan dan kesejahteraan pendidik. Profesiobnalisme pendidik pada dasarnya penguasaan terhadap dua hal pokok yaitu materi dan metodologi. Pendidik dalam Islam hendaknya berakhlakul karimah, punya skill dan memiliki kemampuan penguasaan materi dan metodologi. Pendidikan ke depan adalah pendidikan yang punya jaminan kualitas yang bias dijual di pasaran karena sesuai kebutuhan dan tuntutan pragmentasi sosial. Pendidikan Islam ke depan pendidikan yang menanamkan prinsif hidup. Prinsif tersebut yaitu tujuan hidup, tugas hidup. Pedoman hidup dan teladan hidup. Kalau jaminannya kualitas, maka harga mahal pun tidak masalah. Seiring perubahan waktu dan pengaruh globalisasi tapi harus tetap berpijak pada prinsip yang harus dipertahankan dan dikaderkan. Maka tepartlah ada kaiodah mengatakan al Muhafadhotu ‘alal qodimisholih wal akhdu bil jadidil ashlah. Artinya mempertahankan nil;ai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik (positif). Tujuan hidup mencari ridha Allah bukan mencari popularitas. Tugas hidup ibadah. Pedoman hidup al-Qur’an dan al-Sunnah. Contoh hidup Nabi Muhammad SAW. Pendidikan dalam Islam ialah usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaannya berdasarkan Islam. Maka nilai Ilahi mempunyai relasi dengan nilai insani. Nilai Ilahi (hidup etis religius) memiliki kedudukan vertical lebih tinggi daripada niulai hidup lainnya disamping hirarkinya lebih tinggi, nilai keagamaan mempunyai konsekwesni pada nilai lainnya. Dan sebaliknya, nilai laionnya itu memerlukan konsultasi pada nilai etis religius. Kualitas sebuah pendidikan tidak bias dipisahkan dari faktor pendidikan yaitu - Pendidik (Siapa yang mendidik)
- Peserta Didik (siapa yang di didik)
- Tujuan Pendidikan (Untuk apa di didik)
- Isi (apa yang dihantarkan dalam pendidikan)
- Sarana, Waktu dan Lingkungan Pendidikan (Dimana dan bilamana pendidikan dilangsungkan)
- Kesejahteraan Pendidik
Unsur-unsur pendidikan tadi satu sama lain tidak bisa dipisahkan salahsatu contoh kesejahteraan pendidik. Sehebat apapun konsep pendidikan, tanpa jaminan kesejahteraan pendidiknya maka kualitas pendidikan tidak akan berhasil. Sistem Pendidikan guru ke depan menuntut profesionalisme kaum pendidik, oleh karena itu calon pengajar tidak hanya cukup dibekali dengan akta 4 sebagai syarat pengangkatan guru, melainkan juga perlu menempuh pendidikan profesi untuk mendapatkan sertifikasi. Dengan demikian Sarjana yang berasal dari jurusan Non Kependidikan pun mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarir sebagai guru. Perbedaannya, terletak pada jumlah SKS yang harus diambil oleh masing-masing sarjana S1. Khusus untuk Sarjana S1 Kependidikan, tidak perlu lagi mengambil mata kuliah mengenai pengajaran. Pertama Pendidikan ke Depan (Jaminan Kualitas) Tidak bisa dipisahkan Kualitas Pendidikan Faktor Pendidikan Kalau jaminannya kualitas adakah masalah. Kualitas 1. membentuk prinsif hidup 2. Bisa dijual di pasar karena memiliki kemampuan, maka harga mahal pun sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pragmentasi social (professional di bidangnya) Sebenarnya keberhasilan sebuah pendidikan kuat fisik, kuat ekonomi serta nalar dan wawasan. Syarat mendapatkan ilmu - Metodologi
- Kode Etik
- SDM
- Faktor Pendidikan
- Target, Sasaran
Dimulai sejak dini, walaupun tak ada kata terlambat untuk pendidikan tapi pemahaman teori dasar sebaiknya disampaikan pada saat hapalan masih kuat. Kedua, Kualitas pendidikan tidak bias dipisahkan dari factor-faktor pendidikan (unsure-unsur pendidikan) - Pendidik
- Peserta Didik
- Tujuan (untuk apa dididik)
- Isi (Apa yang dihantarkan dalam pendidikan)
- Ruang dan waktu (Dimana dan bilamana pendidikan dilangsungkan)
- Kesejahteraan Pendidik
Unsur-unsur pendidikan tadi satu sama lain tidak bias dipisahkan sehebat apapun konsep pendidikan tanpa jaminan kesejahtreraan pendidikan maka kualitas pendidikan tidak akan berhasil. Ketiga, Pendidikan dalam Islam ialah usaha yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaannya berdasarkan Islam. Pendidikan ke depan adalah pendidikan yang punya jaminan kualitas. Kalau jaminannya kualitas maka harga mahal pun tidak masalah. Seiring perubahan waktu, dan pengaruh globalisasi tapi harus tetap berpijak pada prinsif yang harus dipertahankan dan dikaderkan, maka tepatlah ada kaidah mengatakan (Mempertahankan nilai-nilai lama yang bagus dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih bagus atau positif). Nilai Ilahi mempunyai relasi dengan nilai Insani. Nilai Ilahi (terhadap etis religius) memiliki kedudukan vertikal lebih tinggi daripada nilai hidup lainnya . Disamping hirarkinya lebih tinggi, nilai keagamaan mempunyai konsekwesnsi pada nilai lainnya, dan sebaliknya nilai lainnya itu memerlukan konsultasi pada nilai etis-religius. Pendidik dalam Islam Pendidikan Profesi diperlukan untuk dapatkan sertifikasi Sistem pendidikan guru ke depan menuntut profesionalisme kaum pendidik oki. Calon-calon pengajar tidak hanya cukup dibekali dengan akta empat sebagai syarat pengangkatan guru melainkan juga perlu menempuh pendidikan profesi untuk mendapatkan sertifikasi . Dengan demikian Sarjana yang berasal dari jurusan non kependidikan pun mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarir sebagai guru. Perbedaannya nanti terletak pada jumlah SKS yang harus diambil oleh masing-masing Sarjan S1 khusus untuk Sarjan S1 Kependidikan tidak perlu lagi mengambil mata kuliah mengenai pengajaran. Prinsif Hidup : Tuigas Hidup Pedoman Hiodup Tujuan Hidup Daftar Pustaka - Ilmu Pendidikan Islam Drs Hery Noer Ali MA. PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat, Jakarta, 1999
- Pemikiran Pendidikan Islam Prf. Dr. Muhaimin MA . Trigenda Karya Bandung, 1993
- Ila Kulli Abin Goyurin Yu’minu Billah Abdullah Nashih Ulwan
- Fikr al-Muslim al Mu’atsir Dr. Muhammad Imarah dkk. Penerbit Al-Ahram Kairo, Mesir. 1992 M / 1413 H
-
CURRICULUM VITAE KH. Aceng Akbarul Muslim Lc Tempat tanggal lahir : Tasikmalaya 7 Mei 1964 Riwayat Pendidikan : - SD Cimerah 1977
- MTsN Sukamanah 1981
- MAN Cipasung 1984
- SMA Al-Azhar 1988
- Fakultas Ushuludin, Jurusan Dakwah dan Peradaban Universitas Al-Azhar Cairo-Mesir 1993
- Dirasat Islamiyat Jurusan Manahij Attarbiyah Universitas Zamalex Cairo-Mesir
- Mahasiswa Pascasarjana di STIH IBLAM Depok
[R Anda adalah orang yang biasanya bangga Bahwa Anda akan mencapai sukses Suatu hari…. Anda hanya menginginkan sebuah pertunjukkan Untuk memperlihatkan seberapa banyak Anda tahu Dan membuktikan jarak yang bisa Anda tempuh Setahun baru kita lalui Ide baru apa yang Anda miliki ? Berapa banyak hal-hal besar yang Anda lakukan ? Waktu tinggal 12 bulan dalam perhatian Berapa banyak diantaranya yang Anda gunakan dengan kesempatan dan keberanian ? Sekali lagi, dimana Anda sering lalai ? Kami tidak menemukan Anda dalam daftar orang-orang sukses Mengapa …? Ah tidak, ini bukan kesempatan yang kurang Seperti biasa – Anda gagal bersikap …! Herbert Kaufman Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas dr. Fasli Jalal, Ph.D. punya tekad mengangkat harkat dan martabat guru yang selama ini terpuruk. Paling tidak, guru yang bermutu tidak berpenghasilan terlalu rendah. Undang-undang untuk guru dan dosen pun digulirkan, ribuan guru berbondong-bondong menempuh kuliah program sarjana. Mereka termotivasi oleh undang-undang guru dan dosen yang menjanjikan perbaikan nasib para guru. Karena kelak guru-guru berkualitas akan mendapat tambahan gaji. Akankah terpenuhi tekad pak Fasli? Sementara pak Fasli Jalal mengakui bahwa berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru masih berjalan kurang optimal, banyak guru yang pendidikannya masih pas-pasan. Data Balitbang Depdiknas tahun 2004 menunjukkan, dari sekitar 2,7 juta guru, dari TK hingga SMA/SMK/MA, baru sekitar 900.000 yang berijazah sarjana (S1) atau D-4. Dari 137.000 guru TK pada 2004, kurang dari 5% yang sarjana. Sedangkan dari 1,4 juta guru SD, baru sekitar 8,3% yang lulusan S1 atau D-4. Rendahnya kualitas guru itu sudah pasti berhubungan dengan rendahnya kompetensi, dan sudah barang tentu terpenuhinya kualifikasi masih belum menjamin kompetensinya bagus. Contoh untuk menunjukkan bahwa kualifikasi tidak menjamin kompetensi, pertama, pada penerimaan calon guru negeri tahun 2004, 40 soal bahasa inggris untuk calon guru SMP, ada yang hanya bisa menjawab satu soal dengan benar meski dia lulusan sarjana pendidikan bahasa inggris. Kedua, ada calon guru matematika yang hanya bisa menjawab dua soal dengan benar. Nampak bahwa selama ini pemerintah telah menempuh berbagai upaya untuk meningkatkan mutu guru, baik melalui program-program pendidikan dan latihan (diklat), peningkatan kualifikasi, dan Kelompok Kerja Guru (KKG)…semoga kualitas para guru sebagai pencetak generasi penerus bangsa makin meningkat di masa mendatang… Akankah pamor dan harkat guru menjadi lebih baik? Hanya Tuhan yang tahu…. Jati Utomo Dwi Hatmoko Tue, 23 Jan 2007 08:14:38 -0800 http://www.media-indonesia.com/ Selasa, 23 Januari 2007 19:05 WIB HUMANIORA » Pendidikan Sertifikasi Guru dan Dosen Mutlak *JAKARTA–MIOL:* Persyaratan sertifikasi bagi guru dan dosen hendaknya tidak diterjemahkan menjadi beban bagi pendidik yang bekerja di yayasan swasta. Namun, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas guru dan dosen sebagai profesi. Demikian rangkuman pendapat yang dikemukakan praktisi dan pakar pendidikan saat diminta keterangan sebagai ahli dari pemerintah pada sidang pengujian UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen yang dipimpin Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie, di Gedung MK, Jakarta, Selasa (23/1). Hadir sebagai saksi ahli yakni Prof Udin Saripudin Winataputra, Prof HAR Tilaar, dan dari pemerintah diwakili Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMTPK) Depdiknas, Dr Fasli Jalal. “Dengan sertifikasi, akan meningkatnya kualitas guru dan dosen yang kemudian diharapkan dapat menjalankan tugasnya lebih profesional,” kata Udin. Selain itu, bisa dijadikan sebuah solusi untuk menutupi kekurangan kondisi guru, terutama dalam waktu 10 tahun mendatang, ketika semua guru dan dosen telah memperoleh sertifikat pendidikan. Munculnya UU Guru dan Dosen dilatarbelakangi dengan kondisi sebagian guru dan dosen di Indonesia yang saat ini masih kurang terlatih, kurang terdidik, tidak dihargai, dan kurang mendapat perlindungan serta tidak terkelola dengan baik. HAR Tilaar menambahkan peningkatan kualitas guru dan dosen melalui undang-undang tersebut juga sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di dunia. “Saat ini, mutu pendidikan di Indonesia masih kurang dan kalah bersaing. Salah satunya disebabkan kualitas pendidiknya yang masih rendah, karena faktor kesejahteraan guru dan yang belum mendapat perhatian secara jernih oleh pemerintah,” ujarnya. Sedangkan Dirjen PMPTK Fasli Jalal menambahkan UU Guru dan Dosen sudah merupakan komitmen pemerintah bersama DPR, dan sebagai komponen pelengkap untuk keberlangsungan program wajib belajar 9 tahun. Artinya, kata Fasli, bagi guru dan dosen yang mendapatkan sertifikat pendidikan, berarti mereka dapat merealisasikan keinginan pemerintah dalam menyukseskan program wajib belajar 9 tahun secara profesional. “Namun dalam pelaksanaannya, kita tidak membedakan status sekolah tempat guru yang mendapatkan sertifikat pendidikan. Milik pemerintah ataupun bukan, asalkan mendapatkan izin dari pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan, pemerintah akan berikan tunjangan profesi kepada guru itu di mana pun berada,” ujar Fasli. Sebelumnya, seorang wali murid Fathul Hadie Utsman selaku pemohon kemarin meminta MK menguji secara materiil UU No 14/2005 yang menurutnya dianggap retroaktif (berlaku surut). Selain itu, ia menganggap pemerintah diskriminatif karena UU itu bisa ditafsirkan bahwa yang mendapatkan gaji, tunjangan fungsional dan tunjangan profesi hanya bagi guru yang diangkat satuan pendidikan milik pemerintah. (SP/OL-01) Prof. Fasli Jalal, PhD Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK)Depdiknas “Tujuan Ttamanya Agar Kualitas Guru Meningkat.”. Komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kendati anggaran pendidikan sebesar 20 persen diperkirakan baru dapat dipenuhi 2009 mendatang, berbagai kebijakan kea rah perbaikan mutu pendidikan terus dilakukan. Mulai upaya peningkatan standar lulusan sekolah dasar dan menengah, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum, hingga bagian yang terpenting, peningkatan kompetensi para pendidik yang kerap menjadi keluhan terbesar. “Menurut UU, guru harus ikut uji sertifikasi untuk menunjukkan bahwa dia mempunyai kompetensi yang menunjukkan ia seorang profesional.,” jelas Dirjen PMPTK, Depdiknas, Prof Fasli Jalal, PhD ketika diwawancarai KomunikA di kantornya, Senayan, Jakarta (20/04) Berikut adalah petikannya: Apa semangat dari uji kompetensi dan sertifikasi ini? Presiden telah mencanangkan bahwa guru adalah sebuah profesi, maka tentu harus ada perubahan. Dituangkan dalam peraturan perundangan, UU Guru dan Dosen. No 14/2005 yang diudangkan pada 30 Desember 2005. Intinya mengatur bahwa guru dan dosen sebagai sebuah profesi memerlukan kualifikasi dan persyaratan tertentu serta pemberian jaminan. Standarnya demikian.Guru profesional harus punya standar kualifikasi akademik tertentu. Guru S1/D4, dosen S2. kemudian harus ada bukti dalam bentuk sertifikat bahwa memang dia sebagai tenaga profesi. Karenanya dituntut pula untuk memunyai sertifikasi pendidik. Berapa jumlah guru yang akan disertifikasi? Saat ini jumlah pendidik untuk tingkat dasar dan menengah, termasuk madrasah, ada 2,7 juta. Terbanyak di SD sekitar 1¼ juta, kemudian SMP, SMU, SMK, dan terakhir di TK. Angka itu minus dosen yang jumlahnya lebih dari 300 ribu orang. Dari 2,7 juta, belum bisa kita habiskan serentak. Hanya sekitar 900 ribu guru berijazah S1/D4 yang bisa dibawa ke program sertifikasi. Sisanya 1,8 juta kita naikkan dulu standar mereka, baru kemudian kita lakukan sertifikasi kepada mereka. Dan harus dihabiskan dalam 8 tahun ke depan. Disekolahkan? Ya. Tapi tidak sekolah konvensional. Akan menggunakan pola jarak jauh, multimedia, teknologi informasi. Seperti Universitas Terbuka (UT)? Lebih dari sekadar UT. Karena UT kan tergantung tutor di lapangan. Ini dosen benar yang dikirim dari pusat. Kita juga membuat peluang agar saat libur sekolah, guru datang ke kampus. Dana pemerintah pusat semua? Gabungan, dari pribadi, pemerintah daerah, dan juga pemerintah pusat. Kami memberikan bantuan Rp.2 juta/guru/tahun. Kalau dengan UT, dana dari pemerintah pusat saja sudah cukup. Tapi juga harus ada kontribusi dari pemerintah daerah. Kalau universitasnya sekota dengan tempat mengajar, tidak perlu banyak biaya. Tapi, kalau dia memakai universitas yang agak jauh, misal ngajar di Yahukimo, kuliah di Universitas Cendrawasih, Pemda harus lebih bantu. 2007 ini bagaimana?
Tahun ini kami sudah menganggarankan pengadaan uji sertifikasi bagi 190 ribu orang dan akan ditambah 10 ribu. Jadi ada sekitar 200 ribu yang akan mengikuti sertifikasi. Jadi guru-guru yang sudah menunjukkan keprofesionalan mereka yang dibuktikan dengan uji sertifikasi 4 kompetensi tadi, akan diberikan tunjangan sebesar 1 x gaji pokok. Kira-kira Rp.18 juta/tahun.
Apa saja yang diuji? Ada empat hal yang akan dicek. Tergantung jenjang dan mata pelajaran apa dia mengajar. Keempat kompetensi ini berdasarkan studi kami merupakan kualifikasi seorang guru yang profesional.Pertama, kompetensi pedagogik atau kemampuan guru dalam mendidik. Kemudian kompetensi profesional, terkait dengan pemahaman dia tentang bidang studi yang dia ampu. Kalau dia seorang guru fisika, harus tahu benar ilmu fisika itu seperti apa. Ketiga adalah kompetensi sosial, bagaimana dia berinteraksi dengan murid, sesama guru, orang tua, dan sesama masyarakat. Dan terakhir adalah kompetensi kepribadian, di mana guru menunjukkan ciri yang pantas digugu dan ditiru oleh masyarakat dan lingkungan. Kalau dilihat dari keempatnya. Mana yang terbanyak menjadi masalah guru di Indonesia? Kalau guru bidang studi, banyak belum memunyai kualifikasi. Kemudian ada yang mengajar di bidang yang salah, tidak sesuai latar belakang pendidikan. Bagi guru yang latar belakangnya kependidikan, pada umumnya sudah kuat pada kompetensi pedagogik. Sehingga yang harus diperkuat lagi adalah kompetensi profesional. Sedangkan guru-guru yang latar belakangnya nonkependidikan, pada umumnya, lemah pada kompetensi pedagogik. Karena itu ide awalnya dalam UU, bagi guru latar belakang kependidikan akan lebih banyak ditempa pada kompetensi profesional. Yang berlatar belakang nonpendidikan lebih ke pedagogiknya. Guru di luar Jawa? Dikeluhkan belum merata kemampuan dan penyebarannya? Kalau lihat dikotomi Jawa dan luar Jawa atau perkotaan dengan pedesaan, memang ada distribusi yang tidak seimbang. Di mana guru menumpuk di kota atau sekolah maju, sementara di pedesaan atau daerah terpencil sangat kurang.Di daerah-daerah luar Jawa; pedesaan; dan daerah terpencil, distribusi juga menjadi masalah. Pun dengan jumlah guru secara makro, sangat signifikan. Terlebih pada guru matematika, Bahasa Inggris, dan IPA. Dan hal tersebut memang menjadi perhatian kami.
Standar sertifikasi guru di daerah? Standar sama, tidak ada pembedaan sama sekali. Hanya saja kepada mereka dan juga guru lain yang belum berkembang, kita beri pengayaan; pelatihan; dan try out. Dari kelemahan mereka, kita ajak untuk remedial program. Agar guru yang kurang, bisa tahu kelemahannya. Nanti akan kita buat strategi pembelajarannya. Mana yang belajar sendiri, berkelompok di kelasnya, pertemuan kelompok kerja guru atau MGMP. Kami bantu dengan narasumber.
Guru yang tidak lulus sertifikasi? Kita amati di mana kelemahan kompetensinya. Masing-masing kompetensi kan ada indikatornya beda. Misal, dari 10 indikator di kompetensi profesional, jatuh di 4 indikator. Kami buat program remedial untuk memenuhi kelemahan itu.
Jadi ini lebih semacam peningkatan kualitas dan bukan penyeleksian guru? Ya. Uji sertifikasi ini juga kaya dengan pemberdayaan, pengayaan, pelatihan, bukan sekadar datang, ditanya, dilihat, dan dinilai. Tujuan utamanya agar kualitas guru meningkat.
Penilaiannya berjalan kontinyu?
Kalau mereka sudah bersertifikat, berimbas pada peningkatan karir. Setiap gradasi itu akan memberikan otoritas dan kesejahteraan yang lebih tinggi. Sehingga kami harapkan dengan kesejahteraan tadi guru akan meningkatkan kemampuan dan profesionalismenya secara berkelanjutan. Apa ada pinalti kalau di kemudian hari kualitas mereka menurun? Dalam draft PP dikatakan harus ada pembelajaran berkelanjutan. Saya lupa angkanya, minimal 24 jam setahun guru harus menunjukkan bahwa dia selalu melakukan penyegaran keilmuan dengan ikut lokakarya, kursus, workshop, dan seminar. Semua itu nanti akan diberi akreditasi, tanda dia itu memelihara angka yang telah diberikan dalam sertifikasi.
Based on IT nya di mana?
Kami sudah mengembangkan kemampuan antara pusat dan universitas, dengan titik-titik di seluruh kabupaten/kota yang kita sebut dengan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Jardiknas ini memungkinkan hubungan gratis dari semua ICT Centre di semua kabupaten/kota dengan internet ke pusat perguruan tinggi di manapun. Kita bayar bandwithnya. Sudah ada kontak kerjasamaJumlahnya akan menjadi 450an, sejumlah kabupaten/kota. Kemudian ada 82 universitas terkait, modulnya bisa ditransfer dan diunduh (download). Kalau guru yang tinggal sekota dengan titik Jardiknas, punya hubungan dengan wide area network. Gratis. Kalau jauh dari titik Jardiknas, maka terpaksa dia harus ke kantor kecamatan yang akan memfasilitasinya. Kendala dalam uji kompetensi? Karena ini masih baru kita mulai. Tahapan pertamanya adalah penilaian portofolio. Jadi semua guru yang sudah dikuota akan dikaitkan berapa yang harus dibayar mulai tahun depannya. Akan ada kuota bagi guru yang akan disertifikasi, sesuai dengan komposisi guru nasional. Misal jika 1,2 jt adalah guru SD, atau 45 persen, maka kuotanya adalah 45 persen yang dikuota adalah guru SD. Angka ini dibagikan ke kabupaten/kota. Nantinya juga akan merangking guru berdasarkan urutan lama mengajar, usia, tinggi pangkat, dan terakhir tugas tambahan. Tentang honorer?
Kami tidak membedakan hal itu. Asal dia sudah mengajar, pun di swasta. Apakah dia mengajar di sekolah yang punya izin, mengajar minimal 24 jam, sudah S1, kalau semua sudah ok, maka kita masukan ke dalam giliran untuk kuota uji sertifikasi ini.
Ada pendapat, sertifikasi ini main-main. Hanya upaya pemerintah untuk memberikan tambahan tunjangan kepada guru tapi dengan cara yang terlihat elegan. Ada tanggapan?
Sebenarnya UU itu kan sudah representasi dari DPR dan pemerintah. UU itu mengamanahkan ke depan guru Indonesia itu harus profesional. Tanda profesional itu apa? Dibuatlah standar dan sertifikasi.Jika guru baru sudah memenuhi kriteria tadi, maka dia dapat disebut guru profesional. Sehingga wajar jika dia dibayar lebih mahal. Harus dia tunjukkan dulu bahwa dia mengikuti persekolahan yang lebih lama, lebih tinggi gradasinya, lebih profesional baru diikuti pendapatan yang lebih tinggi.
Upaya menambah dan menyebar guru? Kami selalu mendata kekurangan dan kelebihan guru. Kemudian bersama Pemda mendata pengajuan formasi ke MenPAN dan BKN. Dari formasi itu akan diserahkan kepada daerah untuk perekrutan. Tapi pusat memberikan intensif-intensif kepada daerah untuk melakukan redistribusi pada guru-guru yang banyak menumpuk di daerah maju dan perkotaan ke daerah terpencil ataupun pedesaan. Contoh, bantuan rumah, pendidikan untuk anaknya, kemudahan pelatihan, dan lainnya.
Dibanding dengan dosen yang hanya 300 ribu, peluang peningkatan mutu para guru dasar dan menengah, masih jauh tertinggal. Tanggapan?
Dibandingkan dengan dosen, memang belum sebesar itu. Pertama, saat ini kebutuhan yang mendesak, banyak guru yang masih belum terpenuhi kompetensinya. Kalau melihat faktor itu, sebenarnya angka yang kita keluarkan, jauh lebih besar. 190 ribu dari pusat saja. Belum dari daerah. Yang penting untuk dilakukan adalah memenuhi sasaran UU. Nanti pendidikan profesinya juga akan ada beasiswa.
Tentang penerapan UU Guru dan Dosen sudah sampai mana?
Sekarang menunggu peraturan pemerintah. Sudah lama keluar dari Diknas, sedang diharmonisasi di Depkumham. Dan kemudian ditambahkan kepastian dari Depkeu untuk pembiayaan. Dari Depdagri mengenai pembagian tugas pusat dan daerah. Dari MenPAN dan BKN tentang perlakuan terhadap sesama PNS, mengapa guru mempunyai kekhususan. Apakah bertentangan dengan UU yang lain.Kemudian melihat persetujuan perguruan tinggi terhadap pelaksaan uji sertifikasi yang untuk guru-guru tertentu tidak seperti yang tercantum dalam UU 100%. Ada kita carikan penundaannya di dalam PP itu. Ini kan harus disetujui oleh perguruan tinggi.Tapi Mendiknas sudah mendapat persetujuan dari Depkumham. Sambil menunggu PP itu, untuk uji sertifikasi ini, Mendiknas akan mengeluarkan Peraturan Mendiknas saja. Sebagai dasar dari uji sertifikasi. Yang kami harapkan dalam sebulan ini sudah bisa keluar Permen-nya.*** (dimas@bipnewsroom.info)
Bandung, 21 September 2007 Kepada Yth HRD MANAGER CARDI (the Consortium for Assistance and Recovery towards Development in Indonesia) Di Tempat Dengan Hormat, Berdasarkan pengumuman di Website CARDI, bahwa CARDI (the Consortium for Assistance and Recovery towards Development in Indonesia) mengadakan rekruitment tenaga kerja di bidang pendidikan, saya sangat tertarik dengan posisi yang ditawarkan untuk dapat meningkatkan keterampilan kerja dan mendukung visi CARDI. Saya berumur 30 tahun, mempunyai motivasi tinggi, mandiri, jujur, mau bekerja keras, berjiwa kepemimpinan serta mampu bekerjasama dalam tim. Saya aktiv dalam beberapa organisasi di kampus dan masyarakat. Mampu mengoperasikan komputer berbasiskan sistem informasi windows. Saya telah menyelesaikan program sarjana (S1) dari Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Garut (UNIGA). Saya Lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,48 (dalam skala 4,00). Untuk informasi lebih lanjut, dilampirkan beberapa lembar daftar riwayat hidup serta surat keterangan lulus (Ijazah menyusul karena belum keluar) dan fotocopy sertifikat. Dari Laboratorium Micro Teaching. Saya mengucapkan terima kasiha atas perhatian Bapak/Ibu dan sangat berharap untuk dapat segera menerima panggilan dari Bapak/Ibu. Hormat Saya ALIMUDIN HP : 085222542814 alimudinemail@yahoo.co.id
KONSEP DAN KIPRAH PROF. KH. ANWAR MUSADDAD DALAM PENDIDIKAN ISLAM Oleh Alimudin NPM : 9902502023 PROPOSAL SKRIPSI Untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti seminar outline JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS GARUT (UNIGA) KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdulillah wa al-syukru lillah wa ba’du Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadlirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan hidayah dan taufik yang tak pernah terputus pada umatnya. Berkat pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan seluruh aktivitas kuliah, penelitian sampai skripsi ini. Sesuai dengan kajian yang digeluti penulis, tema skripsi ini ditekankan pada : Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam. Setelah melakukan prapenelitian dan penelitian lanjutan selama tiga bulan, tahapn pertama penulisan skripsi ini dilakukan melalui seminar usulan sampai pada ujian skripsi sekarang ini. Ucapan syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Bapak…, selaku Ketua Komis Pembimbing dan Bapak… sebagai anggota komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu dari segudang kesibukannya untuk memberikan bimbingan dan petunjuk dan bimbingan moral keilmuan dalam penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : - Bapak Rektor Universitas Garut yang telah menerima penulis menjadi mahasiswa UNIGA sejak tahun 2005 sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung).
- Bapak Dekan
- Ibu PD I
- Bapak PD II
- Ibu PD III
- Bapak Ketua Bidang Kemahasiswaan
- Bapak KH. Thanthowi Jauhari, dan seluruh Kelurga Prof. KH. Anwar Musaddad (Alm)
- Semua kelauarga, ayahanda Ajengan Muhammad.Engkos Kosim dan Mamah Oto Toyyibah yang telah ….
- Semua rekan-rekan penulis
Hasil skripsi ini belum sempurna, namun rasa hormat penulis serahkan sepenuhnya kepada penela’ah untuk dikritisi dan dinilai sebagai langkah perbaikan. Semoga Allah mencatat dan membalas amal kebaikan dari lubuk hati yang tulus ikhlas dengan balasan yang setimpal. Aamiin… Garut, 17 Mei 2007 Penulis, Alimudin DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Perumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Kerangka Pemikiran E. Langkah-langkah Penelitian BAB II ANALISIS TEORITIS TENTANG ILMU PENDIDIKAN ISLAM A. Pengertian Pendidikan dan Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan 2. Pengertian Pendidikan Islam B. Komponen-Komponen Pendidikan Islam sebagai Alat Analisi 1. Tujuan 2. Pendidik 3. Peserta Didik 4. Kurikulum 5. Metode 6. Alat Pendidikan 7. Lingkungan 8. Evaluasi Pendidikan BAB III KONSEP DAN KIPRAH PROF. KH. ANWAR MUSADDAD DALAM PENDIDIKAN ISLAM A. Biografi Prof. KH. Anwar Musaddad 1. Kisah Hidupnya 2. Corak Pemikirannya 3. Hasil Karya-karyanya B. Konsep Prof. KH. Anwar Musaddad Tentang Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 2. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 3. Pendidik dalam Pandangan Prof. KH. Anwar Musaddad 4. Peserta Didik dalam Pandangan Prof. KH. Anwar Musaddad 5. Materi Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 6. Metode Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 7. Alat Pendidikan 8. Lingkungan 9. Evaluasi Pendidikan Islam C. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad Dalam Pendidikan Islam 1. Pengembangan Depag 2. Mendirikan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 3. Mendirikan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung 4. Menjadi Rektor Pertama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung 5. lembaga-lembaga Pendidikan Yang Didirikan Oleh Prof. KH. Anwar Musaddad : 5.1. Yayasan Al- Musaddadiyah 1. TK Al-Musaddadiyah 2. SD Islam Terpadu Atikah Musaddad 3. SMP Ciledug Al-Musaddadiyah Garut 4. MTS Al-Musaddadiyah Garut 5. Madrasah Aliyah Al-Musaddadiyah Garut 6. SMK Ciledug Al-Musaddadiyah 7. SMU Ciledug Al-Musaddadiyah 8. Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Musaddadiyah 9. Sekolah Tinggi Teknologi Garut 10. Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah 11. Majelis Ta’lim Mingguan 5.2. Yayasan UNIGA * Universitas Garut BAB IV ANALISIS ILMU PENDIDIKAN ISLAM TENTANG KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PROF. KH. ANWAR MUSADDAD 1. Tujuan 2. Pendidik 3. Peserta Didik 4. Kurikulum 5. Metode 6. Alat 7. Lingkungan 8. Evaluasi Pendidikan BAB V PENUTUP A Kesimpulan B. Implikasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP PENULIS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan nasional, dimana dikatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Maka fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan). Dalam konteks tersebut diperlukan kesinambungan transfer of knowledge dan transfer of values serta transfer of attitudes dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui transformasi pendidikan. Transformasi pendidikan dilakukan salahsatunya melalui usaha penela’ahan terhadap berbagai pemikiran mendasar mengenai konsep dan landasan filosofis serta aplikasi praktis dari para tokoh pendidik terdahulu. Dimana mereka telah sukses membangun dan mengembangkan pendidikan melalui cara dan usaha yang tiada pernah mengenal lelah. Prof. KH. Anwar Musaddad adalah salahsatu tokoh dari sekian banyak tokoh pendidikan di tanah air, beliau tidak saja berkiprah di tingkat regional saja, sampai ke tingkat nasional bahkan internasional beliau dikagumi dengan kegigihannya dalam mengembangkan dunia pendidikan supaya berhasil mencapai tujuannya. Salahsatu ukuran keberhasilan suatu pendidikan menurut Prof. KH. Anwar Musaddad ialah umat itu harus menjadi khoiru ummah. Artinya,bagi umat adalah fitrah yang asasi untuk mentasdikkan diri sebagai khoiru ummah. Jika tidak menjadi khoiru ummah, bisa diartikan sebagai pengabaian fitrah. Secara sederhana, Beliau mencontohkannya dengan “waktu” yang senantiasa bergerak kedepan, waktu senantiasa menjadi acuan orang-orang professional dan religius, waktu yang dianalogikan dengan jam tangan mengandung makna yang dalam meski dalam perumpaan yang bersahaja. Jelas bahwa konsep khoiru ummah ini diambil dari khazanah pemikiran filsafat pendidikan Islam beliau. Konsep pendidikan Islam adalah sebuah konsep yang secara jelas dan seimbang mendistribusikan tugas-tugas kemanusiaan. Islam tidak pernah memberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Konsep ini tidak akan pernah salah, tidak memiliki keterbatasan, dan tidak mungkin mengandung perintah dan tugas yang tidak dapat dilakukan. Penyebabnya tentu saja, karena konseptornya adalah Allah SWT. Dalam kaitan tersebut maka pendidikan Islam adalah sebuah keniscayaan, baik secara konseptual maupun secara nyata dilapangan akan dan selalu teruji dalam setiap masa. Walaupun dalam relaitasnya sesuai dengan pemikiran dan perkambangan zaman yang ada. Tetapi secara prinsifil tetap sama. Bersumber dari Sumber segala ilmu yaitu Allah SWT yang diejawantahkan secara nyata oleh kita sebagai kaum pendidik, sebagai bagaian dari waratsatul anbiya, pewaris para nabi. Ahmad Tafsir (1994) menyatakan bahwa pendidikan dalam Islam merupakan Bouyer (1980:42-55) mengatakan bahwa ada tiga….. ……….(Jantzen, 1995:295)…….. (Salamah, 1998:7) 1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah Berdasarkanlatar belakang penelitian diatas, maka penelitian ini akanmemfokuskan pada permasalahan Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam. Berkaitan dengan itu, penelitian ini akan mejawab pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana corak pemikiran Prof. KH. Anwar Musaddad dalamberbagai aspek pendidikan yang diterapkan di lembaga yang dipimpinnnya (Pesantren, Sekolah dan Perguruan Tinggi)? 2. Bagaiman Bentuk Praksis dari pemikiran Prof. KH. Anwar Musaddad atas lembaga yang didirikan dan dikembangkannya? 3. Apakah Konsep/pemikiran Prof. KH. Anwar Musaddad dalam bidang pendidikan Islam tersebut masih relevan untuk diterapkan di masa sekarang ? 4. Sejauhmana factor keluarga, lingkungan, situasi social dan politik serta lainnya telah mempengaruhi Konsep Prof. KH. Anwar Musaddad ? 5. Bagaiman Konsep Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Keluarga 6. Bagaiman Konsep Pendidikan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan dan dakwah di masyarakat 7. Bagaimana gambaran perjuangan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam 8. Bagaimana Kiprah Prof KH. Anwar Musaddad dalam pendidikan Islam dan Dakwah di Masyarakat 9. Apa metode yang dipakai Bapak Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam 10. Apa Media yang diganakan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam mendidika Generasi Khairu Ummah 11. Hikmah yang didapat dari Pemikiran dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad Selanjutnya, demi kejelasan arah penelitian skripsi ini, penulis terlebih dahulu menjelaskan beberapa istilah yang ada dalam judul, seperti istilah konsep, kiprah, pendidikan, dan pendidikan Islam. Kata pendidikan terdiri dari kata didik yang mendapat awalan pen dan akhiran an yang berarti memelihara dan memberikan latihan,1 atau cara mendidik.2 Dalam bahasa Inggris kata pendidikan atau education yang berarti mengasuh.3 Dalam bahasa Arab kata pendidikan merupakan terjemahan dari kata tarbiyah yang berarti memelihara. Kata Tarbiyah sering disinonimkan dengan kata ta’lim yang berarti pengajaran, dan ta’dib yang berarti pembentukan tindakan atau tatakrama yang sasarannya khusu kepada manusia.4 Di kalangan pakar pendidikan Islam terdapat perbedaan penggunaan istilah tarbiyah, ta’lim dan ta’dib yang secara prinsip istilah-istilah itu mengacu kepada arti pendidikan. Namun, dalam tulisan ini atau skripsi ini istilah yang digunakan adalah tarbiyah yang berarti memperbaiki, mengurusi urusan, menuntun,menjaga, menumbuhkan dan memelihara. Secara istilah pendidikan Islam dapat mengandung arti mengubah tingkah laku individu atau perorangan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan kehidupan alam sekitarnya melalui proses pendidikan. Perubahan-perubahan tersebut harus melalui bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hokum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Cat kaki : 1. Tim Balai, Kamus Besar, h 564 2. W.I.S Poerwadarminto. Kamus Umum h 250 3. 3.1. Maksud dan Tujuan Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui dan memperoleh gambaran secara komprehensif dan holistic tentang Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan islam sehingga dapat diambil ibroh dan sebagai pijakan landasan filosofis bagi berkembangnya dunia pendidikan Islam. Adapun tujuan dari penelitian ini, untuk memahami pendapat Prof. KH. Anwar Musaddad (Prof. KH. Anwar Musaddad) melalui kajian buku Prof. KH. Anwar Musaddad, wawancara dengan Keluarga, Sahabat dan kolega serta murid,murid Prof. KH. Anwar Musaddad. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pemikiran pendidikan Islam, Selain itu pula untuk mendapat kejelasan dari para ahli pendidikan bagaimana konsep Prof. KH. Anwar Musaddad relevan dengan maju dan berkembangnya dunia pendidikan Islam baik secara individu, maupun kelembagaan, bangsa dan Negara serta dunia Islam secara keseluruhan. 3.2. Kegunaan Penelitian Hasil Penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan bagai pemnegmbangan ilmu pendidikan Islam serta guna laksana. Adapun bagi pengembangan studi Pendidikan Agama Islam, manfaatnya antara lain : 1. Sebagai landasan filosofis mengembangkan pendidikan Islam 2. Memunculkan Teori pengembangan pendidikan Islam’ 3. Aspek gunalaksana dimana para pendidik, peserta didika dan seluruh komponen yang berkiprah dalam dunia pendidikan untuk mengambil hikmah dan mengamalkan makna tersirat dari konsep dan kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam pendidikan Islam. 3.3. Kerangka Pemikiran Menurut Comte (dalam Jonson, 1986:84) bentuk perubahan….. Adapun sebab perubahan…. (Astrid,1979:1780) Kenyataan diatas sejalan dengan pernyataan Durkheim (1912) bahwa….. Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam | Analisis Ilmu Pendidikan Islam Tentang Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad | Langkah-langkah Penelitian Penelitian ini merupakan perpaduan antara penelitian literatur (library research) dan penelitian lapangan (field research). Untuk mengumpulkan literatur, peneliti menggunakan metode dokumentasi. Sementara itu, untuk mengumpulkan data di lapangan peneliti menggunkan metode observasi, wawancara dan diskusi. Selanjutnya, peneliti menganalisis literatur/data dengan metode komparatif untuk mengungkap lebih dalam persamaan dan perbedaan struktur nalar kedua pesantren tersebut dan keterkaitan nalar keilmuan dengan metodologi pengajarannya. Langkah-langkah penelitian ini, yang akan ditempuh selanjutnya adalah sebagai berikut : 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Yang dimaksud jenis kualitatif menurut Margono (2000: 46), adalah deskriftif, diantaranya: “dokumen-dokumen pribadi, berupa kata-kata yang dimiliki masyarakat setempat, catatan-catatan lapangan, hasil-hasil foto, catatan-catatan resmi dan hasil lainnya. Dalam penelitian ini data kualitatif didasarkan pada analisi deskriftif pemikiran tokoh. Cik Hasan Bisri (1997: 64) menjelaskan, jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan terhadap masalah yang dirumuskan pada tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, jenis data tersebut diklasifikasikan sesuai butir-butir pertanyaan yang diajukan, dan sumber dari jenis data yang tidak relevan dengan pertanyaan tersebut walaupun dimungkinkan penambahan sebagai pelengkap. 2. Sumber Data Menurut Lofland yang dikutif Moleong (200: 112) sumber data dalam penelitiankualitatif adalah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dapat berupa bahan pustaka, yaitu buku, majalah, surat kabar, dokumen resmi dan catatan harian (Cik Hasan Bisri, 1997: 64) Dilihat dari sumbernya, data yang diangkat adalah data yang bersumber pada buku-buku yang menunjang pada masalah yang akan diteliti, pengarsipan dan sumber data tertulis. Dan sekian banyak data yang terkumpul , maka dipilh sumber data yang diklasifikasikan ke dalam: pertama, sumber data primer, adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati dan diwawancara dan dicatat dengan catatan tertulis atau melalui alat perekam, pengambilan foto atau film. Penulis mengambil data dari buku-buku dan karya-karya tokoh atau dari catatan tertulis yang ada. 3. Metoda dan Teknik Pengumpulan Data 4. Analisis Data 5. Membuat Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA - Buku Kenang-kenangan Kawin Emas Rd. H. Atikah Binti Rd. KH. Qurtubi dengan Prof. KH. Anwar Musaddad
- Biogrsfi Prof. KH. Anwar Musaddad, dalam terbitan
- Sosialisme Tarekat : Menjejaki Tradisi dan Amaliah Spiritual Sufisme, Penerbit Humaniora.
- IAIN Sunan Gunung Jati, Pemikiran danPengabdian Prof. KH. Anwar Musaddad: Memori Ulang Tahunke 90 (Bandung : IAIN Sunan Gunung Djati, 1999), hal 42-43
- Transformasi Otoritas Keagamaan : Pengalaman Islam Indonesia, Penyunting Jajat Burhanudin & Ahmad Baedowi, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, PPIM-UIN Jakarta dan Depag. Cetakan 1 : 1.2003
- Kontribusi dan Pemikiran Anwar Musaddad (1909-2000) Tentang Ilmu Perbandingan Agama, HA. Farichin Chumaidy
- A. Musaddad
1969, Kedudukan Injil Barnabas Menurut Pandangan Islam, Pidato Dies Disampaikan Pada Dies Natalis I, IAIN Sunan Gung Djati Bandung. ----------------- 1970, Kedudukan Injil Barnabas dalam Al-Jamiah, No 1 Tahun IX, Januari 1970 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. ----------------- 1970, Sambutan Rektor IAIN Sunan Gunung Djati dalam Terjemahan Injil Barnabas, CV Pelita Bandung-YAPI Surabaya. - Garut. Online
- UNIGA Online
LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP PENULIS Nama : Alimudin Tempat Tanggal Lahir : Garut, 20 Februari 1977 Nama Istri : Yulia Alimudin (menikah 05 Des 2004) Nama Putri : Najma Zahra Firstaliya Alamat : Kp. Cipanas, RT 02 RW 08 Desa Sukahaji Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut
Riwayat Pendidikan : 1. SDN Wanakerta III Kertajaya Cibatu Garut 2. SMPN I Cibatu Garut 3. SMAN I Cibatu Garut 4. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, masuk 1997 (tidak selesai) 5. Universitas Garut (UNIGA) masuk 2005 – sekarang 6. Pesantren Keresek Cibatu – Garut 1993 - 1996 7. Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyyah Ciamis, 1996
Pengalaman Organisasi : 1. Ketua Majelis Permusayawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung periode 2001 – 2002 2. Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung periode 2001 – 2002 3. Ketua Kongres Kelompok Pengkajian Mahasiswa Jawa Barat (KPMJB), 1998 4. Presidium Konsorsium Mahasiswa Kota Bandung (KMKB) 5. Relawan Youth Ending Hanger (YEH ) Chafter Bandung 6. Valounter UNFREL, 1999 7. Anggota Caraka Sundanologi, tahun 2001 8. Anggota Teater Adzikr Daarut Tauhid Bandung 9. Relawan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Jabar 2005 10. Pembina No Face Garut Motor Club (GMC),2004 11. Ketua Bidang Kajian Strategis Pengurus Besar Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) tahun 2004
Pengalaman Training : 1. Training Jurnalistik ICMI Orwil Jabar 6 - 9 Des 2001 2. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa Komisariat FPBS UPI 3. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) HIMA Bahasa Asing UPI Bandung tahun 1997 4. Latihan Keterampilan Manajemen mahasiswa (LKMM) BEM FPBS UPI tahun 2000 5. Training Instruktur Belajar Al-Qur'an Intensif (BAQI) DKM Al- Furqon UPI Bandung 6. Pelatihan Manajerial dan Kewirausahaan Dinas KUKM Jabar TA 2005
Pengalaman Kerja : 1. Marketing Eksekutif PT Astra Internasional Tbk – Nissan Diessel 2002 2. Marketing Eksekutif PT Turbo Motor Indonesia tahun 2003 – 2004 3. Anggota TIM Survey masalah Pedagang kaki lima Pemda Kotamadya Bandung 4. Tim Data Entry Penghitungan Suara Pemilu 2004 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Propinsi Jawa Barat 5. Asisten Peneliti Wakaf untuk Keadilan Sosial, kerjasama Universitas Islam Negeri Jakarta dengan Ford Foundation 2005. 6. Direktur CV. Bismillaah Visi Mandiri, Akta Notaris Dini Badar SH No 8
Karya Tulis : 1. Artikel di Koran Indonesia Indonesia, " Supremasi Sipil di Era Transisi Demokrasi" 2. Makalah,"Menjadi Aktivis : Sebuah Pilihan Yang Salah ?" Disampaikan pada Pelatihan Keterampilan Manajemen mahasiswa (LKMM) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) 3. "Teknik Persidangan dan Manajemen Konflik" Pada Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa STT Telkom 4. “Pendidikan Islam di Era IPTEK” makalah Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam 2006 DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’ân al-Karîm Abdullah, M. Amin, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer, Mizan, Bandung, 2000. ____________, “Epistemologi Pendidikan Islam: Mempertegas Arah Pendidikan Nilai dalam Visi dan Misi Pendidikan Islam dalam Era Pluralitas Budaya dan Agama,” dalam Makalah pada Seminar dan Lokakarya Ilmu Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 21 Pebruari 2000. al-Abrasyi, Muhammad ‘Atiyah, Al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Dar a-Fikr al-Arabi, Kairo, t.t. Abus, Abdul Gani, Fî al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Dar al-Fikr al-Arabi, Kairo, 1977. Ali, H. B. Hamdani, Filsafat Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta, 1993. Anshori, Endang Saifuddin, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1983. Arifin, M., Filsafat Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta, 1994. Arkoun, Mohammed, Târîkhiyyat al-Fikri al-‘Arabî al-Islâmî, Markaz al-Inma’ al-Qaumi, Beirut, 1986. Ashraf, Ali, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1989. Al-Attas, Muhammad al-Naquib (Ed.), Aims and Objectives of Islamic Education, King Abdul Aziz University, Jeddah, 1979. _________, Konsep Pendidikan Islam, terj. Sori Siregar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1989. Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999. _________, Jaringan Ulama Timur Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII: Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1994. Banardib, Imam, Filsafat Pendidikan Islam: Sistem dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta, 1994. _________, Filsafat Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan, Andi Offset, Yogyakarta, 1986. _________, Dasar-dasar Kependidikan: Memahami Makna dan Perspektif Beberapa Teori Pendidikan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1996. _________ dan Sutari, Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan, Andi Offset, Yogyakarta, 1986. Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1995. Brameld, Theodore, Philosophies on Education in Cultural Perspective, Holt, Rinehart and Winston, New York ,1955. Brubacher, John S., Modern Philosophies of Education, Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd., New Delhi, 1978. Bruinessen, Martin van, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa dan Pencarian Wacana Baru, LKiS, Yogyakarta, 1994. _________, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1995. Burr, John R., and Guldinger Milton, Philosophy and Contemporey Issues, Upper Saddle River, New Jersey, 1995. Butler, J.D., Four Philosophies and Their Practice in Education dan Religion, Harper and Brothers, New York, 1951. Cottingham, John, (ed.), Western Philosophy: An Anthology, Blackwell Publishers Ltd., Oxford, 1996. Dahlan, Dikdik L. Dkk., Pondok Pesantren Darul Arqam: Potret Sekolah Kader Ulama Muhammadiyah, PB IKADAM, Bandung, 1996. Daradjat, Zakiyah dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Ditjen Binbaga Islam, Depag RI dan Bumi Aksara, Jakarta, 1991. Dar, Bahir Ahmad, Etika Qur’an, terj. Yusuf Sobirin, Pustaka Litera antar Nusa, Jakarta, 1993. Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1996. Departemen Agama RI, Pesantren: Profil Kyai, Pesantren dan Madrasah, Badan Litbang Agma, Jakarta, 1981. _________, Direktori Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pembinaan Klembagaan Agama, Jakarta, 2000. Dhofier, Zakhsyari, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pendangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1982. Fakhruddin, A.R., Muhammadiyah Abad XV Hijriyah, 70 Langkah ke Depan, Harapan Melati, Jakarta, 1985. _________, Mubaligh Muhammadiyah, Harapan Melati, Jakarta, 1985. Grunber, Frederich C., Historical and Contempory Philosophies of Education, Thomas Y. Crowell Company, New York, 1973. Hanafi, Hassan, Dirâsat Falsafiyyat, Maktabah al-Anjilo al-Mishriyah, Kairo, 1987. _________, Dirâsat Islâmiyyah, al-Anjilo al-Mishriyah, Kairo, 1987. Haniefah, Abu, Upaya Mencari Cara yang Tepat: Bagaimana Menghadapi Santri di Darul Arqam, PP. Darul Arqam Muhammadiyah Daerah Garut, Garut, 1987. Harun, Luqman, Muhammadiyah dan Asas Pancasila, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986. Haryono, Abu Syam, Pendidikan Nahdlatul Ulama: Untuk Mengenal dan Menghayati Perjuangan Nahdlatul Ulama, 3 Jilid, Cahaya Ilmu, Surabaya, 1981. al-Jabiri, Muhammad Abed., Al-Turâts wa al-Hadâtsah: Dirâsah wa Munâqasyah, Al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, Beirut, 1991. _________, Takwîn al-‘Aql al-‘Arabî, Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyas, Beirut, 1991. _________, Bunyah al-‘Aql al-Arabî: Dirâsah Tahlîliyyah Naqdiyah li Nuzhûm al-Ma’rifah fî al-Tsaqâfah al-‘Arabiyyah, Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyah, Beirut, 1992. _________, Nahnu wa al-Turâts: Qirâ’ah Mu’âshirah fî Turâtsinâ al-Falsafi, Al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, Casablanca, 1986. al-Jamali, Muhammad Fadil, Tarbyiyah al-Insân al-Jadîdi, Al-Syirkah al-Tunisiyah li al-Tauzi, Tunis, 1967. _________, Nahnu al-Tarbiyyah al-Mukîminah, Al-Syirkah al-Tunisiyah li al-Tauzi, Tunis, 1977. Jalal, Abdul Fattah, Azas-azas Pendidikan Islam, terj. Herry Noer Ali, Diponegoro, Bandung, 1988. al-Jumbulati, Ali, Perbandingan Pendidikan Islam, terj. M. Arifin, Rineka Cipta, Jakarta, 1994. al-Kailani, Majid Irsan, Falsafatu al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Maktabah al-Hadi, Mekah, 1988. _________, Tathawwuru Mafhûmi al-Nadhariyyah al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Maktabah Dar al-Turats, Madinah, 1987. Karim, M. Rusli, Dinamika Islam di Indonesia: Suatu Tinjauan Sosial dan Politik, Hanindita, Yogyakarta, 1985. Kneller, George F., Movements of Thought in Modern Education, John Wiley & Sons Inc., New York, 1984. Knight, George R., Issues and Alternatives in Educational Philososphy, Andrews University Press, Michigan, 1982. Langgulung, Hasan, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1980. _________, Manusia dan Pendidikan, Pustaka al-Husna, Jakarta, 1989. Ma’arif, A. Syafi’i, Independensi Muhammadiyah di Tengah Pergumulan Pemikiran Islam dan Politik, Pustaka Cidesindo, Jakarta, 2000. Machfoedz, Maksoem, Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama, Yayasan Kesatuan Timmah, Surabaya, t.t. Madjid, Nurcholish, Pintu-pintu Menuju Tuhan, Paramadina, Jakarta, 1994. _________, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan, Bandung, 1998. Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, “Menyemai Tunas Harapan Umat,” Booklet. _________, Buletin Jumpa Pula, Yogyakarta, 1981. Manzur, Ibnu, Lisân al-‘Arab, Dar al-Mishriyah li al-Ta’lif wa al-Tarjamah, Mesir, 1960. Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1980. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994. Masyhuri, H.A. Aziz, NU dari Masa ke Masa, NP, Jombang, 1983. al-Maududi, Abu A’la, Towards Understanding Islam, WAMY, Pakistan, 1976. Meyer, Adolph E., The Development of Education in The Twentieth Century, Englewood Cliffs, N.J. Princes Hall Inc., Tokyo, 1949 Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1996. _________, Ilmu Pengetahuan dan Perubahan Sosial: Suatu Teori Pendidikan, Edisi IV, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1993. Mulkan, Abdul Munir, Warisan Intelektual KH. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah, Percetakan Persatuan, Yogyakarta, 1990. Munir, Abdul dan Ahmad Arwani Bauis, Pokok-pokok Ajaran NU dan Masa Depan Umat, Ramadhani, Solo, 1989. Mursi, Muhammad Munir, Al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah, Maktabah al-Nahdah al-Mishriyah, Kairo, 1975. al-Nadwi, Abu al-Hasan, Nahwa al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah al-Hurrah, al-Mukhtar al-Islami, Kairo, 1974. al-Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, terj. Shihabuddin, Gema Insani Press, Jakarta, 1996. Nasr, Sayyed Hossein, Islamic Studies: Essays on Law and Society: The Sciences and Philosophy and Sufism, Librairie Du Liban, Beirut, 1967. __________, Science and Civilization in Islam, New American Library, New York, 1970. Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam, Penerbit UI, Jakarta, 1982. Oepen, Manfred dan Wolfgang Karcher (eds.), The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indoensia, P3M, Jakarta, 1988. Phasa, Musthafa Kamal dan Darban Adaby, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dalam Perspektif Historis dan Ideologis, LIPPI, Yogyakarta, 2000. Pengurus Pusat Muhammadiyah, Anggaran Dasar Muhammadiyah, Persatuan, Yogyakarta, 1990. __________, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, Persatuan, Yogyakarta, 1990. __________, Petunjuk Pelaksanaan Program Pendidikan Muhammadiyah, Persatuan, Yogyakarta, 1990. __________, Keputusan No. 30/PP/1989, Qaidah Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta: 1989. Poedjawijatna, I.R., Pembimbing Ke arah Alam Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1986. Price, Kingsly, Education and Philosophical Thought, Allyn and Bacon Inc., Boston, 1962. Prasodjo, Sudjoko dkk., Profil Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren Lain di Bogor, LP3ES, Jakarta, 1982. Quick, Robert Herbert, Essays on Educational Reformers, Littlefield, Adam & CO., New Jersey, 1970. Rahardjo, M. Dawam, Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah, P3M, New Jersey, 1985. _________ (ed.), Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1974. Salam, Solichin, KH. Hasyim Asy’ari: Ulama Besar Indoensia, Djaja Murni, Jakarta, 1963. Smith, Samuel, Ideas of the Great Educators, Barnes and Noble Books, New York, 1979. Soekardi, Heru, Kyai Haji Hasyim Asy’ari, Depdikbud, Jakarta, 1980. Suriasmantri, Jujun S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994. Sudarminta, J., Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta, 2002. al-Syaibani, Omar Muhammad al-Toumy, Filsafat Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta, 1979. Syam, Muhammad Noer, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1984. Team PDP, Tebuireng dari Masa ke Masa, PP. Tebuireng, Jombang, t.t. Wahid, Abdurrahman, Bunga Rampai Pesantren, Dharma Bakti, Jakarta, 1995. _________, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, LKiS, Yogyakarta, 2001. Weber, Christian O., Basic Philosophies of Education, Holt Rinehart and Winston, New York, 1970. Wirjosukarto, Amir Hamzah, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran oleh Pergerakan Muhammadiyah, UP Ken Mutia, New York, 1966. _________ (ed.), KH. Mas Mansur: Pemikiran tentang Islam dan Muhammadiyah, Hanindita, Yogyakarta, 1986. _________, Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah dalam Pembangunan Semesta, UP Ken Mutia, Malang, 1965. Yacub, H.M., Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa, Angkasa, Bandung, 1985. Yusuf, Slamet Efendi, Mohammad Ichwan Syam dan Masdar Farid Mas’ud, Dinamika Kaum Santri: Menelusuri Jejak dan Pergolakan Internal NU, Rajawali, Jakarta, 1983. Zaid, Nars Hamid Abu, Naqd al-Khitâb al-Dîn, Sina li al-Nasyr, Kairo, 1994. _________, Al-Tafkîr fî Zamân al-Tafkîr, Sina li al-Nasyr, Kairo, 1994. _________, Isykâliyyat al-Qirâ’at wa Âliyyât al-Ta’wîl, Al-Markaz al-Tsaqafi al-Arab, Beirut, 1994. _________, Al-Ittijâh al-‘Aqli fî al-Tafsîr: Dirâsat fî Qadliyyat al-Majâz fî al-Qur’ân inda al-Mu’tazilah, Al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, Beirut, 1996. al-Zurnuji, Syeikh, Ta’lîm al-Muta’allim, Al-Maktabah al-Mishriyah, Mesir, 1940. Zemek, Manfred, Pesantren dalam Perubahan Sosial, P3M, Jakarta, 1986. Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1979. Majalah: Muhammadiyah, Edisi 1 Januari 1922. Muhammadiyah, Edisi 2 Januari 1976. Muhammadiyah, Edisi 24 Januari 1931. Muhammadiyah, Edisi 31 Januari 1931. Muhammadiyah, Edisi 15 Agustus 1980. Muhammadiyah, Edisi 18 September 1985. Muhammadiyah, Edisi 22-23 Desember 1985. Muhammadiyah, Edisi 16 Agustus 1996. Muhammadiyah, Edisi 12 Juni 2000. Muhammadiyah, Edisi 15 Agustus 2000. Muhammadiyah, Edisi 16 Agustus 2000. ----------------------------------------------------------------------- Endnotes: [1] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (terj.) Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), hlm. 76; lihat juga Harold H. Titus dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, (terj.) H.M. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 20. [2] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 18-19. [3] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 114. [4] Amin Abdullah, “Epistemologi Pendidikan Islam: Mempertegas Arah Pendidikan Nilai dalam Visi dan Misi Pendidikan Islam dalam Era Pluralitas Budaya dan Agama,” dalam Makalah pada Seminar dan Lokakarya Ilmu Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 21 Pebruari 2000, hlm. 1. [5] Imam Banardib, Filsafat Pendidikan Islam: Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), hlm. 21. [6] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 157. [7] Pengertian kitab kuning seperti ini sengaja penulis melakukan mengingat realitas di pesantren, bahwa kitab-kitab yang diajarakan di pesantren itu meliputi karya-karya pemikir muslim Indonesia, seperti karya Syekh Nawawi Banten. [8] Dalam penelitian ini pengertian epistemologi tersebut dijadikan pijakan dasar. Karena itu, peneliti mengasumsikan epistemologi sebagai struktur keilmuan. [9] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 51. [10] Team BPS Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, 1992, hlm. 17. [11] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 173. [12] Wawancara dengan Drs. Setiadi, Pembantu Direktur I Bidang Akademik, Tanggal 7 Mei 2002. [13] Departemen Agama RI, Direktori Pondok Pesantren, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2000), hlm. 306. [14] Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Laporan Direktur kepada PP Muhammadiyah, Yogyakarta: 1986, hlm. 5. [15] Kurikulum Takhashshush Madrasah Aliyah Tebuireng Tahun Pelajaran 2001-2002. [16] Wawancara dengan Drs. Setiadi, Pembantu Direktur I Bidang Akademik, Tanggal 7 Mei 2002. [17] Misalnya, pendapat Imam Syafi’i dikutip dengan disertai landasan al-Hadits, dalam Muqarraru al-Fiqh, Jilid IV, Kelas IV, hlm. 23. [18] Misalnya, dalam Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’în bi Syarhi Qurrati al-‘Ayn, (Semarang: Usaha Keluarga, t.t.), hlm. 25. [19] Lihat Muqarrar al-Tafsîr, Jilid V, hlm. 45-46. [20] Lihat Zainuddin al-Malibari, op.cit., hlm. 33-34; juga Syeikh al-Zurnuji, Ta’lîm al-Muta’allim, (Mesir: Al-Maktabah al-Mishriyah, 1940), hlm. 23. [21] Martin van Bruissen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 30. [22] Lihat karya-karya al-Ghazali yang digunakan pada pesantren Tebuireng, misalnya Bidâyat al-Hidâyah, Minhâj al-‘Âbidîn dan Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn. [23] Benedict Anderson, “Bahasa Politik Indoensia,” dalam Yudi Latif (ed.), Bahasa dan Kekuasaan, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 128. [24] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 19. [25] Mastuhu, op.cit., hlm. 69. [26] Wawancara dengan salah satu Pengurus Forum Diskusi Salaf, tanggal 3 Oktober 2002. [27] Wawancara dengan Ta’mir Masjid, Ustadz Pengajar Bahasa Arab, Tanggal 24 November 2002. DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.4 Kegunaan Penelitian 1.5 Kerangka Pemikiran 1.6 Asumsi Dasar 1.7 Lokasi Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perspektif Tasawuf dan Tarekat 2.2. Persepktif Transformasi dan Struktur 2.3. Perspektif Teori Perubahan Sosial 2.3.1. Perspektif Teori Tindakan Max Weber 2.3.2. Perspektif Struktural Fungsional Talcott 2.3.3. Perspektif Teori Simbolik Clifford Geertz 2.3.4. Perspektif Teori Konflik Karl Marx 2.4. Perspektif Teori Millah tentang Kh. Anwar Musaddad dalam pemikiran Perbandingan Agama BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode yang digunakan 3.2. Sasaran Penelitian 3.3. Sumber Data dan Cara Menentukannya 3.4. Operasionalisasi Konsep 3.4.1. Konsep Pendidikan Islam 3.4.2 Konsep Pendidikan Barat 3.4.3. Konsep Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 3.4.4. Penerapan Konsep Pendidikan Islam di Masyarakat 3.5. Teknik Analisis Data 3.5.1 Reduksi Data 3.5.2 Display Data 3.5.2 Kesimpulan dan Verifikasi 3.6. Teknik Pemerikasan Keabsahan Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Sejarah Singkat Prof. KH. Anwar Musadad 4.2. Pembahasan 4.2.1. Konsep Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.1. Definisi Pendidikan Islam menurut Prof. KH. Anwar Musassad 4.2.1.2. Falsafah Pendidikan Islam Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.3. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.4. Materi Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.5. Pendidik dan Peserta Didik Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.6. Metoda Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.7. Bagaiman Islam dalam Pendidikan 4.2.1.8. Pembinaan Pendidikan Keluarga Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad 4.2.1.9. Integrasi Sekolah dengan Pesantren 4.2.2. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam 4.2.2.0. Kabid Pendidikan Agama Islam Depag 4.2.2.1. Memelopori Pendirian IAIN Sunan Kalijaga 4.2.2.2. Pendiri IAIN SunanGunung Jati 4.2.2.3. Mendirikan Yayasan Al-Musaddadiyah - TK. Al-qur’an - SD Ciledug - SMP Ciledug - SMA Ciledug - STAI Al-Musadaddiyah - STTG 4.2.2.4. Mendirikan Yayasan UNIGA - Universitas Garut (UNIGA) 4.2.3. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Bidang Lain 4.2.3.1. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 5.2. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP PENULIS Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji."
KONSEP DAN KIPRAH
PROF. KH. ANWAR MUSADDAD
DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh
Alimudin
NPM : 9902502023
SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu syarat ujian
guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam
Jurusan Studi Ilmu Pendidikan Islam
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS GARUT (UNIGA)
Sebuah Persembahan :
Puji Syukur Kepada Allah sumber cahaya dan Ilmu yang telah memperlihatkantanda-tanda kekuasaanNya di langit dan bumi dan mengagungkan serta meninggikan derajat mereka yang berilmu. Sholawat dan salam tercurah pada Sang panutan Rasulullah SAW, keluarga, shahabat danumatnya.
Skripsi ini dipersembahkan kepada Mamah (Oto Toyyibah) sareng Apa (Muhammad Engkos Kosim) yang telah lama menunggu selesainya penulis dalam studi ini, yang dengan do’a, kasih sayang dan kesabaran beliau keduanya dalam mendidik penulis hingga sekarang dan sepanjang masa. Kepada Mamah Mertua (Euis Sutini) dan Apa (Encep Sudrajat) yang dengan cinta dan kasih sayang tulusnya memberikan dorongan moril dan materil serta keteguhan bersama istri mengarungi bahtera kehidupan ini.
Buat Istri tercinta Yulia Alimudin yang tetap setia dan sabar mendampingi dan sumber insfirasi pertama bagi penulis dan putriku tersayang sang bintang cemerlang Najma Zahra Firstaliya semoga engkau seperti putri Rasul Fatimatuzzahra aamiin….
Kakak-kakakku tercinta : Rohaesih SPd dan Kang Asepnya, A Pulloh + the Surtini, Drs Jamaluddin dan Teh Ely, Teh Aam Salamah dan Jaenuddin. Serta para keponakanku Agus ST, Nanang Suryadi SE, NinanMirah Asih, Wina, Kang Deden SH, Diki, Neng Intan, Iin, Deden, Salwa, Hafid, Hanif, Marjan, Raihan, Ulfah, Desi, Ridwan, Dikdik, Nisa, Aisyah dan semua keluarga yang tak bisa disebutkan disini satu persatu. Termasuk Anda yang membaca naskah ini, penulis ucapkan terima kasih.
Ucapan Terima Kasih :
- Kepada H. Dada Rosada SH MSi (Walikota Bandung) dan Kang Hendi Sutresna SPd yang telah memberikan dorongan moril dan materil tak terhingga kepada penulis dari mulai ketika masih di UPI sampai sekarang
-Kepada Rakanda DR. H. Ali Anwar Yusuf MSi dan Rakanda Prof. DR. Ali Ramdhani MT yang telah memberikan dorongan dan rekomendasi kepada penulis untuk meneruskan kuliah di Universitas Garut (UNIGA).
- Kepada bapak Ujang Nurjaman SAg MSos yang memberikan suffort pertama untuk pemilihan judul skripsi ini.
- Kepada Bapak Irman SE yang telah memberikan buku pertama bagi referensi skripsi ini. Yang memberikan semangat untuk memulai
- Kepada Bapak Ahmad Izzan MAg sang guru teladan saya yang telah membantu memberikan buku referensi dan pengayaan materi dan pembenahan sistematika skripsi ini.
- Kepada Bapak Tatang (Kepala Perpustakaan UNIGA) yang telah menyediakan buku-buku bermutu bahan referensi penulis.
- Kepada Bapak Muhtarom Sag (Bidang Kemahasiswaan UNIGA)
- Kepada Bapak Anton SE, yang banyak membentu penulis dalam bidang akademik
- Kepada Bapak Zenal Arif Sag MAg
- Kepada Bapak Yadi dan bapak-bapak satpam lainnya yang membantu penulis hingga memungkinkan penulis bekerja dan mengakses internet sampai malam
Kepada UNIGA yang telah menyediakan akses internet gratis bagi kami.
- Kepada Departemen Agama (Depag) RI yang telah memberikan beasiswa bagi kelangsungan pendidikan saya.
- Kepada teman-teman dan rekan seperjuangan di HMI, Roni, Yayat, Aseng, Teh Iis, Deding, Fajar R. Zulkarnanen (Ketum PB HMI), dll.
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah wa al-syukru lillah wa ba’du
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadlirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan hidayah dan taufik yang tak pernah terputus pada umatnya. Berkat pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan seluruh aktivitas kuliah, penelitian sampai skripsi ini.
Sesuai dengan kajian yang digeluti penulis, tema skripsi ini ditekankan pada : Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam. Setelah melakukan prapenelitian dan penelitian lanjutan selama tiga bulan, tahapn pertama penulisan skripsi ini dilakukan melalui seminar usulan sampai pada ujian skripsi sekarang ini.
Ucapan syukur kepada Allah dan terima kasih kepada Bapak…, selaku Ketua Komis Pembimbing dan Bapak… sebagai anggota komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu dari segudang kesibukannya untuk memberikan bimbingan dan petunjuk dan bimbingan moral keilmuan dalam penulisan skripsi ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
- Bapak Rektor Universitas Garut yang telah menerima penulis menjadi mahasiswa UNIGA sejak tahun 2005 sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung).
- Bapak Dekan
- Ibu PD I
- Bapak PD II
- Ibu PD III
- Bapak Ketua Bidang Kemahasiswaan
- Bapak KH. Thanthowi Jauhari, dan seluruh Kelurga Prof. KH. Anwar Musaddad (Alm)
- Semua kelauarga, ayahanda Ajengan Muhammad.Engkos Kosim dan Mamah Oto Toyyibah yang telah ….
- Semua rekan-rekan penulis
Hasil skripsi ini belum sempurna, namun rasa hormat penulis serahkan sepenuhnya kepada penela’ah untuk dikritisi dan dinilai sebagai langkah perbaikan. Semoga Allah mencatat dan membalas amal kebaikan dari lubuk hati yang tulus ikhlas dengan balasan yang setimpal. Aamiin…
Garut, 17 Mei 2007
Penulis,
Alimudin
DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.4 Kegunaan Penelitian
1.5 Kerangka Pemikiran
1.6 Asumsi Dasar
1.7 Lokasi Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perspektif Tasawuf dan Tarekat
2.2. Persepktif Transformasi dan Struktur
2.3. Perspektif Teori Perubahan Sosial
2.3.1. Perspektif Teori Tindakan Max Weber
2.3.2. Perspektif Struktural Fungsional Talcott
2.3.3. Perspektif Teori Simbolik Clifford Geertz
2.3.4. Perspektif Teori Konflik Karl Marx
2.4. Perspektif Teori Millah tentang Kh. Anwar
Musaddad dalam pemikiran Perbandingan Agama
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Metode yang digunakan
3.2. Sasaran Penelitian
3.3. Sumber Data dan Cara Menentukannya
3.4. Operasionalisasi Konsep
3.4.1. Konsep Pendidikan Islam
3.4.2 Konsep Pendidikan Barat
3.4.3. Konsep Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
3.4.4. Penerapan Konsep Pendidikan Islam di Masyarakat
3.5. Teknik Analisis Data
3.5.1 Reduksi Data
3.5.2 Display Data
3.5.2 Kesimpulan dan Verifikasi
3.6. Teknik Pemerikasan Keabsahan Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Prof. KH. Anwar Musadad
4.2. Pembahasan
4.2.1. Konsep Pendidikan Islam
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.1. Definisi Pendidikan Islam menurut Prof. KH. Anwar Musassad
4.2.1.2. Falsafah Pendidikan Islam Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.3. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.4. Materi Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.5. Pendidik dan Peserta Didik Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.6. Metoda Pendidikan Islam Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.7. Bagaiman Islam dalam Pendidikan
4.2.1.8. Pembinaan Pendidikan Keluarga Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.9. Integrasi Sekolah dengan Pesantren
4.2.2. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad
dalam Pendidikan Islam
4.2.2.0. Kabid Pendidikan Agama Islam Depag
4.2.2.1. Memelopori Pendirian IAIN Sunan Kalijaga
4.2.2.2. Pendiri IAIN SunanGunung Jati
4.2.2.3. Mendirikan Yayasan Al-Musaddadiyah
- TK. Al-qur’an
- SD Ciledug
- SMP Ciledug
- SMA Ciledug
- STAI Al-Musadaddiyah
- STTG
4.2.2.4. Mendirikan Yayasan UNIGA
- Universitas Garut (UNIGA)
4.2.3. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Bidang Lain
4.2.3.1. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Bouyer (1980:42-55) mengatakan bahwa ada tiga…..
……….(Jantzen, 1995:295)…….. (Salamah, 1998:7)
1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkanlatar belakang penelitian diatas, maka penelitian ini akanmemfokuskan pada permasalahan Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam. Berkaitan dengan itu, penelitian ini akan mejawab pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana esensi
2. Bagaiman Konsep Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Keluarga
3. Bagaiman Konsep Pendidikan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan dan dakwah di masyarakat
4. Bagaimana gambaran perjuangan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam
5. Bagaimana Kiprah Prof KH. Anwar Musaddad dalam pendidikan Islamdan Dakwah di Masyarakat
6. Apa metode yang dipakai Bapak Prof. KH. Nawar Musaddad Pendidikan Islam
7. Apa Media yang diganakan Prof. KH. Anwar Musaddad dalam mendidika Generasi Khairu Ummah
8. Hikmah yang didapat dari Pemikiran dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui dan memperoleh gambaran secara komprehensif dan holistic tentang Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan islam sehingga dapat diambil ibroh dan sebagai pijakan landasan filosofis bagi berkembangnya dunia pendidikan Islam.
Adapun tujuan dari penelitian ini, untuk memahami pendapat Prof. KH. Anwar Musaddad (Prof. KH. Anwar Musaddad) melalui kajian buku Prof. KH. Anwar Musaddad, wawancara dengan Keluarga, Sahabat dan kolega serta murid,murid Prof. KH. Anwar Musaddad. Selain itu pula untuk mendapat kejelasan dari para ahli pendidikan bagaimana konsep Prof. KH. Anwar Musaddad relevan dengan maju dan berkembangnya dunia pendidikan Islambaik secara individu, maupun kelembagaan, bangsa dan Negara serta dunia Islam secara keseluruhan.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan bagai pemnegmbangan ilmu pendidikan Islam serta guna laksana. Adapun bagi pengembangan studi Pendidikan Agama Islam, manfaatnya antara lain :
1. sebagai landasan filosofis mengembangkan pendidikan Islam
2. Memunculkan Teori pengembangan pendidikan Islam’
3. Aspek gunalaksana dimana para pendidik, peserta didika dan seluruh komponen yang berkiprah dalam dunia pendidikan untuk mengambil hikmah dan mengamalkan makna tersirat dari konsep dan kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam pendidikan Islam.
1.5. Kerangka Pemikiran
Menurut Comte (dalam Jonson, 1986:84) bentuk perubahan…..
Adapun sebab perubahan…. (Astrid,1979:1780)
Kenyataan diatas sejalan dengan pernyataan Durkheim (1912) bahwa…..
1.6. Asumsi Dasar
Penelitian ini menggunakanasumsi dasar dengan harapan agar dalam pencarian data dapat memnuhi criteria inklusi-eksklusi data atau informasi di lapangan. Asumsi dasar merupakansuatu proposisi yang dapat dianggap benar oleh peneliti tanpaada pembuktian, walaupun dapat dibuktikan oleh seseorang lainnya. Adapun asumsi dasar yang dimaksud adalah :
1. Adanya berbagai lembaga Pendidikan yang berhasi tidak mungkin tanpa adanya atau lahir dari pemikiran yang serampangan, hal tersebut pasti lahir dari pemikiran yang mendalam atas falsafah hidup dan falsafah pendidikan yang jelas. Dalam hal ini relevansi islam dengan pendidikan di dalamnya.
2. Proses
3. Hasil / Out Put yang didapat
1.7. Lokasi Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perspektif Tasawuf dan Tarekat
2.2. Persepktif Transformasi dan Struktur
2.3. Perspektif Teori Perubahan Sosial
2.3.1. Perspektif Teori Tindakan Max Weber
2.3.2. Perspektif Struktural Fungsional Talcott
2.3.3. Perspektif Teori Simbolik Clifford Geertz
2.3.4. Perspektif Teori Konflik Karl Marx
2.4. Perspektif Teori Millah tentang Kh. Anwar
Musaddad dalam pemikiran Perbandingan Agama
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode yang digunakan
3.2. Sasaran Penelitian
3.3. Sumber Data dan Cara Menentukannya
3.4. Operasionalisasi Konsep
3.4.1. Konsep Pendidikan Islam
3.4.2 Konsep Pendidikan Barat
3.4.3. Konsep Pendidikan Islam
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
3.4.4. Penerapan Konsep Pendidikan Islam
di Masyarakat
3.5. Teknik Analisis Data
3.5.1 Reduksi Data
3.5.2 Display Data
3.5.2 Kesimpulan dan Verifikasi
3.6. Teknik Pemerikasan Keabsahan Data
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Sejarah Singkat Prof. KH. Anwar Musadad
Nama Musaddadiyah sudah tidak asing lagi di Garut, sebab Musaddadiyah merupakan salah satu nama lembaga pendidikan di kota Garut yang terbilang besar serta dikenal oleh masyarakat. Tepatnya di Jaya Raga, Tarogong. Nama lengkapnya Yayasan Pendidikan Al-Musaddiyah Garut, yang membuka lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi.
Pesantren itu didirikan oleh Anwar Musaddad beserta dengan keluarganya. Sewaktu masih kecil Anwar Musaddad dikenal dengan Dede Masdiad. Lahir di Garut tanggal 3 April 1910. Ketika berumur empat tahun sudah yatim, serta diasuh oleh ibu dan neneknya yang waktu itu mengelola usaha Batik Garut dan Dodol Kuraetin.
Dikarenakan bukan merupakan anak keturunan ningrat, Dede harus sekolah di HIS Kristen dan melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi. Ketika di Sukabumi Dede sempat belajar agama Islam kepada Ustad Sahroni.. Sesudah tamat dari MULO Dede melanjutkan ke AMS Kristen di Jakarta.
Baru dua tahun di AMS, Prof. KH. Anwar Musaddad disuruh pulang ke Garut oleh keluarganya, sebab diberitakan sering keluar masuk ke Gereja. Oleh keluarganya Prof. KH. Anwar Musaddad dimasukan pesantren di Cipari yang waktu itu dipimpin oleh Kyai Harmaen. Ketika itu pula Dede berganti nama menjadi Anwar Musaddad. Prof. KH. Anwar Musaddad lalu mempelajari bahasa Arab serta pindah ke Jakarta. Waktu di Jakarta, Prof. KH. Anwar Musaddad menumpang tinggal di rumah H.O.S Cokroaminoto, salah seorang tokoh Serikat Islam (SI).
Tahun 1930, Prof. KH. Anwar Musaddad berangkat ke Mekah menyertai ibu dan neneknya ibadah haji. Akan tetapi Prof. KH. Anwar Musaddad lalu sekolah di Madrasah Al-Falah, sampai mengajar di tempat itu. Di Mekah Anwar menikah dengan Maskatul Millah, anak mukimin dari Ciparay. Prof. KH. Anwar Musaddad lalu mempelajari agama Islam ke berbagai syekh dan ulama besar di Masjidil Haram.
Alam pawenangan kehidupan manusia mengantarakan sosok pemuda yang kemudian bernama anawar Musaddad menggelarkan langkah kakinya penuh idealisme ke tanah suci Makkah almukarramah. Dengan ketegaran fisik dan ketampananya terpantulkan pula lewat sorot matanya yang tajam, bahwa ia harus mereguk mata air kecemerlangan di persada kelahiran nabi Muhammad SAW. Itu selain dorongan yang kuat yang dating dari diri Bapak sendiri untuk meraup ilmu. Juga dikuatkan olah hembusan semangat ibunda H. Siti Marfuah, bahwa menganyam ilmu agama di pusat diturunkannya agama islam mentasdikkan sebuah kekukuhan untuk segera menjejakan kakinya di tanah suci; tempat dicerahkannya peradaban tertinggi umat manusia.
Keteguhan sikapnya dalam menggumuli ilmu agama di tanah suci Makkah sesungguhnya berjalan seiring dengan sabda nabi Muhammad SAW : pelajarilah ilmu pengetahuan itu karena mempelajarinya termasuk khosyyah (takut akan azab Allah); mencarinya termasuk ibadah ; menelitinya termasuk jihad di jalan Allah mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu termasuk shodaqoh; memberikannya kepada ahlinya termasuk qurban, mendekatkan diri kepada Allah. Dan karena itu , ilmu adalah perangkat untuk mengenal yang haram dan halal, juga menerangi jalan bagi para ahli syurga.
Ilmu agama merupakan petunjuk jalan dalam suka dan duka, ibarat penghibur hati dalam kesunyian, sahabatdalam keterasinganteman berbincang dalam kesepian dan ketika seseorang manusia terkepung oleh anacaman musuhnya, ilmu pun mewujudmenjadi sebuah senjata ampuh, sungguh, rengkuh ilmu bagi Bapak memiliki keniscayaan sebagai perhiasan untuk sahabat-sahabat karibnya, sebab, Allah mengangkat dengan ilmu pengetahun bebrapa kaum menjadi pemimpin-pemimpin kebajikan, dijadikan imam-imam yang diikuti bentang sejarah perjalanan yang dilaluianya, dituriti perbuatan-perbuatannya, dijadikan keputusan melalui pendapat-pendapatnya sehingga para malaikat senantiasa mengusap mereka dengan sayap-sayap kerahmatan.
Keluasan ilmu agama bagi Bapak mentasdikkan semua benda yang basah dan kering memohonkan ampunan bagi mereka. Demikian pula ikan-ikan di laut dengan segala isinya, dan semua binatang buas di daratan, serta binatang-binatang ternaknya. Sebab ilmu itu menghidupkan hati yang mati karena kebodohan, rentang kecahayaan mata melawankegelapan. Dengan sendirinya pula seorang hamba seperti Bapak akan sampai dengan ilmu ke tempat orang-orang terpilih dan mencapai derajat-derajat yang tinggi, insya Allah, di dunia dan akhirat. Derajat seperti ini, memiliki peringkat pasti karena tafakur tentang ilmu sama halnya dengan puasa, tadarusnya menyamai sholat tahajjud. Dan dengan ilmu pula, tali kekeluargaan makin dikuatkan, untuk memilah yang halal dan haram. Ia adalah yang memimpin amal kebajikan dan amal kebajikan ikut padanya. Karenanya, ilmu pengetahuan hanya diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.
Itulah sebabnya kedahagaan Bapak akan ilmu agama, selain bisa berlama-lama menikmati pengajian di masjidil haram, juga selalu mengantarkan Bapak untuk bersilaturrahmi untuk mengunjungi ulama-ulama besar yang mengajar di masjid tersebut. Salahssatunya seorang ulama besar di masjidil haram k.h. Syafei, yang berasal dari Garut, merupakan sosok yang sering dikunjungi (bermuwajahah) Bapak, Nyaris seluruh ilmu dan pengalaman K.H. Syafei telah direguk olah Bapak, Bapak tak pernah melewatkan kesempatan bermuwajahah dengan ulama besar Makkah K.H. Syafei. Antusiasme Bapak yang penuh perhatian, kecerdasan dan ditambah ketampanan sosok seorang pemuda yang lugu, adab dan bersopan santun dalam penampilannya telah mencuatkan ucapan sang ulama besar ini bahwa,”bahwa Bapak akan mendapatkan jodoh seorang cucunya!”, K.H. Syafei sendiri meninggal dalam usia 126 tahun. Prof. KH. Anwar Musaddad adalah ayahanda K.H. qurtubi dan kakek dari Ibu atikah Musaddad sendiri.
Tahun 1941, Prof. KH. Anwar Musaddad pulang ke Indonesia serta rajin mengadakan ceramah. Zaman Jepang Prof. KH. Anwar Musaddad diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Priangan yang pertama menjadi Ketua Masyumi daerah Priangan. Zaman revolusi, Prof. KH. Anwar Musaddad bergabung dengan tentara Hisbullah dan memimpin pasukan dengan K.H. Yusuf Tauziri, malahan pernah tertangkap oleh Belanda.
Sesudah Indonesia merdeka, Anwar Musaddad ditugaskan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta oleh Menteri Agama. Sesudah Perguruan Tinggi itu berdiri Prof. KH. Anwar Musaddad menjadi dosen bahasa Arab dan berdakwah di sana. Tahun 1960, Prof. KH. Anwar Musaddad ditugaskan lagi untuk mendirikan dan mengelola IAIN di Bandung. Sampai Prof. KH. Anwar Musaddad menjadi rektor IAIN Sunan Gunungjati Bandung yang pertama dalam tahun 1968. Disamping itu, Prof. KH. Anwar Musaddad ditunjuk pemerintah menjadi anggota panitia menerjemahkan dan mengartikan Al-Qur?an dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
Sesudah pensiun, Prof. KH. Anwar Musaddad mendirikan lembaga pendidikan Al-Musaddadiyah di Garut, yang awalnya hanya membuka Fakultas Syari?ah sampai membuka Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG).
Prof. KH. Anwar Musaddad wafat di Garut pada tanggal 21 Juli 2000, dan dimakamkan di Komplek Pesantren Al-Musaddadiyah.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Konsep Pendidikan Islam
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad
4.2.1.1. PENDIDIKAN UMAT
KHOIRU UMMAH MENDASARI FITRAH UMAT
Jadi menurut Bapak, umat itu ukurannya harus menjadi khoiru ummah. Artinya,bagi umat adalah fitrah yang asasi untuk mentasdikkan diri sebagai khoiru ummah. Jika tidak menjadi khoiru ummah, bisa diartikan sebagai pengabaian fitrah. Secara sederhana,Bapak mencontohkannya dengan “waktu” yang senantiasa bergerak kedepan waktu senantiasa menjadi acuan orang-orang professional dan religius, waktu yang dianalogikan denganjam tangan mengandung maknayang dalam meski dalam perumpaan yang bersahaja.
Seperti otomatis daya aksi-refleksi merupakan perpaduan dari kemempuan nalar dan naluriah dalam mengatasi setiap permasaalahan tanpa harus tergantung kepada orang laian, ia mandiri dan percaya diri Waterproot; diartikan memiliki kedepan terhadap setiap informasi atu gagasan bahkan mampu menagkal subversi budaya yang tidak sesuai dengan akar cultural yang ada,dan pada gilirannya mampu menampilkan identitas kejatidiriannya yang utuh Shochproot; artinya tidak mudah terpengaruh oleh kejutan dengan kaa lain memiliki ketangguhan sikap dan jiwanya ulet serta tidak mengenal menyerah Antimagnetik tidak mudah tersedot tarikan apapun yang merusak kediriannya. Tidak mudah disuap digoada atau di iming-iming oleh kedudukan, ia menunjukan ketegaran diri.
Incablock tahan gesekan tidak pernah putus asa, unutk kemudian menjadikan dirinya mata air kreativitas yang tidak pernah berhanti, ia memiliki daya imajinasi, inovatif, dan senantiasa lurus kedepan, Stainles tidak kena polusi (pemcemaran) memiliki Cler vision (kejernihan visi) berpikir strategis memiliki daya analisis dan sintesis serta berfikir konferhensif yang integral, luminous memiliki sinar daya tarik pribadi dan pikiran-pikirannya memiliki daya gugah yang terus menaik ia memberikan petunjuk, arah, motivasi dan makna berkalender punya perencanaan yang uptodate relevan dan actual tuntutan dinamikakehidupan. Alarm memiliki kemampuan early detection sikap waspada bukan hanya untuk dirinya tapi uga mengembangkan sikap waspada terhadap lingkungannya, Fireproot mampu menjga diri dari sifat-sifat tercela dan mampou mengendalikan diri agar selamat dari setiap ancaman api neraka
4.2.1.2. PENDIDIKAN DALAM KELUARGA
PENDIDIKAN PUTRA DAN PUTRI IBU DAN BAPAK
Langsung maupun tidak, pengaplikasian konsep mabadi khoiro ummah di dalam keluarga telah membuka peluang kepada anak – anak untuk mengapresiasi keterbukaan dan menumbuhkan sikap taawun ( saling tolong menolong ). Disamping itu, bapak dan ibu juga menanamkan system nilai kepada anak – anak untuk memiliki kepedulian terhadap berbagai problematika social sejalan dengan perkataaan Rasul S.A..W :”bukan umatku yang tidak memiliki kepedulian kepada sesama.” Berbagai referensi kitab seperti Qutul Qulub Hikam Ihya Ulumudin dan berbagai kitab yang berkenaan dengan amalan – amalan syariah wiridan dan ahklakkul karimah yang disampaikan kepada santrinya, diberikan terlebih dahulu kepada anak – anak nya di rumah. Untuk meyakinkan segala amalan syariah, doa dan wiridan ini ditafsirkan oleh bapak semisal p0esawat pembom yang akan menjatuhkan senjata penghancurnya kepada kita, tapi karena kita memiliki peluru kendali, pesawat pembom itu akan segera kabur karena takut ditembak ! demikian pula, badi musibah yang sudah mengancam dekat kepada kita, akan segera menghilang dan pergi berkat kuatnya doa dan sedekah.
Tersirat dan tersurat dalam pengajian tasawuf yang diberikan secara intensif kepada masyarakat dan para putra dan putrinya agar mampu membersihkan , mengisi dan memelihara badan , hati dan jiwa mereka . Badan dibersihkan dengan taubat, diisi dengan taqwa dan dipelihara dengan istikomah, hati dibersihkan dengan ikhlas, diisi dengan dsidiq dan dipelihara dengan tumaninah. jiwa dibersihkan dengan tawajuh menghadap allah dengan muraqabah yaitu selalu mersa dirinya diawasi oleh Allah diisi dengan musyahadah yaitu seakan _ akan senantiasa melihat kepada Allah dan dipelihara dengan ma’rifat yaitu mengenal keagungan dan kesempurnaan Allah.
Masih banyak lagi penggambaran materi dakwah bapak yang dilukiskan secara mengesankan dan mudah dipahami dan diingat. Dalam kesempatan yang amat terbatas ini, cukuplah kiranya bila ditambahkan sebuah lagi visualisasi dakwah tersebu, yaitu yang menyangkut rekaman segala amal perbuatan kita oleh malaikta rokib dan atid. Menurut bapak, semua perbuatan amal kita itu kita selama hidup ini laksana rekaman film dan video kaset oleh kdua malaikat itu. Video kaset berisi rekaman amal perbuatan selama manusia hidup di dunia itu kelak akan diputar kembali selengkap-lengkapnya secara full colour dalam rangkaian sound film dan tak satupun perbuatan kita yang dapat disembunyikan.
Pada dimensi pendidikan anak-anaknya, bapak dan ibu memberikan kebebasan seluas-luasnya, untuk menentukan dan memilih pendidikan serta profesinya. Namun misi dan tanggung jawab sebaga khodimul uumah harus tetap menjadi ‘pakaian” keseharian putra-putri bapak. Barangkali inilaha yang menyebabkan kendati putra puti ibu memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, menjalani profesi yang beragam dan domisilinya berpencar-pencar tetp memiliki keterpanggilan, keterikatan dan tanggung jawab memnuhi seruan dan kehirauan melayani sesame niscaya menjadi warna tersendiri dalam diri putra-putrinya. Mereka pekat berada dalam ikatan misi keluarga yaitu mengembangkan yayasan pendidikan almusaddadiyah yang didirikan tahun 1975 yang sejak berdirinya memiliki dinamika orientasi kepada peningkatan kualitas pemartabatan umat internal, eksternal dan inter akhirat.
Hubungan antar individu dalam lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kejiwaan anak dan dampaknya akan terlihat sampai kelak ketika ia menginjak usia dewasa. Suasana yang penuh kasih sayang dan kondusif bagi pengembangan intelektual yang berhasil dibangun dalam sebuah keluarga akan membuat seorang anak mampu beradaptasi dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya dan dengan masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, dalam proses pembentukan sebuah keluarga diperlukan adanya sebuah program pendidikan yang terpadu dan terarah. Program pendidikan dalam keluarga ini harus pula mampu memberikan deskripsi kerja yang jelas bagi tiap individu dalam keluarga sehingga masing-masing dapat melakukan peran yang berkesinambungan demi terciptanya sebuah lingkungan keluarga yang kondusif untuk mendidik anak secara maksimal.
Dalam bagian pertama buku ini akan kami paparkan beberapa faktor yang signifikan dalam garis-garis besar pendidikan keluarga menurut ajaran Islam, yaitu sebagai berikut.
Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Jika kita benar-benar yakin pada nilai positif program tersebut dan menjalankannya dengan konsekuen, sebuah karakter positif dalam perilaku kita akan terbentuk. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.
Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim.
Konsep ini adalah konsep rabbani yang diturunkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha mengetahui. Dialah yang menciptakan manusia dan Dia pulalah yang paling mengetahui kompleksitas kehidupan manusia. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah satu-satunya konsep dan program hidup yang sesuai dengan fitrah manusia.
Konsep Islam adalah sebuah konsep yang secara jelas dan seimbang mendistribusikan tugas-tugas kemanusiaan. Islam tidak pernah memberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Konsep ini tidak akan pernah salah, tidak memiliki keterbatasan, dan tidak mungkin mengandung perintah dan tugas yang tidak dapat dilakukan. Penyebabnya tentu saja, karena konseptornya adalah Allah SWT.
Konsep keluarga Islami memberikan prinsip-prinsip dasar yang secara umum menjelaskan hubungan antaranggota keluarga dan tugas mereka masing-masing. Sementara itu, cara pengaplikasian prinsip-prinsip dasar ini bersifat kondisional. Artinya, amat bergantung pada kondisi dan situasi dalam sebuah keluarga dan dapat berubah sesuai dengan keadaan.
Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka berdua dan antara mereka dengan anak-anak.
Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah yang mesti diikuti oleh anak dalam pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, perasaan, dan tingkah laku.
Riset para ahli membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan di sebuah rumah tanpa pengawasan kedua orang tua sekaligus lebih banyak bermasalah dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan pengawasan bersama dari kedua orang tuanya.[1]
Salah satu kewajiban orang tua adalah menanamkan kasih sayang, ketenteraman, dan ketenangan di dalam rumah. Allah SWT berfirman,
و من آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها و جعل بينكم مودة ورحمة ..
Artinya: Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Ia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tentram dengan mereka. Dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.[2]
Hubungan antara suami dan isteri atau kedua orang tua adalah hubungan kasih sayang. Hubungan ini dapat menciptakan ketenteraman hati, ketenangan pikiran, kebahagiaan jiwa, dan kesenangan jasmaniah. Hubungan kasih sayang ini dapat memperkuat rasa kebersamaan antaranggota keluarga, kekokohan pondasi keluarga, dan menjaga keutuhannya. Cinta dan kasih sayang dapat menciptakan rasa saling menghormati dan saling bekerja sama, bahu-membahu dalam menyelesaikan setiap problem yang datang menghadang perjalanan kehidupan mereka. Hal ini sangat berperan dalam menciptakan keseimbangan mental anak.
Dr Spock berpendapat sebagai berikut.
“Keseimbangan mental anak sangat dipengaruhi oleh keakraban hubungan kedua orang tuanya dan kebersamaan mereka dalam menyelesaikan setiap masalah kehidupan yang mereka hadapi”.[3]
Suami isteri harus berusaha memperkuat tali kasih di antara diri mereka berdua dalam semua periode kehidupan mereka, baik sebelum masa kelahiran anak mereka maupun setelahnya.
Memperkuat rasa cinta dan kasih sayang merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena itu, menjaga keutuhan kasih sayang termasuk dalam perintah Allah dan merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada-Nya. Imam Ali bin Al-Husain Zainal Abidin a.s. mengatakan,
وأما حقّ رعيتك بملك النكاح , فأن تعلم أنّ الله جعلها سكنا ومستراحا وأنسا وواقية , وكذلك كلّ واحد منكما يجب أن يحمد الله على صاحبه , و يعلم أن ذلك نعمة منه عليه , ووجب أن يحسن صحبة نعمة الله ويكرمها ويرفق بها , وإن كان حقك عليها أغلظ وطاعتك بها ألزم فيما أحببت وكرهت ما لم تكن معصية , فإن لها حق الرحمة والمؤانسة وموضع السكون إليها قضاء اللذة التي لابدّ من قضائها وذلك عظيم
Artinya: Hak wanita yang engkau nikahi adalah engkau harus tahu bahwa Allah telah menjadikannya sebagai sumber ketenangan dan ketentraman bagimu serta sebagai penjaga harta dan kehormatanmu. Kalian berdua haruslah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah atas anugerah yang Dia berikan berupa pasangan kalian. Engkau harus tahu bahwa itu semua adalah nikmat Allah atasmu. Karena itu, suami harus memperlakukan isterinya dengan baik, menghormatinya, dan berlemah-lembut terhadapnya, meskipun hak-haknya atas sang isteri lebih besar.Isteri harus menaati suaminya jika ia memerintahkan sesuatu, selama tidak berupa maksiat kepada Allah.
Isteri berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan kelemah-lembutan karena dialah yang memberikan ketenangan hati bagi suami. Isterilah yang dapat memuaskan kebutuhan biologis suami yang memang harus disalurkan, dan hal itu adalah sesuatu yang agung.[4]
Ahlul Bait a.s. memberikan perhatian yang sangat besar terhadap keutuhan cinta kasih dalam sebuah keluarga. Anjuran-anjuran mereka berikut ini ditujukan kepada kedua pihak, suami dan isteri.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAWW bersabda,
خيركم خيركم لنسائه وأنا خيركم لنسائي
Artinya: Lelaki terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap isterinya. Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap isteri.[5]
Imam Ja’far bin Muhammad Shadiq a.s. dalam sebuah hadis mengatakan,
رحم الله عبدا أحسن فيما بينه وبين زوجته
Artinya:Semoga Allah merahmati orang yang bersikap baik terhadap isterinya.[6]
Rasulullah SAWW bersabda,
فمن اتـخذ زوجة فـليكرمها
Artinya: Jika seseorang menikahi seorang wanita,ia harus berbuat baik kepadanya. [7]
Prof. KH. Anwar Musaddad juga bersabda,
أوصاني جبرئيل عليه السلام بالمرأة حتى ظننت أنه لا ينبغي طلاقها إلا من فاحشة مبينة
Artinya: Jibril sering berpesan kepadaku tentang wanita, sampai-sampai aku merasa bahwa wanita tidak berhak untuk diceraikan kecuali jika telah melakukan zina dengan terang-terangan.[8]
Anjuran-anjuran dan arahan yang diberikan oleh Nabi SAWW dan Ahlul Bait a.s. mengenai sikap baik dan penghormatan terhadap istri ini merupakan acuan penting yang harus diterapkan dalam rangka menciptakan kelanggengan hubungan cinta dan kasih sayang antara keduanya di dalam keluarga.
Di lain pihak, Ahlul Bait a.s. juga berpesan kepada kaum wanita untuk melakukan segala hal yang dapat menumbuhkan dan menjaga cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga. Rasulullah Muhammad SAWW dalam hal ini bersabda,
إذا صلّت المرأة خمسها وصامت شهرها وأحصنت فرجها وأطاعت بعلها فلتدخل من أي أبواب الجنة شاءت
Artinya: Jika seorang wanita telah melakukan kewajibannya shalat lima waktu, berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka ia berhak untuk masuk ke dalam surga melalui pintu manapun yang ia sukai.[9]
Selain itu Prof. KH. Anwar Musaddad juga bersabda,
ما استفاد امرؤ فائدة بعد الإسلام أفضل من زوجة مسلمة تسرّه إذا نظر إليها وتطيعه إذا أمرها وتحفظه إذا غاب عنها في نفسها وماله
Artinya: Setelah nikmat Islam, tak ada satupun nikmat yang melebihi isteri muslimah yang shalihah, yaitu isteri yang membuat suami senang saat memandangnya, patuh padanya saat ia menyuruhnya melakukan sesuatu, dan menjaga dirinya dan harta suaminya di saat sang suami tidak berada di rumah.[10]
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku memiliki seorang isteri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan mengantarku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung ia selalu menyapaku dan mengatakan, ‘Ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika kau risau akan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu ada di tangan Allah. Tapi jika kerisauanmu karena urusan akhirat, semoga Allah menambah rasa risaumu itu.’”
Setelah mendengar cerita sahabat Prof. KH. Anwar Musaddad tersebut, Rasulullah SAWW bersabda,
بشّرها بالجنّة وقل لها : إنك عاملة من عمّال الله ولك في كلّ يوم أجر سبعين شهيدا , - وفي رواية - إن لله عزّ وجل عماّلا وهذه من عمّاله , لها نصف أجر الشهيد
Artinya: Berilah kabar gembira kepadanya tentang surga yang tengah menantinya! Dan katakan padanya, bahwa ia termasuk salah satu pekerja Allah. Allah SWT menuliskan baginya setiap hari pahala tujuh puluh orang yang gugur di jalan Allah. (dalam riwayat lain disebutkan), ‘Ketahuilah bahwa Allah memiliki banyak pekerja, dan ia termasuk salah satu dari mereka. Allah akan memberinya setengah dari pahala orang syahid.’ [11]
Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,
جهاد المرأة حسن التبعّل
Artinya: Jihad bagi wanita adalah berbuat baik pada suaminya.[12]
Salah satu hal yang membantu dalam menambah rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian suami adalah kepasrahan isteri pada suami saat ia menginginkan dirinya. Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,
خير نسائكم التي إذا خلت مع زوجها خلعت له درع الحياء وإذا لبست لبست معه درع الحياء
Artinya: Wanita terbaik adalah yang saat berduaan dengan suaminya ia menanggalkan semua rasa malunya dan jika ia memakai kembali pakaiannya ia kenakan lagi rasa malunya.[13]
Isteri sudah semestinya bersikap terbuka dan tidak malu-malu terhadap suaminya dengan tetap menjaga rasa hormat padanya. Dengan kata lain, seorang istri perlu menjaga keseimbangan antara sikap hormat dan terbuka.
Imam Ali bin Al-Husain a.s. menyebutkan beberapa faktor penting yang dapat menambah rasa cinta, kasih sayang, dan keakraban dalam keluarga, yaitu sebagai berikut.
لا غنى بالزوج عن ثلاثة أشياء فيما بينه وبين زوجته وهي الموافقة ليجتلب بها موافقتها ومحبتها وهواها,وحسن خلقه معها , واستعماله استمالة قلبها بالهيئة الحسنة في عينها وتوسعته عليها . ولا غنى بالزوجة فيما بينها وبين زوجها الموافق لها عن ثلاث خصال , وهي : صيانة نفسها من كلّ دنس حتى يطمئن قلبه إلى الثقة بها في حال المحبوب والمكروه وحياطته ليكون ذلك عاطفا عليها عند زلة تكون منها , وإظهار العشق له بالخلابة والهيئة الحسنة لها في عينه
Artinya: Seorang lelaki hendaknya memperhatikan tiga hal berikut ini dalam berhubungan dengan isterinya:
Pertama, memahami keadaan isteri, karena dengan itu ia dapat menarik perhatian isterinya untuk memahami keadaannya dan lebih mencintainya.
Kedua, bersikap baik terhadap isteri dan berusaha merebut hatinya dengan penampilan lahir yang menarik.
Ketiga, memaafkan kesalahan isteri.
Seorang wanita hendaknya memperhatian tiga hal berikut ini dalam pergaulannya dengan suami:
Pertama, menjaga diri dari segala kotoran dan noda, sehingga sang suami merasa tenang dengan keadaannya, baik di saat senang maupun di saat susah.
Kedua, mempercayai suami, karena hal itu dapat membuat sang suami mudah memaafkannya di kala ia melakukan kesalahan.
Ketiga, menampakkan rasa cinta kepadanya dengan berpenampilan menarik.[14]
Hubungan yang didasari oleh cinta dan kasih sayang sangat diperlukan dalam semua fase kehidupan, khususnya pada masa kehamilan. Sebab di masa-masa itu, isteri sangat memerlukan ketenangan dan keseimbangan mental. Hal itu sangat mempengaruhi keselamatan janin selama dalam kandungan dan keselamatan anak di masa menyusui.
Di dalam konsep keluarga Islami telah ditentukan hak-hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak suami dan isteri. Konsep ini jika benar-benar dijalankan akan menjamin ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga. Jika suami dan isteri konsisten dengan kewajiban dan hak-hak mereka, hal itu akan dapat mempererat tali cinta dan kasih antara mereka. Selain itu, hal ini dapat menjauhkan segala kemungkinan timbulnya perselisihan dan pertengkaran yang mengancam keutuhan rumah tangga yang dengan sendirinya berdampak negatif pada kejiwaan anak.
Hak terpenting yang dimiliki oleh suami adalah kepemimpinan dalam keluarga. Allah SWT berfirman,
الرجال قوّامون على النساء بما فضّل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم ..
Artinya: Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.[15]
Isteri berkewajiban untuk menghormati hak suami ini dan menjadikan suami sebagai pemimpin karena kehidupan rumah tangga tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa ada yang mengaturnya dan karena kepe-mimpinan layak untuk dipegang oleh kaum lelaki, sesuai dengan perbedaan yang ada antara suami dan isteri dalam hal fisik dan perasaan. Di samping itu, isteri juga harus menunjukkan kepemimpinan suami dalam keluarga di hadapan anak-anaknya.
Hak penting kedua bagi suami setelah kepemimpinan dalam keluarga dapat kita simpulkan dari riwayat berikut ini. Diceritakan bahwa seorang wanita datang dan bertanya kepada Rasulullah SAWW tentang hak suami atas isterinya. Dalam jawabannya, Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
أن تطيعه ولا تعصـيه , ولا تصدّق من بيتها شيئا إلاّ بإذنه ولا تصوم تطوعا إلاّ بإذنه , ولا تمنعه نفسها وإن كانت على ظهر قتب ولا تخرج من بيتها إلاّ بإذنه ..
Artinya: Isteri harus patuh dan tidak menentangnya. Ia tidak berhak untuk bersedekah apapun yang ada di di rumah suami tanpa izin sang suami. Selain itu, ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa sunnah kecuali jika suami mengizinkannya. Selanjutnya, ia tidak boleh menghindar kala suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan. Isteri tidak diperkenankan untuk keluar dari rumah kecuali dengan izin suami….[16]
Dalam hadis yang lain Rasulullah SAWW menye-butkan hak-hak suami sebagai berikut.
حقّ الرجل على المرأة انارة السراج واصلاح الطعام وان تستقبله عند باب بيتها فترحّب به وان تقدّم إليه الطشت والمنديل وان توضئه وان لا تمنعه نفسها إلاّ من علّة
Artinya: Hak suami atas isteri adalah bahwa isteri hendaknya menyalakan lampu untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah kala ia datang, membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu mencuci tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saat suami menginginkan dirinya kecuali jika ia sedang sakit.[17]
Mengingat pentingnya perhatian terhadap hak-hak suami tersebut, Rasulullah SAWW mengatakan,
لا تؤدّي المرأة حقّ الله عزّ وجل حتى تؤدّي حقّ زوجها
Artinya: (Ketahuilah) bahwa wanita tidak pernah akan dikatakan telah menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan kewajibannya kepada suami.[18]
Di lain pihak, Islam juga telah menentukan hak-hak isteri yang harus diperhatikan oleh suami. Imam Ja’far Shadiq a.s., saat ditanya oleh Ishaq bin Ammar mengenai hak wanita atas suaminya, mengatakan,
يشبع بطنها ويكسو جثتها وإن جهلت غفر لها
Artinya: (Kewajiban suami atas isterinya adalah) memberinya makanan dan pakaian dan memaafkannya jika ia melakukan kesalahan.[19]
Khaulah binti Al-Aswad pernah mendatangi Rasulullah SAWW dan bertanya tentang hak wanita. Prof. KH. Anwar Musaddad dalam jawabannya mengatakan,
حقّك عليه أن يطعمك ممّا يأكل ويكسوك ممّا يلبس ولا يلطم ولا يصيح في وجهك
Artinya: Hak-hakmu atas suami adalah bahwa ia harus memberimu makan dengan makanan yang ia makan dan memberimu pakaian seperti ia juga berpakaian, tidak menampar wajahmu, dan tidak membentakmu. [20]
Hak istri yang lain adalah bahwa suami harus memperlakukannya dengan lemah lembut dan bersikap baik terhadapnya.
Hak istri dan seluruh anggota keluarga selanjutnya adalah bahwa suami harus bekerja untuk dapat memenuhi semua kebutuhan materi mereka. Rasulullah SAWW dalam hal ini bersabda,
الكادّ على عياله كالمجاهد في سبيل الله
Artinya: Orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya sama dengan orang yang pergi berperang di jalan Allah. [21]
Prof. KH. Anwar Musaddad juga bersabda,
ملعون ملعون من يضيع من يعول
Artinya: Terkutuklah! Terkutuklah orang yang tidak memberi nafkah kepada mereka yang menjadi tanggung jawabnya. [22]
Dalam hadis yang lain Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
حقّ المرأة على زوجها أن يسدّ جوعتها وأن يستر عورتها ولا يقبّح لها وجها فإذا فعل ذلك فقد أدّى والله حقّها
Artinya: Hak isteri atas suami adalah bahwa suami harus memberinya makan, menutupi auratnya, dan tidak memakinya. Jika seorang lelaki telah melakukan kewajibannya ini berarti ia telah menunaikan hak Allah atasnya. [23]
Baik suami maupun isteri harus saling memperhatikan dan menghormati hak pasangannya demi terciptanya suasana cinta dan kasih sayang dan keharmonisan dalam keluarga. Adanya sikap saling menghormati di antara keduanya akan mendorong masing-masing pihak untuk menunaikan semua hal yang menjadi kewajibannya demi kebahagiaan keluarga.
Kebahagiaan yang berhasil diciptakan akan menciptakan keseimbangan mental isteri selama masa kehamilan, menyusui, serta pada tahun-tahun awal umur anak, yang pada gilirannya akan sangat mempengaruhi keseimbangan dan kestabilan mental anak. Anak yang tumbuh dengan mental yang baik dan stabil, pikiran dan perilakunya akan berkembang dengan baik dan stabil pula serta akan dengan mudah menuruti semua anjuran dan nasehat diberikan kepadanya.
Pertengkaran dan perselisihan yang terjadi dalam keluarga akan menyebabkan suasana yang panas dan tegang yang dapat mengancam keutuhan dan kehar-monisan rumah tangga. Tidak jarang, pertengkaran itu berakhir dengan perceraian dan kehancuran keluarga. Fenomena ini merupakan salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh semua anggota keluarga, termasuk di dalamnya anak-anak.
Suasana yang menegangkan dalam rumah sangat berdampak negatif terhadap perkembangan dan pembentukan jati diri anak.
“Kelabilan sikap dan penyakit-penyakit kejiwaan yang diderita oleh anak-anak belia dan orang dewasa, disebabkan oleh perlakuan tidak benar yang diperlihatkan oleh orang tua mereka, seperti pertengkaran yang menyebabkan suasana dalam rumah panas dan menegangkan. Hal seperti itu membuat anak tidak merasa aman berada di dalam rumah”.[24]
Profesor Richard Fougen berpendapat bahwa,
“Ibu yang tidak diperlakukan dengan layak sebagai seorang manusia, sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan sebagai isteri bagi suaminya, tidak akan mampu memberikan rasa aman pada diri anak-anaknya”.[25]
Perasaan aman dan tenang merupakan salah satu faktor terpenting dalam membangun kepribadian anak secara benar dan sempurna. Perasaan semacam ini tidak akan didapatkan dalam lingkungan yang selalu diliputi oleh ketegangan dan pertengkaran.
Dalam keadaan seperti itu, anak akan berada dalam kebingungan dan kebimbangan. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Posisinya tidak memungkinkan baginya untuk menyelesaikan pertengkaran kedua orang tuanya, apalagi jika pertengkaran tersebut sampai menggunakan kekerasan. Di satu sisi, ia tidak mungkin akan berpihak pada salah satu dari orang tuanya.
Lebih dari itu, kebingungan anak akan memuncak kala masing-masing pihak yang berselisih berusaha untuk menarik dukungannya dengan menyebutkan bahwa pihaknyalah yang benar, sedangkan lawannyalah yang bersalah dan memulai menyulut api pertengkaran ini. Semua itu meninggalkan kesan negatif di hati, pikiran, dan perasaan si anak.
Dr Spock berpendapat sebagai berikut.
“Riset yang dilakukan oleh para ahli terhadap ribuan anak yang tumbuh besar di tengah-tengah keluarga yang selalu diliputi oleh ketegangan membuktikan bahwa mereka ketika menginjak usia dewasa akan merasa bahwa mereka tidak seperti orang-orang lain pada umumnya. Mereka kehilangan rasa percaya diri. Mereka pun takut untuk menjalin hubungan cinta yang sehat dengan orang lain, karena mereka selalu membayangkan bahwa membangun keluarga berarti menempatkan dirinya di suatu tempat yang dihuni oleh orang-orang yang selalu berselisih dan bertengkar satu dengan yang lainnya”.[26]
Setiap keluarga memiliki masalah yang berpotensi memicu percekcokan di antara mereka. Cara melampiaskan kekesalan dan kemarahan masing-masing pun berbeda. Sebagian orang terbiasa untuk menggunakan kata-kata kotor, makian, dan hinaan. Sebagian yang lain terbiasa untuk melayangkan tangan ketika amarahnya memuncak.
Saat menyaksikan adegan demikian, anak-anak akan belajar untuk mempraktekkannya ketika terlibat pertengkaran dengan kawan-kawannya. Hal itu akan mempengaruhi tingkah laku mereka saat kanak-kanak maupun saat menginjak usia dewasa nanti. Karena itulah kita banyak menyaksikan ataupun mendengar adanya anak yang sampai memaki ibunya atau bahkan memukulnya. Dan terkadang pula, si anak akan menggunakan apa yang ia pelajari itu terhadap isterinya ketika kelak menginjak usia dewasa.
Untuk mencegah terjadinya pertengkaran dan percekcokan antara suami dan isteri, atau paling tidak, mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap psikis dan mental, atau jika mungkin, menghilangkannya sama sekali, Islam telah mengenalkan sebuah konsep sempurna dalam menyelesaikan pertengkaran dan perselisihan dalam keluarga.
Pada uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya mempererat tali cinta kasih dalam keluarga. Selain itu juga telah disebutkan hak-hak dan kewajiban suami dan istri. Dalam ajaran Islam pun disebutkan tentang pentingnya proses seleksi dengan standar nilai Islam ketika memilih calon suami atau istri.
Semua ini dimaksudkan untuk mencegah perselisihan yang mungkin terjadi dalam keluarga. Namun jika tanda-tanda munculnya percekcokan sudah nampak, atau bahkan percekcokan itu telah terjadi, Islam menawarkan cara untuk mengakhirinya. Selain itu, Islam juga mengecam pihak yang memicu perselisihan dan memperingatkan semua pihak agar waspada terhadap masalah ini.
Rasulullah SAWW bersabda,
خير الرجال من أمتي الذين لا يتطاولون على أهليهم ويحنّون عليهم ولا يظلمونـهم
Artinya: Lelaki terbaik dari umatku adalah orang tidak menindas keluarganya, menyayangi mereka dan tidak berlaku zalim.[27]
Imam Muhammad Baqir a.s. dalam sebuah hadis menganjurkan para suami untuk bersabar menerima perlakuan buruk, sebab membalas keburukan dengan keburukan akan membuat area perselisihan bertambah luas. Prof. KH. Anwar Musaddad mengatakan,
من احتمل من امرأته ولو كلمة واحدة أعتق الله رقبته من النّار وأوجب له الجنّة
Artinya: Orang yang sabar dalam menerima perlakuan buruk istrinya, meskipun hanya sebatas satu kata, niscaya akan dibebaskan Allah dari siksa api neraka dan ditempatkannya di dalam surga.[28]
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAWW menghimbau para suami untuk bersabar atas perlakuan buruk isterinya. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
من صبر على سوء خلق امرأته أعطاه الله من الأجر ما أعطى أيوب على بلائه
Artinya: Jika seseorang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah akan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub a.s. yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat. [29]
Bersabar terhadap perlakuan buruk isteri adalah hal yang mungkin dianggap tidak wajar oleh kaum lelaki. Tetapi dengan adanya perintah dan anjuran Nabi SAWW dan Ahlul Bait a.s., hal tersebut menjadi suatu yang sunnah yang akan dengan senang hati dijalankan oleh kaum lelaki yang beriman. Tanpa merasakan adanya kehinaan dan kerendahan bagi martabatnya sebagai suami, ia akan bersabar terhadap perlakuan buruk isterinya itu.
Meniru perilaku Rasulullah SAWW terhadap isteri-isteri Prof. KH. Anwar Musaddad dan perilaku Ahlul Bait a.s. dapat meminimalkan timbulnya pertengkaran dalam keluarga. Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,
كانت لأبي عليه السلام امرأة وكانت تؤذيه وكان يغفر لها
Artinya: Ayahku pernah mempunyai seorang isteri yang sering menyakitinya. Namun, ayahku selalu mema-afkannya. [30]
Rasulullah SAWW melarang para suami untuk menggunakan kekerasan terhadap isterinya dalam hadis berikut ini.
أيّ رجل لطم امرأته لطمة أمر الله عزّ وجل مالك خازن النيران فيلطمه على حرّ وجهه سبعين لطمة في نار جهنّم
Artinya: Barang siapa melayangkan tamparan ke pipi isterinya satu kali, Allah akan memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itu dengan tujuh puluh kali tamparan di neraka jahanam. [31]
Di pihak lain, kaum wanita pun dianjurkan untuk bersikap yang sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq a.s. menganjurkan kaum wanita untuk sedapat mungkin untuk menghindari pertengkaran yang buruk. Prof. KH. Anwar Musaddad berkata,
خير نسائكم التي إن غضبت أو أغضبت قالت لزوجها : يدي في يدك لا أكتحل بغمض حتى ترضى عني
Artinya: Wanita terbaik adalah wanita yang ketika marah atau membuat suaminya marah, berkata kepada suaminya itu, “Aku letakkan tanganku di tanganmu. Aku bersumpah untuk tidak tidur sebelum engkau mema-afkanku.” [32]
Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,
وجهاد المرأة أن تصبر على ما ترى من أذى زوجها وغيرته
Artinya: Jihad bagi seorang wanita adalah bersabar terhadap perlakuan buruk dan rasa cemburu suaminya.[33]
Rasulullah SAWW melarang isteri untuk melakukan tindakan yang dapat memancing timbulnya pertengkaran. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
من شرّ نسائكم الذليلة في أهلها , العزيزة مع بعلها , العقيم الحقود , التي لا تتورّع عن قبيح , المـتبرّجة إذا غاب عنها زوجها , الحصان معه إذا حضر , التي لا تسمع قوله , ولا تطيع أمره , فإذا خلا بها تمنعت تمنع الصـعبة عند ركوبها ولا تقبل له عذرا ولا تغفرله ذنبا
Artinya: Wanita terburuk adalah wanita yang hina dalam keluarganya tetapi merasa mulia di hadapan suami; yang mandul dan selalu merasa dengki; yang tidak berhenti melakukan perbuatan buruk; yang selalu berhias kala suami bepergian dan bersikap sombong kala suami ada; yang tidak mendengar kata-kata suami dan tidak menuruti perintahnya; yang jika berduaan dengan suaminya akan menolak ajakannya; dan yang tidak pernah mau memaafkan kesalahan suami dan tidak menerima alasannya. [34]
Rasulullah SAWW dalam hadisnya melarang wanita untuk membebani suami dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
أيّما امرأة أدخلت على زوجها في أمر النفقة و كلّفته مالا يطيق لا يقبل الله منها صرفا ولا عدلا إلاّ أن تتوب وترجع وتطلب منه طاقته
Artinya: Wanita yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar batas kemampuannya, tidak akan diterima Allah SWT amal perbuatannya sampai ia bertaubat dan meminta nafkah semampu suaminya.[35]
Selain itu Rasulullah SAWW juga melarang wanita untuk mengungkit-ungkit kelebihannya atas suami. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
لو أن جميع ما في الأرض من ذهب وفضة حملته المرأة إلى بيت زوجها ثم ضربت على رأس زوجها يوما من الأيام , تقول : من أنت ؟ إنما المال مالي , حبط عملها ولو كانت من أعبد الناس, إلاّ أن تتوب وترجع وتعتذر إلى زوجها
Artinya: Seandainya seorang wanita datang ke rumah suaminya dengan membawa serta bersamanya seluruh kekayaan bumi dari emas dan peraknya, lalu pada suatu saat ia mengangkat kepalanya di hadapan suami sambil mengatakan, “Siapa kau ini? Bukankah seluruh harta ini adalah milikku?”, Allah akan menghapus semua amalan baiknya meskipun ia adalah orang yang paling banyak beribadah, kecuali bila ia bertaubat dan meminta maaf kepada suaminya. [36]
Rasulullah SAWW juga mengingatkan para wanita untuk tidak menggunakan kata-kata kasar yang dapat membangkitnya amarah suami saat berhadapan dengannya. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
أيّما امرأة آذت زوجها بلسانـها لم يقبل منها صرفا ولا عدلا ولا حسنة من عملها حتى ترضيه ..
Artinya: Jika seorang wanita menyakiti suaminya dengan kata-kata, Allah tidak akan menerima seluruh amalan baiknya sampai sang suami memaafkannya. [37]
Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah SAWW melarang suami isteri tidak menyapa satu sama lain, karena hal itu merupakan awal perpisahan dan terputusnya hubungan antara mereka. Prof. KH. Anwar Musaddad bersabda,
أيّما امرأة هجرت زوجها وهي ظالمة حشرت يوم القيامة مع فرعون وهامان وقارون في الدّرك الأسفل من النار إلاّ أن تتوب وترجع
Artinya: Jika seorang wanita mendiamkan suaminya padahal ia adalah pihak yang salah dan berlaku zalim terhadapnya, Allah kelak akan mengumpulkannya bersama dengan Fir’aun, Haman, dan Qarun di dasar neraka, kecuali jika ia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. [38]
Semua perintah dan anjuran di atas, jika dijalankan dengan baik dan sempurna, akan menjamin keselamatan keluarga dari pertengkaran dan percekcokan atau paling tidak meminimalkannya. Namun bila pasangan suami isteri tidak mampu menjalankannya dengan baik, maka hendaknya pertengkaran yang terjadi di antara mereka tidak didengar oleh anak-anak. Sebaiknya, anak-anak tidak mendengar tuduhan-tuduhan, kata-kata kotor, dan makian yang terlontar dari kedua orang tua mereka.
Kewajiban orang tua adalah menjelaskan kepada anak-anak mereka bahwa pertengkaran dalam sebuah keluarga adalah hal yang wajar dan mereka berdua masih saling mencintai. Selain itu, mereka berdua juga harus secepatnya mencari jalan penyelesaian kemelut yang melanda rumah tangga mereka itu.
Islam memperingatkan setiap pasangan suami istri tentang dampak negatif perceraian dan putusnya tali ikatan perkawinan. Dampak negatif tersebut akan menimpa kondisi psikis mereka berdua, anak-anak, dan juga masyarakat.
Perceraian adalah sumber kegelisahan dan kelabilan psikis, perasaan, dan tingkah laku anak karena ia sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang yang seimbang dari ayah dan ibunya. Bahkan, seorang anak hanya dengan memikirkan dan mengkhayalkan perceraian kedua orang tua, akan merasa gelisah. Jika hal itu berkelanjutan akan berdampak negatif pada kestabilan perasaan dan kejiwaannya.
Sehubungan dengan hal ini, Islam telah menawarkan sebuah konsep dalam menjaga hubungan baik antara suami isteri untuk menghindarkan perceraian dan kehancuran rumah tangga. Dalam banyak nash, Islam bahkan melarang perceraian. Rasulullah SAWW bersabda,
أوصاني جبرئيل عليه السلام بالمرأة حتى ظننت انه لا ينبغي طلاقها إلاّ من فاحشة مبيّنة
Artinya: Jibril sering berpesan kepadaku tentang talak (perceraian), sampai-sampai aku mengira bahwa wanita tidak boleh dicerai kecuali jika telah melakukan perbuatan zina dengan terang-terangan.[39]
Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,
ما من شيء ممّا أحلّه الله عزّ وجل أبغض إليه من الطلاق وأن الله يبغض المطلاق الذوّاق
Artinya: Tidak ada sesuatu yang halal yang lebih Allah benci daripada perceraian. Allah sangat membenci orang lelaki yang gemar menceraikan isteri dan sering kawin hanya untuk menikmati wanita sesaat saja. [40]
Prof. KH. Anwar Musaddad juga berkata,
إن الله عزّ وجل يحب البيت الذي فيه العرس , ويبغض البيت الذي فيه الطلاق وما من شيء أبغض إلى الله عزّ وجل من الطلاق
Artinya: Sesungguhnya Allah SWT menyenangi rumah yang di dalamnya terdapat orang yang baru menikah, dan membenci rumah yang di dalamnya terdapat perceraian. Tidak ada sesuatupun yang lebih Allah benci daripada perceraian. [41]
Selain itu Islam, juga menganjurkan semua pasangan untuk menyusun strategi demi menghindari perceraian. Islam mengajak para suami istri untuk mempererat tali cinta kasih di antara mereka dan menghimbau agar secepatnya menyelesaikan semua masalah dan pertikaian di antara keduanya yang dapat mengakibatkan perceraian. Karena itulah, kita temukan dalam banyak nash agama adanya perintah untuk bergaul dengan baik dengan pasangan kita. Allah SWT berfirman,
.. وعاشروهنّ بالمعروف فإن كرهتموهنّ فعسى أن تكرهوا شيئا و يجعل الله فيه خيرا كثيرا
Artinya: ...Bergaullah dengan isteri-isteri kalian dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin saja kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang berlimpah. [42]
Islam juga telah mengajarkan untuk mengadakan perbaikan hubungan demi mengembalikan suasana harmonis dalam keluarga. Allah SWT berfirman,
وإن امرأة خافت من بعلها نشوزا أو إعراضا فلا جناح عليهما أن يصلحا بينهما صلحا والصلح خير ....
Artinya: Jika seorang wanita merasa khawatir terhadap sikap tak acuh suami terhadapnya, ia dapat mengusahakan perdamaian di antara mereka berdua. Perdamaian itu adalah sesuatu yang baik.... [43]
Mengadakan perdamaian antara suami dan isteri lebih baik daripada meninggalkannya. Melihat kenyataan bahwa hati manusia dapat berubah-ubah dan kehendak sewaktu-waktu dapat berbalik, Islam menekankan kepada suami dan isteri untuk melakukan upaya perdamaian sebelum mengambil keputusan untuk saling berpisah. Allah SWT berfirman,
وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله و حكما من أهلها إن يريدا إصلاحا يوفّق الله بينهما إنّ الله كان عليما خبيرا
Artinya: Jika kalian mengkhawatirkan adanya pertikaian antara keduanya, utuslah seorang juru damai dari masing-masing pihak, suami dan isteri. Jika mereka berdua bermaksud mengadakan perbaikan, Allah pasti akan memberikan taufik-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha mengenal. [44]
Jika semua usaha perbaikan hubungan dan upaya untuk mengembalikan keadaan seperti sediakala tidak membuahkan hasil, dan jika semua pertikaian dan perselisihan yang ada tidak bisa diselesaikan kecuali dengan perceraian, saat itulah mungkin perceraian merupakan jalan terbaik bagi mereka berdua.
Walaupun demikian, anak tetap akan mendapatan pukulan yang hebat dari perpisahan kedua orang tuanya tersebut dan ini akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya. Karena itu, Islam masih memberikan peluang kepada mereka berdua untuk kembali membangun rumah tangga mereka. Islam memberikan kesempatan kepada suami untuk merujuk isterinya saat ia masih berada dalam masa iddah atau menikahinya dengan ijab qabul baru jika wanita itu telah keluar dari masa iddah. Selain itu, ia masih dapat merujuk setelah menceraikan isterinya sebanyak dua kali.
Jika semua usaha perbaikan hubungan ini tidak membuahkan hasil dan perpisahan benar-benar terjadi, mereka berdua berkewajiban untuk menjaga perasaan anak-anak dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Selain itu, mereka berdua harus memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa baik ayah maupun ibu mereka adalah orang-orang yang baik. Islam melarang kita untuk berdusta, bergunjing, serta membongkar aib dan cela orang lain. Dengan demikian, anak akan dapat mengatasi masalah dan benturan psikis yang ditimbulkan oleh perceraian orang tuanya.
Jika anjuran dan himbauan ini tidak diperhatikan dan masing-masing pihak saling melemparkan tuduhan kepada pihak lain serta membongkar aib dan kesalahannya kepada anak, si anak akan membenci kehidupan dan merasa rendah diri. Lebih jauh lagi, hal itu akan berpengaruh pada perasaannya terhadap orang tuanya. Ia akan membenci dan sekaligus mencintai mereka pada saat yang sama setelah mengetahui cela dan kesalahan masing-masing. Anak yang demikian ini akan selalu dihinggapi oleh rasa gelisah dan kekhawatiran. Kegelisahannya hari demi hari akan bertambah, dan hal itu berpengaruh buruk pada kehidupan sosialnya dan rumah tangganya di masa mendatang.
cat kaki, diambil dari : http://www.al-shia.com/html/id/books/Pendidikan%20Anak/04.htm
PENDIDIKAN UMAT / MASYARAKAT
PANGGILAN MENJADI DAI BANGSA
Panggilan tugas yang dibebankan ke pundak bapak sebagai kepala bagian kemasjidan departemen agama di yogyakarta ternyata bagi ibu merupakan awal dibentangkannya realitas cakrawala kehidupan baru dalam perikehidupannya. Suasana yang sebelumnya penuh kemanjaan karena mendapat bimbingan langsung dari ibu mertua A Hajjah Siti Marfuah dan ibundanya sendiri (H. Fatmah) adalah sosok istri seorang ulama besar dan terhormat, telah mentasdikkan babakan dan wawasan pengalaman baru. Memang di yogyakarta tidak banyak yang mengenal ibu sehingga bagaimanapun pasti memerlukan penyesuaian dan antisifasi yang menuntut jiwa yang besar. Pada waktu itu kota yogya dikenal dan membuktikan diri sebagai miniaturt bangsa lintas budaya antar suku bangsa yang dating drai seluruh tanah air, tertransformasi secara alamiah ke dalam figure ibu dan bapak, paling tidak memunculkan dampak dan dimensi yang luas.
Tak terelakan lagi di yogyakarta ini aktivitas bapak dan ibu semakin bertumpuk saja, bapak ikut serta mengembangkan perguaruan tinggi agama islam negeri (PTAIN) dan sekarng menjadi IAIN Sunan Kalijogo. Kemudian mengajar di berbagai sekolah dan perguruan tinggi seperti SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama), PHIN (Pendidikan Hakim agama Islam Negeri) dan ULL. Berbarenbgan dengan ktivitas akademik ini bapak juga dipercaya menjadi imam besar di masji Syuhada dengan mempelopori penyelenggaraan kuliah subuh di masjid yang sama, selain aktif di PB NU Bapak juga tercatat sebagai anggota DPR RI dan pembantu pemelihara rohani Islam AD.
Seluruh aktivitas ayang ditekuni bapak tadi memberikan getar-getar pengetahuan dan pengalaman kepada ibu sehingga memberikan warna tersendiri pada derajat pendewasaan ibu sebagai istri pendamping suami ibu dari anak-anak dan ditambah keterpanggilan untuk terjun langsung memimpin masyarakat. Dengan bekal ini ibu dapat mendampingi bapak berjuang dan berdakwah bersama melaksanakan misi agama di seluruh tanah air bahkan di luar negeri. Pada spectrum sisi ini ibu mampu menampilkan kebolehannya di bidang dakwah. Meskipun begitu, anatar bapak dan ibu memiliki gaya dan karakter dakwah yang berbeda. Di satu pihak bapak mencirikan gaya datar dalam bicaranya sementara ibu bergaya retoris, energik dan penuh semangat, ini memungkinkan ibu potensial untuk menjadi fasilitator gerakan kemasyarakatan padahal pada waktu itu dai dan penggerak wanita masih terbilang jarang.
Selain mendampingi bapak ibupun memiliki kegiatan sendiri bersama kegiatan wanita lainnya dari masjid ke masjid adan aktif di organisasi mulimat NU. Berkat aktivitasnya yang tak kenal ibu pernah menjadi wakil ketua DPRD di Yogyakarta. Begitu pula pengangkatan bapak sebagai dekan fakultas ushuludin dan sebagai salahseorang anggota penterjemah al_qur’an Departemen Agama RI memberikan peluang kepada ibu untuk memahami dengan sungguh-sungguh struktur, system dan mekanisme kenegaraan yang berkaitan dengan kegiatan dakwah umat sebagai bagian integral yang utuh dalam rangka nation and caracter building.
Ibu dan bapak menyadari betul bahwa efektivitas dan efisiensi dakwah islamiah akan fungsional dan bermakna jika para dai mampu menorehkan dakwahnya dalam kerangka system dan mekanisme kebangsaan, kenegaraan dan pengembangan umat. Pola dakwah yang dikembangkan oleh bapak dan ibu tersebut disertai dengan kemampuan dan kesungguhan untuk mengidentifikasikan diri ke dalam kepentingan umat, bangsa dan Negara. Serta siap berdiri di teras terdepan manakala semua kepentingan itu memanggil untuk tetap berada pada poros niata yang ikhlas; liilaai kalimatillah hiyal ulya.
Pematangan dan pengalaman ini didorong oleh kesadaran yang mendalam dan meluas yang tidak bisa tidak bagi bapak dan ibu hars menjadi dai bangsa adalah menjadi modal yang besar serta mendasar ketika bapak ditugaskan kembali ke jawa barat (1967) untuk mendirikan IAIN. Lalu bapak dan menjadi rector pertama di IAIN Sunan Gunung Jati ini meskipun kegiatan bapak semakin terpusatkan ke dalam dunia pendidikan tidak membuat kegiatan ibu menjadi surut, keterpanggilan ibu yang setia mendampingi tugas-tugas bapak itu concernnya dilanjutkan ke dalam pembinaan umat dengan ikut aktif sebagai pengurus muslimat NU di Jabar. Disinipun ibu pernah menjadi anggota DPRD Jabar.
Di Bandung ini pul abapak mempelopori aktivita skuliah subuh di mesjid agung. Bapak berkesempatan mewujudkna “pesantren Luhur” yang ide dasarnya ingin “mengkiayikan sarjana dan mensarjanakan kiayi, mensantrikan mahasiswa dan memahasiswakan santri” dalam suatu proses belajar mengajar yang terintegrasi.
METODE PENDIDIKAN MENURUT PROF. KH. ANWAR MUSADDAD
KEKHASAN DAKWAH BAPAK DAN IBU
Dalam berdakwah bapak memiliki metoda yang khas yaitu metoda visualisasi dengan menggunakan gambar di papan tulis, di kertas gambar atau dengan film. Mudah dimengerti namun kuat kesannya kepada pikiran dan hati kita, sebagai contoh ketika bapak menggambarkan undangan allah ta’ala bagi sekalian umat islam ke syurga Darussalam allah hanya menerima mereka di Syurga kalau menggunakan kendaraan terhormat yang disebut kendaraan agama Islam, bentuknya sepertyi mobil sedan yang terdiri dari lima bagian yang vital seperti rukun Islam yang lima dua kalimah syahadat dan sholat lima waktu dijadikan chasis mobil yang kuat dibelakangnya ada tangki bensin yaitu ibadah zakat dan selanjutnya puasa sebagai rem serta ada roda-rodanya yaitu naik haji. Orang islam yang belum pergi haji ibarat mobil yang belum ada bannya. Ia masih nonggkrong di dalam garasi jadi sebelum tiba disyurga daarussalam mobil itu tidak boleh berhenti di tengaha jembatan apalagi berunah tangga permanent di tengah-tengah jembatan.
Pada kontek pengajian rutin, gambar-gambar tersebut ditulis oleh bapak sendiri lalu menstenmsil sendiri untuk dibagikan kepada peserta pengajian dengan inisial “anak panah”
Yang tiada lain “logo” dari nama bapak sendiri : Musaddad
Panggilan dakwah bapak untuk beramar maruf nahi munkar dipengaruhi oelha sifat bapak yang pendiam polos dan lugu. Sehingga bapak tidak termasuk ke dalam model dakwah eksibitif yang banyak bicara sekedar eksibisi dalam menyatakan pendapat kedakwahannya. Bapak sering menggunakan bahasa “kirata” (kira-kira tapi nyata), bahasa yang digunakan dipenuhi oleh penghampiran kerakyatn dan dapat menyentuh daya imajinasi pendengar tanpa harus berpikir keras.
Metoda ini amat bermanfaat bagi orang-orang yang haus akan tuntunan agama, namun dapat diterimanya tanpa kesulitan dan dapat menyentuh hati nurani secar efektif. Visualisasi dakwah bapak tersebar di tangan murid-muridnya, serta menjangkau seluruh tanah air dan merebak di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunai Daruissalam dan Sabah. Tentu saja untuk mengumpulkannya dibutuhkan kerja yang tidak gampang sehingga akan menjadi kontribusi terpenting terhadap rencana penyusunan BIOGRAFI dari Bapak Musaddad yang kelak akan bermanfaat bagi penteladanan dan kajian pengalaman oleh genarsi mendatang. Dibalik itu dengan perumpamaan bahasa “kirata” yang dikembangkan bapak tidak jarang melahirkan ungkapan yang “menyerempet” dan banyak yang terkena sasaran dalam hal ini peran ibu untuk menghaluskan ungkapan yang menyerempet itu penting meski tidak selamanya bisa berhasil oleh ibu.
Lucunya dalam hal tertentu juga karena panggilan amar ma’ruf ibu malah lebih keras dari bapak dan bila demikian bapak pun menghaluskan sebagai hasilketerpaduan dari nuansa-nuansa cakrawala pemikiran ibu yang menjadi kehidupan “membumi” pesantren dan dilarutkan dengan paradigma pemikiran bapak yang melanglang buana dengan segala cakrawala keluasan pemikirannya telah bertemu pada suatu muara cita-cita yang tertuang ke dalam gagasan pengembangan pesantren yang modern tetapi memiliki jati diri keagamaan dan umat.
INSTITUSI PENDIDIKAN MENURUT PROF. KH. ANWAR MUSADDAD
CITA DAN CITRA LEMBAGA PENDIDIKAN IDAMAN
Arti penting pesantren ayng modern namun tetap memiliki jatidiri agama dan umatnya bagi bapak dan ibu merupakan keperluan asasi manusi untuk dapat hidup sesuai kodrat kemanusiannya sebagai hamba Allah. Lagi pula untuk mempertinggi derajat kehidupan danpenghidupannya yang memiliki kualitas piker yakni integritas dan etos kecerdasan kualitas dan etos kerja yang mandiri, memiliki integritas keilmuan dan profesionalisme serta kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi yang dapat berperan sebagai kholifah Allah di muka bumi. Dengan kata lain pendidikan pesantren bagi bapak dan ibu adalah suatu komunitas belajar mengajar yang terintegrasi, yang sinergi, saling mengait yang berfokus kepada pengembangan pendidikan agama (islam) dengan memasukkan keilmuan ilmu pengetahuan dan teknologi ke pesantren, serta memasukkan system pendidikan umum di lingkungan pesantren.
Bapak dan ibu menyadari sepenuhnya bahwa prinsif riadhoh, suatu proses penempaaan dan konsistensitas disiplin dalam kerangka system mekanisme pendidikan pesantren memberikan makna tersendiri kepada santri tentang kejatidiriannya. Lalu memantapkan keimanan dan ketakwaan, orientasi dan visi ilmu amaliah-amal ilmiah, akhlakul karimah, tawakkal, ikhlas, tawadhu dan konsisten di jalan lurus dalam ridho Allah. Seluruh kedirian ini menorehkan sikap, piker dan perilaku komunitas pesantren bukanhanya mampu membangun dirinya sendiri, tapi dapat juga mendorong umat lingkungannya untuk maju dan berkembang sejajar dengan kemajuan pesantren. Karakteristik yang paling menjati diri keapada lulusan pesantren mereka tidak berorientasi kepada legalitas ijazah, legitimasi profesi dan fasilitas menjadi pegawai, melainkan semata ingin menjadi pelayan terbaik dalam mengembangkan agama, kemajauan dan pemartabatan manusia di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Dalam kaitan ini bapak mengkiratakan pesantren dari kata santri, sebagai suatu akronim dari: San = insan, dan Tri = Trilogi, yakni insane yang memiliki trilogy : 1. memiliki kualitas dan integritas keimanan dan ketakwaan yang mencuatkan identitas diri, harga diri, disiplinitas diri dan ketahanan diri dalam kualitas kemandirian bangsa di tengah-tengah arus kesejagatan; 2. memilki kualitas dan integritas piker yang mengokokohkan wawasan keilmuan agama yang berpadu dengan wawasan keilmuan iptek . sehingga dapat melepaskan umat dari keterjeratan dilema dehumanisasi dan ketergantungan. To humanize the human dalam arti pemanusiaan manusia sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah allah di bumi. 3. kualitas dan itegritas keterampilan profesionalisme yang bertumpu pada etos dan integrtas kerja dengan semangat etik, moral dan spirituakl uslam yang ya’lu wal yu’la alih.
4.2.2. Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad
dalam Pendidikan Islam
4.2.2.0. Kabid Pendidikan Agama Islam Depag
4.2.2.1. Memelopori Pendirian IAIN Sunan Kalijaga
4.2.2.2. Pendiri IAIN SunanGunung Jati
4.2.2.3. Mendirikan Yayasan Al-Musaddadiyah
Yayasan pendidikan Al-Musaddadiyah yang didirikan tahun 1975 sekarang telah mengembangkan : TK. Al-Qur’an, SMP Cil;edug, SMA Ciledug, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Pondok Pesantren Putra Puls Pondok Pesantren putrid, Majelis Ta’lim , Sekolah Tinggi Hukum Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam(STAI) dan Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG).
Semua lembaga-lembaga ini dipusatkan dalam sebuah kampus di atas tanah 10 hektar terletak di jalan Cimanuk 93 B di Kota Garut Jabar.
4.2.2.4. Mendirikan Yayasan UNIGA
Sejarah Universitas Garut
Sejarah berdirinya Universitas Garut dimulai pada tahun 1975, dimana pada waktu itu tokoh Pendidikan asal Garut yaitu Prof. K.H. Anwar Musaddad (alm) (pendiri dan rektor pertama IAIN /UIN Sunan Gunung Jati Bandung) melihat bahwa Garut sebagai suatu Kabupaten yang cukup besar, yang tengah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang pembangunan belum mempunyai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mampu mengakomodasi keperluan masyarakat Garut akan pendidikan yang semakin tinggi. Untuk itu Prof. KH. Anwar Musaddad mendirikan perguruan tinggi yang dikelola oleh sebuah yayasan yaitu Yayasan Perguruan Tinggi Garut yang diberi nama Sekolah Tinggi Ilmu Kemasyarakatan (STIK) dengan 1 program studi yaitu Kesejahteraan Sosial.
Berkat perjuangan yang cukup keras dari para pengelola perguruan tinggi tersebut, dan dengan meningkatnya pula kebutuhan akan pendidikan tinggi oleh masyarakat Garut, maka dilakukan penambahan program studi baru, yaitu Ilmu Administrasi dan Pekerja Sosial Medik Pada tahun 1991 Yayasan Perguruan Tinggi Garut mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dengan program studi Manajemen dan Akuntansi.
Selanjutnya Pada tahun 1996 didirikan program Pascasarajana dengan jurusan Ilmu Administrasi, konsentrasi Administrasi Negara. Kemudian pada tahun 1997, Yayasan Perguruan Tinggi Garut mendirikan Fakultas Agama Islam dengan program studi Kependidikan Islam, Pendidikan Agama Islam serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Garut sebagai Kabupaten yang sebagaian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, memberikan peluang untuk pendirian sebuah lembaga pendidikan tinggi pertanian.
Pada tahun 1992, Yayasan Gilang Kencana yang juga mengelola pendidikan dasar menengah, mendirikan Sekolah Tinggi Pertanian Gilang Kencana Garut, yang mempunyai 2 program studi yaitu budidaya pertanian studi peternakan. Sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan akan pendidikan tinggi yang dirasakan oleh masyarakat Garut.
Pada tahun 1996 berdiri pula dua buah perguruan tinggi dibawah pengelolaan Yayasan Prima Garut yaitu Sekolah Tinggi Farmasi dan Akademi Tekstil. Guna mewujudkan cita-cita masyarakat Garut akan berdirinya Universitas Garut, tiga Yayasan penyelenggara perguruan tinggi swasta tersebut di atas; Yayasan Perguruan Tinggi Garut, Yayasan Perguruan Prima dan Yayasan Gilang Kencana telah sepakat untuk bergabung dalam satu wadah yakni: Yayasan Universitas Garut (YUNGA) yang berdiri dengan akta notaris Yayah Kusnariah, SH Nomor 7 tanggal 15 Juli 1997. Yayasan ini berfungsi sebagai penyelenggara Universitas Garut.
Visi Universitas Garut
“Menjadi universitas terkemuka dalam mengembangkan ilmu dan teknologi, serta menghasilkan sumberdaya manusia terdidik, beriman, berkualitas, dan berahlak mulia dengan multi kompetensi yang mampu bersaing pada tataran nasional, regional, dan global”.
Misi Universitas Garut
- Melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta meneguhkan agama dan budaya;
- Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Garut pada khususnya;
- Menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu berkompetisi pada dunia kerja;
- Menggalakkan kegiatan penelitian yang ditujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat;
- Mengabdikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membantu masyarakat untuk memecahkan masalah rekayasa dalam hal meningkatkan mutu kerja dan pendapatan masyarakat;
- Menyelenggarakan sistim administrasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
- Buku Kenang-kenangan Kawin Emas Rd. H. Atikah Binti Rd. KH. Qurtubi dengan Prof. KH. Anwar Musaddad
- Biogrsfi Prof. KH. Anwar Musaddad
- Sosialisme Tarekat : Menjejaki Tradisi dan Amaliah Spiritual Sufisme, Penerbit Humaniora.
- IAIN Sunan Gunung Jati, Pemikiran danPengabdian Prof. KH. Anwar Musaddad: Memori Ulang Tahunke 90 (Bandung : IAIN Sunan Gunung Djati, 1999), hal 42-43
- Transformasi Otoritas Keagamaan : Pengalaman Islam Indonesia, Penyunting Jajat Burhanudin & Ahmad Baedowi, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, PPIM-UIN Jakarta dan Depag. Cetakan 1 : 1.2003
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama : Alimudin Tempat Tanggal Lahir : Garut, 20 Februari 1977 Nama Istri : Yulia Alimudin (menikah 05 Des 2004) Nama Putri : Najma Zahra Firstaliya Alamat : Kp. Cipanas, RT 02 RW 08 Desa Sukahaji Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut
Riwayat Pendidikan : 1. SDN Wanakerta III Kertajaya Cibatu Garut 2. SMPN I Cibatu Garut 3. SMAN I Cibatu Garut 4. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, masuk 1997 (tidak selesai) 5. Universitas Garut (UNIGA) masuk 2005 – sekarang 6. Pesantren Keresek Cibatu – Garut 1993 - 1996 7. Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyyah Ciamis, 1996
Pengalaman Organisasi : 1. Ketua Majelis Permusayawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung periode 2001 – 2002 2. Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung periode 2001 – 2002 3. Ketua Kongres Kelompok Pengkajian Mahasiswa Jawa Barat (KPMJB), 1998 4. Presidium Konsorsium Mahasiswa Kota Bandung (KMKB) 5. Relawan Youth Ending Hanger (YEH ) Chafter Bandung 6. Valounter UNFREL, 1999 7. Anggota Caraka Sundanologi, tahun 2001 8. Anggota Teater Adzikr Daarut Tauhid Bandung 9. Relawan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Jabar 2005 10. Pembina No Face Garut Motor Club (GMC),2004 11. Ketua Bidang Kajian Strategis Pengurus Besar Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) tahun 2004
Pengalaman Training : 1. Training Jurnalistik ICMI Orwil Jabar 6 - 9 Des 2001 2. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa Komisariat FPBS UPI 3. Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) HIMA Bahasa Asing UPI Bandung tahun 1997 4. Latihan Keterampilan Manajemen mahasiswa (LKMM) BEM FPBS UPI tahun 2000 5. Training Instruktur Belajar Al-Qur'an Intensif (BAQI) DKM Al- Furqon UPI Bandung 6. Pelatihan Manajerial dan Kewirausahaan Dinas KUKM Jabar TA 2005
Pengalaman Kerja : 1. Marketing Eksekutif PT Astra Internasional Tbk – Nissan Diessel 2002 2. Marketing Eksekutif PT Turbo Motor Indonesia tahun 2003 – 2004 3. Anggota TIM Survey masalah Pedagang kaki lima Pemda Kotamadya Bandung 4. Tim Data Entry Penghitungan Suara Pemilu 2004 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Propinsi Jawa Barat 5. Asisten Peneliti Wakaf untuk Keadilan Sosial, kerjasama Universitas Islam Negeri Jakarta dengan Ford Foundation 2005. 6. Direktur CV. Bismillaah Visi Mandiri, Akta Notaris Dini Badar SH No 8
Karya Tulis : 1. Artikel di Koran Indonesia Indonesia, " Supremasi Sipil di Era Transisi Demokrasi" 2. Makalah,"Menjadi Aktivis : Sebuah Pilihan Yang Salah ?" Disampaikan pada Pelatihan Keterampilan Manajemen mahasiswa (LKMM) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) 3. "Teknik Persidangan dan Manajemen Konflik" Pada Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa STT Telkom
4. “Pendidikan Islam di Era IPTEK” makalah Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam 2006
- SEBUAH PENGANTAR
Kekufuan mendasari kelestarian kehidupan keluarga
yang makin bermakna dan berkualitas
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, Tuhan yang Maha kasih dan Maha penyayang, yang telah menggelarkan suatu peristiwa anak manusia, peristiwa kawin emas (50 tahun) Rd. Hj. Atikah Qurtubi dan Prof. KH. Anwar Musaddad.
Sungguh mengantarkan keutuhan sebuah rumah tangga selama 50 tahun, bukanlah tugas yang ringan. Didalamnya tentu saja teralirkan berbagai simponi kehidupan. Dari pasang hingga surut, dari yang teramat manis hingga yang terpahit sekalipun. Semuanya dijalani dengan tulus tanpa pamrih, kecuali hanya ridla Allah yang dituju.
Alam pawenangan kehidupan manusia penuh misteri(rahasia). Bahkan Tuhan pun menegaskan dalam hadits Qudsi : “Wahai anak adam, aku adalah rahasiamu, dan kamu adalah rahasia-Ku”. Namun dalam kerahasisaan-kerahasisaan ini sunnatulloh pasangan jodoh anak manusia tetap mencuatkan: yang baik akan berpasangan dengan yang baik, yang unggul dengan yang unggul, yang excellence berpasangan dengan yang excellence, “kafaah” (kekufuan) ini yang mendasari kelestarian kehidupan keluarga makin bermakna dan berkualitas sepanjang masa.
Tidaklah mengherankan, jika pada acara syukuran 50 tahun pernikahan Bapak dan Ibu Musaddad ini terbersitkan sebuah hikmah, nikmat dan berkah. Bukan saja untuk Bapak dan Ibu Musaddad sendiri, namun lebih jauh dari itu, bisa diteladani oleh keluarga Musaddad (khususnya), dan secara umum oleh kita semua.
Sebab di dalam acara syukuran pernikahan 50tahun ini, kita semua bisa menyaksikan bagaimana aplikasi mabadi khaera ummah (menyiapkan umat terbaik) telah tertorehkan dalam keluarga besar Prof. KH.Anwar Musaddad. Karena itu, Bapak dan Ibu Musaddad bukan saja menjadi sosok yang dihormati di hadapan keluarga. Tapi juga dihormati oleh lingkungan dan pihak-pihak di luar keluarga.
Dengan demikian, memaknai peringatan pernikahanBapak dan Ibu Musaddad ini, sesungguhnya memunculkan sebuah daya untuk introspeksi, retrospeksi dan proyeksi bagi kita semua ketika mengarungi bahtera rumah tangga masing-masing. Dan sesungguhnya pula, perjalanan dan pengalaman hidup bermakna yang ditempuh oleh Bapak dan Ibu Musaddad, semoga menjadi pemicu untuk mentasdikkan kita bahwa khaera ummah adalah fitrah kita. Insya Allah.
Garut, 23 Februari 1992
Tim Penyunting
II. PERINGATAN PERNIKAHAN EMAS
Ibu dan Bapak Prof. K.H. anwar Musaddad
(Februari 1942 – 1992)
PEMAKNAAN PERNIKAHAN IBU DAN BAPAK
Alam pawenangan kehidupan manusia mengantarakan sosok pemuda yang kemudian bernama anawar Musaddad menggelarkan langkah kakinya penuh idealisme ke tanah suci Makkah almukarramah. Dengan ketegaran fisik dan ketampananya terpantulkan pula lewat sorot matanya yang tajam, bahwa ia harus mereguk mata air kecemerlangan di persada kelahiran nabi Muhammad SAW. Itu selain dorongan yang kuat yang dating dari diri Bapak sendiri untuk meraup ilmu. Juga dikuatkan olah hembusan semangat ibunda H. Siti Marfuah, bahwa menganyam ilmu agama di pusat diturunkannya agama islam mentasdikkan sebuah kekukuhan untuk segera menjejakan kakinya di tanah suci; tempat dicerahkannya peradaban tertinggi umat manusia.
Keteguhan sikapnya dalam menggumuli ilmu agama di tanah suci Makkah sesungguhnya berjalan seiring dengan sabda nabi Muhammad SAW : pelajarilah ilmu pengetahuan itu karena mempelajarinya termasuk khosyyah (takut akan azab Allah); mencarinya termasuk ibadah ; menelitinya termasuk jihad di jalan Allah mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu termasuk shodaqoh; memberikannya kepada ahlinya termasuk qurban, mendekatkan diri kepada Allah. Dan karena itu , ilmu adalah perangkat untuk mengenal yang haram dan halal, juga menerangi jalan bagi para ahli syurga.
Ilmu agama merupakan petunjuk jalan dalam suka dan duka, ibarat penghibur hati dalam kesunyian, sahabatdalam keterasinganteman berbincang dalam kesepian dan ketika seseorang manusia terkepung oleh anacaman musuhnya, ilmu pun mewujudmenjadi sebuah senjata ampuh, sungguh, rengkuh ilmu bagi Bapak memiliki keniscayaan sebagai perhiasan untuk sahabat-sahabat karibnya, sebab, Allah mengangkat dengan ilmu pengetahun bebrapa kaum menjadi pemimpin-pemimpin kebajikan, dijadikan imam-imam yang diikuti bentang sejarah perjalanan yang dilaluianya, dituriti perbuatan-perbuatannya, dijadikan keputusan melalui pendapat-pendapatnya sehingga para malaikat senantiasa mengusap mereka dengan sayap-sayap kerahmatan.
Keluasan ilmu agama bagi Bapak mentasdikkan semua benda yang basah dan kering memohonkan ampunan bagi mereka. Demikian pula ikan-ikan di laut dengan segala isinya, dan semua binatang buas di daratan, serta binatang-binatang ternaknya. Sebab ilmu itu menghidupkan hati yang mati karena kebodohan, rentang kecahayaan mata melawankegelapan. Dengan sendirinya pula seorang hamba seperti Bapak akan sampai dengan ilmu ke tempat orang-orang terpilih dan mencapai derajat-derajat yang tinggi, insya Allah, di dunia dan akhirat. Derajat seperti ini, memiliki peringkat pasti karena tafakur tentang ilmu sama halnya dengan puasa, tadarusnya menyamai sholat tahajjud. Dan dengan ilmu pula, tali kekeluargaan makin dikuatkan, untuk memilah yang halal dan haram. Ia adalah yang memimpin amal kebajikan dan amal kebajikan ikut padanya. Karenanya, ilmu pengetahuan hanya diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.
Itulah sebabnya kedahagaan Bapak akan ilmu agama, selain bisa berlama-lama menikmati pengajian di masjidil haram, juga selalu mengantarkan Bapak untuk bersilaturrahmi untuk mengunjungi ulama-ulama besar yang mengajar di masjid tersebut. Salahssatunya seorang ulama besar di masjidil haram k.h. Syafei, yang berasal dari Garut, merupakan sosok yang sering dikunjungi (bermuwajahah) Bapak, Nyaris seluruh ilmu dan pengalaman K.H. Syafei telah direguk olah Bapak, Bapak tak pernah melewatkan kesempatan bermuwajahah dengan ulama besar Makkah K.H. Syafei. Antusiasme Bapak yang penuh perhatian, kecerdasan dan ditambah ketampanan sosok seorang pemuda yang lugu, adab dan bersopan santun dalam penampilannya telah mencuatkan ucapan sang ulama besar ini bahwa,”bahwa Bapak akan mendapatkan jodoh seorang cucunya!”, K.H. Syafei sendiri meninggal dalam usia 126 tahun. Beliau adalah ayahanda K.H. qurtubi dan kakek dari Ibu atikah Musaddad sendiri.
Rentang waktu 11 tahun di Makkah telah dilalui oleh Bapak dengan tulis dan penuh kematangan , banyak sudah bekal yang telah ditafakuri oleh Bapak di tanah suci. Derajat kearifan pun telah menyertainya. Dan setahun setelah kepulangannya dari mekkah, Bapak ditakdirkan Allah untuk berdialog dengan ajengan besar K.H. Djamhur dari bayongbong Garut, dan bersama Bapak mukim di Mekkah, perbincangan yang dilandasi oleh nilai-nilai muwajahah itu , ternyata melahirkan isyarat-isyarat dari K.H. Djamhur yang memberikan peluang kepada Bapak untuk mempersunting adik beliau yang tiada lain , kelak di kemudian hari adalah Ibu Musaddad sendiri. Sungguh benar firman Allah di dalam hadits Qudsi : “Wahai anak adam, kamu adalah rahasia-Ku, dan aku adalah rahasiamu”.
PERTEMUAN DI SEPANJANG PERJALANAN KERETA API
PEMAKNAAN WA’ASYIRU HUNNA BILMA’RUF
Begitu larutnya nilai-nilaikeislaman dalam pola kehidupan dan pola dakwah Bapak, bahkan untuk hal-hal yangamat gaib sekalipun Bapak mampu mentamsilkan lewat perumpamaan-perumpamaan yang amat sederhana dan konkrit, seperti halnya pengibaratan gerbong-gerbong kereta api tadi. Pun demikian , perintah alqur’an yang berbunyi : wa’asyiru hunna bilma’ruf, yakni pergaulillah istrimu sebaik-baiknya , telah menjadi pedoman awal dalam mengayuh roda kehidupan rumah tangganya , amanah Al-Qur’an ini bagai Bapak telah menyentuh secara total relung jiwanya , pikirannya, perasaan dan hati nuraninya yang luluh dalam sikap mawaddah , cinta dan kasih saying yang memiliki keagungan serta keluhuran serta keluhuran.
Sebaliknya ibuyang masih remaja muda, masih senang diolo diogo, menurut kehangata, kemanjaan, asih dan kehangatansimpati sertaasuhnya Bapak.tentu karenakematangandan kearifannya, Bapak dengan rasa cinta kasih tulus meperlakukandan mengemomng ibu bukan hanya sebagai seorang istri, pendamping suami, seorang murid-santri. Melainkan, diusung dan diasah agar ibu menjadi wanita seutuhnya, yang memiliki kemandirian, halus dan lembut hati. Pengkondisiansemacam ini makin menunjukkan buahnya , karena Bapak memberlakukan ibu melalui sikap yang penuh cinta kasih serta kesabaran.
Respon ibu yang dilandasi oleh kapasitas kecerdasannya sebagai keturunan ulama besar serta didukung olehkesempatan mengenyam pendidikan umum di HIS Istri dan sekolah Kartini Bandung, telah memunculkansikapnya yang reseptif dalammenerima perlakuan Bapak secara utuh pula penerimaannya. Dengan keterhormatan danketakzimannya, ibu menerima penangananBapak dengan segenap hati yang penuh pemulyaan untuk seorang suami guru dan kekasih yang romantis. KeromantisanBapak dalammenggauli ibu sekali-sekali ditampilkannyalewat kebolehannya dalam memainkan alat musikbiola. Lebih jauh lagi daya reseptif ibu jug a menonjol dalam menerima pendidikan –pendidikan danpengembangan pengalaman dalam keluasan wawasan serta materi ilmu keagamaan.
Tata kehidupan keluarga sebagai baiti jannati (rumahku surgaku) yang ditanamkan oleh Bapak telah menumbuhkan daya spiritual kebahagiaanyang mekar berbunga-bunga dalam suasana berbagi rasa, dalam kebahagiaan dan semangat mencapai cita-cita yang diharapkan, tentu tidak lepas juga dalam berbagi rasa kesusahan. Dan, manakala kesusahan dating menimpa kehidupan keluarga seperti galibnya kehidupan sebuah rumah tangga, Bapak mentamsilkan seperti balon yang sedang naik ke langit, namun tiba-tiba akan jatuh ke dalam kawah gunung berapi, cara menyelamatkannya , dalam penuturan Bapak, tidak bisa tidak ,”karung pasir” yang dibawa balon itu harus ditusuk dengan pisau! Agar, beban balon itu menjadi lebih ringan dan bisa naik lagi, hingga terhindar turun di tempat yang berbahaya. Demikian pula ketika kita sedang menghadapi bahaya, Bapak selalu menyarankan , kita keluarkanshodaqoh, infaq dan sebagainya,maka marabahaya yang menghadang kita akan sirna, dan insya Allah kita akan selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat.
Sungguhpun demikian dalam rumah tangga Bapak dan ibu, yang lebih banyak justru berbagi hikmah, nikmat dan berkah pada sebuah keluarga yang marhamah, mawaddah sakinah dan kaya dengan nuansa spiritual serta jiwa muthmainnah yang dinaungi agama.
FIRASAT ANAK PERTAMA LAHIR, ANAK KETIGA MENINGGAL
PANGGILAN KASIH NENG MENJADI EMA
Bertahun-tahun lamanya, ibu dipanggl dengan sebutan yang merefleksikan keindahan cinta yang luhur. Panggilan “neng” merupakan pencerminan rasa asih, pujaan dan cinta serta penghormatan seorang suami kepada istrinya. Sebuah panggilan yang menempatkan ibu sebagai seorang wanita yang perlu ditumbuhkembangkan kemandiriannya; diperhalus jiwa raganya ; dikayakan cita dan harapan masadepannya. Tapi, setelah anak-anak tumbuh menjadi besar, panggilan Bapak kepada ibu berubah menjadi ema. Berubahnya sebutan ini bukan melulu untuk mengingatkan ibu sebagai emaknya anak-anak. Melainkan karena perasaan cinta telah berkembang menjadi kasih saying dan penghormatan yang berbungakanrasa penuh terima kasih, anatara laian karena sang istri telah melahirkan anak-anak permata hati, penghibur di kala gundah gulana.
Anak-anak yang selama dua puluh tahun lebih tak henti-hentinya lahir dari rahim yang subur, tanpa segan-segan atau rikuh, dimandikan, dipopoki dan disuapi olehBapak. Bahkan Bapak ikut membuatkan danmemberikan susu kepad putra-putrinya, untuk membantu tugas sang istri agar ibu tidak “gantel keak’. Tidak jarang, Bapak menjerang air sendiri untuk keperluan mandi ibu dan anak-anaknya. Atau, pada ketika ibu sedang lelap tidur dan anak-anaknya ingin minum susu, Bapak langsung turun tangan untuk membuatkan susu tanpa mengganggu ibu yang sedang menikmati tidurnya. Lebih dari itu, amat sering, bahkan hamper selamnya Bapak belanja sendiri danmemasakpun sendiri pula. Bukan hal yang aneh jika Bapak pun menghidangkannya sendiri di meja makan tanpa berkata-kata untuk disantap beramai-ramai dengan anak-anaknya serta semua orang yang ada di rumah pada waktu jam makan tiba. Dan ketika ada seorang tamunya malu-malu untuk mengambil makanan , Bapak sendiri yang mengambilkan makanan tanpa basa basi,tidak jarang pula , Bapak membangunkan anak-anak untuk sembahyang subuh setelah menyiapakan makanan, dan kemudian memasukkan sesuap nasi kepada mulut anak-anaknya agar terbangun dan selanjutnya shalat subuh berjama’ah.
Suatu hobby yang mengesankan dari figure Bapak terhadap putra-putri, mantu dan murid-muridnya, yaitu “rasa nikmat’ menjadi pelayan keluarga dan tamu.
TEPO SELIRO BAPAK
Dengan kerendahan hatinya, Bapak selalu menempatkan diri sebagai orang yang tidak menysahkan pihak orang lain. Derajat tenggang rasanya amat tinggi. Beliau amat menghindari dirinya menjadi beban orang lain. Segala sesuatunya senantiasa dikembalikan kepada pengandaian jika dirinya sendiri mengalami diperlakukan tidak enak oleh orang lain. Relevan dengan sikapnya itu, Bapak sering mengungkapkan ibarat binatang keong (siput) adalah binatang yang melambangkan sikap dan karakter yang tepo seliro, mawas diri,artinya sebelum bertindak terhadap orang lain , dirasakan dulu akibatnya oleh dirinya sendiri. Jika enak diteruskan , jika menyakitkan dihentikan. Keong mempunyai alat peraba dua lembar kumis selalu diulurkan terlebih dahulu untuk meraba daun yang enak, lalu disusul oleh mulutnya untuk mengunyahnya. Namun bila yang dirabanya itu bartrang yang berbahaya, maka ia mundur kembali.
Disamping itu, contoh yang mengesankan pribadi yang selalu ingin membuat orang lain bahagia,terbuktikan pula setiap kali Bapak pulang dari bepergian jauh selalu dibawanya buah tangan (oleh-oleh) yang dipilihnya sendiri dari perjalanan. Malah setiap habis rapat pun, jikaada penganan (konsumsi rapat0 selalu dibwanya pulang untukdimakan beramai-ramai bersama anak-anak. Demikian pula, setiapBapak bersilaturrahmi kepada sahabat-sahabatnya. Refleksi dari sikapnya yang demikian, termanifestasikan pula ke dalam upayanya untuk menjaga keutuhan makna sahabat dan persahabatan, baik di lingkungan internal keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Karena itu, dalam kesibukannya baik yangberkenaandengan tugas-tugas pribadi, kemasyarakatan dan kenegaraan, Bapak dan ibu tidak mengabaikan pembinaan keluarga sebagai suatu komunitas silih asih, silih asah dan silih asuh yang terintegrasi yang saling memperkokoh dan memperkuat pada tumpuan nilai-nilai luhur kegamaan,amalan syariah akhlakul karimah dan amalan wiridan sehingga memperkokoh putra-putrinya untuk berkhidmat kepada umat. Penempaan disiplinitas danistiqomah ibadah dalam wujud amalan-amalan tadi, dilaksnakan secara berjama’ah oleh Bapak, ibu dan anak-anak sekalian. Konsep mabadi khoiro ummah ditanamkan kepada anak-anak sejak dini,ketika mereka sudah berada pada tahap keharusan memahami danmensikapi sifat sidik (integritas kejujuran), fathonah (ethos dan integritas kecerdasan), amanah (terpercaya) dan tabligh(pensikapan dan pengembangan wawasan keharusan berdakwah dalam arti seluas-luasnya).
Dengan demikian, pemaknaan khoiru ummah mengandung muatan prinsip-prinsip dasar pembentukan umat terbaik dengan menghidup-hidupkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai “ass-sidqu” (integritas kejujeuran dan kebenaran), “al-amanah wal wafa’u bilahdi” (terpercaya dan tepat janji), al ada-lah (ethos dan integritas keadilan), at-ta’awanu (saling tolong menolong dan penuh solidaritas), al-istiqomah (sikap konsisiten dan lurus) serta percaya diri. Dalam kerangka konsep mabadi khoiro ummah, Bapak senantiasa menganjurkan, agar umat memakai pakaian akhlakul karimah.
Akhlakul karimah seperti inilah yang padagilirannya menjadi keyakinan Bapak bahwa modal dasarnya adalah ma’rifat; dasar agama adalah akal; asas perbuatan adalah cinta; kendaraan hidup adalah rindu; sumber ketenangan hati adalah dzikir kepada Allah; gudang perbendaharaan adalah kepercayaan; seorang teman adalah kesedihan; senjata itu adalah ilmu pengetahuan; selendang hidup adalah kesabaran; rampasan perang adalah keridoan; kebanggan itu adalah kelemahan; kerajinanku adalah zuhud; kekuatanku adalah yakin; pembelaanku adalah kebenaran; hobiku adalah ketaatan; kebiasaanku adalah berjuang; salam adalah pemaknaan pergaulanku; shalat adalah kelezatan pandangan mata.
KHOIRU UMMAH MENDASARI FITRAH UMAT
Jadi menurut Bapak, umat itu ukurannya harus menjadi khoiru ummah. Artinya,bagi umat adalah fitrah yang asasi untuk mentasdikkan diri sebagai khoiru ummah. Jika tidak menjadi khoiru ummah, bisa diartikan sebagai pengabaian fitrah. Secara sederhana,Bapak mencontohkannya dengan “waktu” yang senantiasa bergerak kedepan waktu senantiasa menjadi acuan orang-orang professional dan religius, waktu yang dianalogikan denganjam tangan mengandung maknayang dalam meski dalam perumpaan yang bersahaja.
Seperti otomatis daya aksi-refleksi merupakan perpaduan dari kemempuan nalar dan naluriah dalam mengatasi setiap permasaalahan tanpa harus tergantung kepada orang laian, ia mandiri dan percaya diri Waterproot; diartikan memiliki kedepan terhadap setiap informasi atu gagasan bahkan mampu menagkal subversi budaya yang tidak sesuai dengan akar cultural yang ada,dan pada gilirannya mampu menampilkan identitas kejatidiriannya yang utuh Shochproot; artinya tidak mudah terpengaruh oleh kejutan dengan kaa lain memiliki ketangguhan sikap dan jiwanya ulet serta tidak mengenal menyerah Antimagnetik tidak mudah tersedot tarikan apapun yang merusak kediriannya. Tidak mudah disuap digoada atau di iming-iming oleh kedudukan, ia menunjukan ketegaran diri.
Incablock tahan gesekan tidak pernah putus asa, unutk kemudian menjadikan dirinya mata air kreativitas yang tidak pernah berhanti, ia memiliki daya imajinasi, inovatif, dan senantiasa lurus kedepan, Stainles tidak kena polusi (pemcemaran) memiliki Cler vision (kejernihan visi) berpikir strategis memiliki daya analisis dan sintesis serta berfikir konferhensif yang integral, luminous memiliki sinar daya tarik pribadi dan pikiran-pikirannya memiliki daya gugah yang terus menaik ia memberikan petunjuk, arah, motivasi dan makna berkalender punya perencanaan yang uptodate relevan dan actual tuntutan dinamikakehidupan. Alarm memiliki kemampuan early detection sikap waspada bukan hanya untuk dirinya tapi uga mengembangkan sikap waspada terhadap lingkungannya, Fireproot mampu menjga diri dari sifat-sifat tercela dan mampou mengendalikan diri agar selamat dari setiap ancaman api neraka
PENDIDIKAN PUTRA DAN PUTRI IBU DAN BAPAK
Langsung maupun tidak, pengaplikasian konsep mabadi khoiro ummah di dalam keluarga
Telah membuka peluang kepada anak – anak untuk mengapresiasi keterbukaan dan menumbuhkan sikap taawun ( saling tolong menolong ). Disamping itu, bapak dan ibu juga menanamkan system nilai kepada anak – anak untuk memiliki kepedulian terhadap berbagai problematika social sejalan dengan perkataaan Rasul S.A..W :”bukan umatku yang tidak memiliki kepedulian kepada sesama.” Berbagai referensi kitab seperti Qutul Qulub Hikam Ihya Ulumudin dan berbagai kitab yang berkenaan dengan amalan – amalan syariah wiridan dan ahklakkul karimah yang disampaikan kepada santrinya, diberikan terlebih dahulu kepada anak – anak nya di rumah. Untuk meyakinkan segala amalan syariah, doa dan wiridan ini ditafsirkan oleh bapak semisal p0esawat pembom yang akan menjatuhkan senjata penghancurnya kepada kita, tapi karena kita memiliki peluru kendali, pesawat pembom itu akan segera kabur karena takut ditembak ! demikian pula, badi musibah yang sudah mengancam dekat kepada kita, akan segera menghilang dan pergi berkat kuatnya doa dan sedekah.
Tersirat dan tersurat dalam pengajian tasawuf yang diberikan secara intensif kepada masyarakat dan para putra dan putrinya agar mampu membersihkan , mengisi dan memelihara badan , hati dan jiwa mereka . Badan dibersihkan dengan taubat, diisi dengan taqwa dan dipelihara dengan istikomah, hati PROPOSAL
PENYUSUNAN SKRIPSI
Judul :
“KONSEP DAN KIPRAH PROF. KH. ANWAR MUSADDAD DALAM PENDIDIKAN ISLAM”
Disusun Oleh :
ALIMUDIN
NPM : 9902502023
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS GARUT (UNIGA)
2007
Judul Skripsi :
“Konsep dan Kiprah Prof. KH. Anwar Musaddad dalam Pendidikan Islam”
(Studi Filosofis tentang Pendidikan Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad)
Pendahuluan
Anak didik merupakan salah satu dari unsur pendidikan yang harus diperhatikan dan dibimbing oleh pendidik bersama-sama dengan orang tua, karena anak didik merupakan generasi penerus bagi bangsa, agama maupun keturunan, atau persiapan generasi untuk masa mendatang, karena masa kini diciptakan oleh masa lalu. Sehingga mereka sangat memerlukan perhatian yang serius dari segi pendidikan khususnya pendidikan Islam dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Masalah anak didik ini merupakan obyek yang terpenting dari paedagogiek. Begitu pentingnya faktor anak didik di dalam pendidikan, sehingga ada aliran pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat segala usaha pendidikan (Child Centered).
Oleh karena itu, agar dalam pemahaman serta dalam bimbingan kepada anak didik tersebut tidak bertentangan dengan kodratnya. Maka pendidik perlu memahami sifat-sifat anak didik maupun segala sesuatu tentang anak didik, baik anak didik di rumah, di sekolah maupun di perkumpulannya.
Namun demikian, dewasa ini banyak para pakar pendidikan dalam mendefinisikan anak didik ini beragam. Sehingga dalam memahami serta memperlakukan anak didik itu keliru, maka akan menyebabkan kerusakan pada diri anak didik itu sendiri. Hal ini akan jauh dari tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Karena, yang diinginkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan. Dan tujuan anak didik sebagai individu adalah mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad dalam karya-karyanya banyak memberikan pemikiran-pemikiran tentang anak didik (penuntut ilmu) bagaimana orang yang sedang menuntut ilmu, bertindak maupun berpikir dalam mencapai keberhasilan mencari ilmu yakni kebahagiaan yang abadi, serta keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Dan bagaimana setelah ilmu itu didapatkan. Namun banyak di antara orang-orang pengikutnya salah dalam memahami pemikiran-pemikirannya. Sehingga hal ini sangatlah penting dalam penulisan skripsi ini sebagai suatu kajian. Sedangkan tujuan yang ingin penulis dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Mengetahui apa hakekatnya anak didik menurut Prof. KH. Anwar Musaddad.
Mengetahui bagaimana posisi anak didik dalam kegiatan belajar mengajar .menurut Prof. KH. Anwar Musaddad.
Latar Belakang Masalah
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang merupakan deskripsi dari pemikiran pendidikan Prof. KH. Anwar Musaddad. Dan pengumpulan data-datanya dengan menggunakan penelusuran. Sedangkan sumber data yang penulis peroleh dari dua sumber yaitu; sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer penulis peroleh dari kitab-kitab (buku-buku) pendidikan karangan Prof. KH. Anwar Musaddad maupun karangan orang lain yang menulis tentang Prof. KH. Anwar Musaddad beserta pemikirannya. Dan untuk sumber skunder, penulis peroleh dari artikel-artikel, buku-buku maupun jurnal-jurnal yang relevan dengan penelitian ini.
Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa, hakekat anak didik menurut Prof. KH. Anwar Musaddad merupakan anak yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan serta pengarahan dari pendidik secara konsisten menuju ke arah titik yang optimal berdasarkan kemampuan fitrahnya. Karena kemampuan anak didik sangat ditentukan dari usia dan perkembangannya.
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad pendidikan bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan, mengejar status dan pangkat, untuk tampil sebagai orang yang berilmu, tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran, tenggelam dalam usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan, melainkan kemuliaan budi pekerti, ilmu dan amal yang bermanfaat untuk bekal dalam kehidupan, sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan yang lebih utama lagi adalah kebahagiaan hidup di akhirat.
ada akhirnya, penulisan skripsi ini diperoleh beberapa temuan penelitian yang disimpulkan dari inti pemikiran pendidikannya Prof. KH. Anwar Musaddad.
Deskripsi Alternatif :
Anak didik merupakan salah satu dari unsur pendidikan yang harus diperhatikan dan dibimbing oleh pendidik bersama-sama dengan orang tua, karena anak didik merupakan generasi penerus bagi bangsa, agama maupun keturunan, atau persiapan generasi untuk masa mendatang, karena masa kini diciptakan oleh masa lalu. Sehingga mereka sangat memerlukan perhatian yang serius dari segi pendidikan khususnya pendidikan Islam dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Masalah anak didik ini merupakan obyek yang terpenting dari paedagogiek. Begitu pentingnya faktor anak didik di dalam pendidikan, sehingga ada aliran pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat segala usaha pendidikan (Child Centered).
Oleh karena itu, agar dalam pemahaman serta dalam bimbingan kepada anak didik tersebut tidak bertentangan dengan kodratnya. Maka pendidik perlu memahami sifat-sifat anak didik maupun segala sesuatu tentang anak didik, baik anak didik di rumah, di sekolah maupun di perkumpulannya.
Namun demikian, dewasa ini banyak para pakar pendidikan dalam mendefinisikan anak didik ini beragam. Sehingga dalam memahami serta memperlakukan anak didik itu keliru, maka akan menyebabkan kerusakan pada diri anak didik itu sendiri. Hal ini akan jauh dari tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Karena, yang diinginkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan kebijakan. Dan tujuan anak didik sebagai individu adalah mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad dalam karya-karyanya banyak memberikan pemikiran-pemikiran tentang anak didik (penuntut ilmu) bagaimana orang yang sedang menuntut ilmu, bertindak maupun berpikir dalam mencapai keberhasilan mencari ilmu yakni kebahagiaan yang abadi, serta keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Dan bagaimana setelah ilmu itu didapatkan. Namun banyak di antara orang-orang pengikutnya salah dalam memahami pemikiran-pemikirannya. Sehingga hal ini sangatlah penting dalam penulisan skripsi ini sebagai suatu kajian. Sedangkan tujuan yang ingin penulis dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Mengetahui apa hakekatnya anak didik menurut Prof. KH. Anwar Musaddad.
Mengetahui bagaimana posisi anak didik dalam kegiatan belajar mengajar .menurut Prof. KH. Anwar Musaddad.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup dibatasi pada:
Tinjauan Pustaka
Metodologi
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang merupakan deskripsi dari pemikiran pendidikan Prof. KH. Anwar Musaddad. Dan pengumpulan data-datanya dengan menggunakan penelusuran. Sedangkan sumber data yang penulis peroleh dari dua sumber yaitu; sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer penulis peroleh dari kitab-kitab (buku-buku) pendidikan karangan Prof. KH. Anwar Musaddad maupun karangan orang lain yang menulis tentang Prof. KH. Anwar Musaddad beserta pemikirannya. Dan untuk sumber skunder, penulis peroleh dari artikel-artikel, buku-buku maupun jurnal-jurnal yang relevan dengan penelitian ini.
Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa, hakekat anak didik menurut Prof. KH. Anwar Musaddad merupakan anak yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan serta pengarahan dari pendidik secara konsisten menuju ke arah titik yang optimal berdasarkan kemampuan fitrahnya. Karena kemampuan anak didik sangat ditentukan dari usia dan perkembangannya.
Menurut Prof. KH. Anwar Musaddad pendidikan bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan, mengejar status dan pangkat, untuk tampil sebagai orang yang berilmu, tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran, tenggelam dalam usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan, melainkan kemuliaan budi pekerti, ilmu dan amal yang bermanfaat untuk bekal dalam kehidupan, sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan yang lebih utama lagi adalah kebahagiaan hidup di akhirat.
ada akhirnya, penulisan skripsi ini diperoleh beberapa temuan penelitian yang disimpulkan dari inti pemikiran pendidikannya Prof. KH. Anwar Musaddad.
Relevansi
Manfaat dari penelitian ini adalah
Jadwal Kegiatan
|
Kegiatan |
Bulan 1 |
Bulan 2 |
Bulan 3 |
Bulan 4 |
|
Studi Literatur |
X |
X |
|
|
|
Perencanaan sistem |
X |
X |
|
|
|
Pembuatan Aplikasi |
|
X |
X |
|
|
Pengujian dan analisa |
|
|
X |
X |
|
Penyerahan |
|
|
|
X |
Daftar Pustaka
Oleh : Titin Supenti
I. PENDAHULUAN
Metodologi atau Metode Penelitan yang tepat dan benar semakin dirasakan urgensinya dan menjadi peringkat sangat penting bagi keberhasilan suatu riset (penelitian). Salah satu hal yang penting dalam setiap penelitian adalah perumusan metodologi penelitian. Melalui metodologi harus dengan jelas tergambar diantaranya bagaimana cara penelitian dilaksanakan yang tertata secara sistimatis; bagaimana landasan teori tentang rancangan penelitian (research design), model yang digunakan (didahului dengan rancangan percobaan (penelitian eksperiment) atau teknik � teknik yang lumrah digunakan dalam pengumpulan, pengolahan dan analisa data. Metodologi atau metode yng digunakan antara lain metode sejarah, metode deskriptif antara lain menggambarkan tentang objek tertentu, manusia, kondisi, sistem dan sebagainya yang terkini. Sering juga digunakan metode survey (menyelidiki gejala, fakta secara faktual), metode percobaan (eksperiment), metode KASUS (suatu objek spesifik), kooperatif (menjawab sebab akibat dengan menganlisis faktor penyebab utama) atau gabungan, serta pemikiran kritis dan analisa tentang sampling maupun design percobaan serta studi kepustakaan.
II. METODOLOGI ATAU METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang dipilih. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang digunakan. Saat ini, Kemantapan ataupun k etajaman, keakuratan metodologi penelitian sudah �terlihat kecendrungan mulai diabaikan�. Hal ini terlihat jelas, bahwa setelah term of reference (TOR) disetujui (ok) baru dicari pembenar terutama pembenaran metodologi, diantaranya proporsi sampling, pemilihan daerah studi dan sebagainya. Padahal sebelum penelitian dilaksanakan seorang peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya 3 (tiga) pertanyaan pokok (NAZIR, Mohammad: 1985 : 51) yaitu: Urutan kerja apakah yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian Alat-alat apa yang digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan dan analisa data ? Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Prosedur memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengontrol kegiatan atau tahap-tahap kegiatan (a); mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitain (b) dan (c); mempermudah pula peneliti dalam meng-hadapi ataupun memberikan penjelasan pada saat dilaksanakan pemeriksaan. Teknik penelitian mengatakan alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan mengguna-kan questioner (daftar pertanyaan) sebagai alat dalam mengumpulkan data, maka yang dibicarakan disini adalah teknik pengumpulan data. Sedangkan metodologi penelitian memandu si peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan.
Jika seorang berbicara tentang cara seorang peneliti melakukan percobaan lapangan, dimana dalam menentukan plot-dilapangan, ia pertama-tama membagi daerah dalam 4 (empat) buah blok. Kemudian blok-blok tersebut dibagi 4 (empat) keperluan perlakuan yang akan dia kerjakan dan seterusnya, maka yang dibicarakan disini adalah posedur penelitian. Jika kita membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan, maka yang dibicarakan adalah metode penelitian.
A. Metode Kuantitatif
Metode ini sangat cocok untuk digunakan pada penelitian dimana data yang dapat diidentifikasi dengan mudah.
Beberapa hal lain dari metode kuantitatif diantaranya : Peranan identifikasi dan spesifikasi variabel sangat penting; Penelitian ini berdasarkan pada absraksi variabel dari konteksnya Sangat menekankan pentingnya reliability dan replicability data; Kurang memperhatikan validity; Sangat erat hubungannya dengan metode penelitian Survey, Sensus dan sebagainya; Kondisi data hanya menunjukkan keadaan atau situasi pada suatu waktu priode tertentu atau beberapa waktu (longitudinal); Cenderung menggunakan pendekatan diduktif (umum ke khusus); Sangat cocok untuk pertanyaan yang diawali, apa, dimana, siapa dan kapan dan tidak cocok untuk pertanyaan mengapa dan bagaimana; Hasil analisis jika dikumpulkan dalam survey, sensus, secara statistik dapat digeneralisasi.
B. Metode Kualitatif
Metode ini sangat cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan apa, dimana dan kenapa atau bagaimana.
Beberapa hal lain dari metode kualitatif diantaranya: Data tidak dapat diidentifikasi dengan mudah; Data tidak dapat di kuantifikasikan; Menekankan pentingnya validity, kurang memperhatikan reliability; Erat kaitannya dengan studi kasus Hipotesa interpretasi data digunakan untuk membantu proses sebab akibat. Pendekatan yang dipakai bersifat induktif (dari yang khusus ke umum ) Hasil penelitian secara ilmiah dapat digenderalisasi (tidak dapat di gendralisasikan) dengan repliability penemuan dari beberapa studi. Analisa data deskriftif untuk melihat proses dan secara langsung. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti partisipasi observasi, wawancara berstruktur dan tidak berstruktur serta focus group.
III. SEMBILAN MAGIC PROPOSAL PENELITIAN
Dalam usulan proyek (USPRO) terdapat tiga kata kunci yang dulu sangat populer dengan istilah penting yaitu Abstrak, kata kunci dan urgensi (AKU). Abstrak merupakan keterangan singkat padat serta utuh tentang permasalahan yang akan ditangani (a); tujuan serta keluaran kegiatan (b) dan (c); pengaruh-nya terhadap permasalahan yang ditangani. Bagi kegiatan penelitian kekhususan pendekatan yang diperguna-kan (maksimal sepertiga halaman). Kata kunci merupakan sejumlah kata, bukan kalimat yang mengindikasikan teknik, proses atau keluaran yang sesuai dengan subjek kegiatan. Sedangkan urgensi merupakan keterangan tentang pokok-pokok kebijaksanaan yang diacu (a); pentingnya usaha untuk mengatasi permasalahan yang ditangani bagi pembangunan nasional, sektoral dan regional atau bagi perkembangan IPTEK, serta (c); pengaruh kegiatan ini bagi pemecahan permasalahan tsb. Dengan kata lain, diterangkan apa keuntungan/ manfaatnya jika proyek ini berhasil mencapai tujuan dan sasarannya (a) dan (b) apa pula kerugiannya atau kesulitan yang akan timbul jika masalah ini tidak diteliti; maksimal setengah halaman.
Sering dengan berkembangnya IPTEK dan berjalannya waktu istilah tersebut sudah nyaris tak terdengar sampai saat ini. Sampai akhirnya pada tahun 2001 melalui pelatihan Peningkatan Kapasitas Penelitian yang dipelopori oleh Ibu Dr. Yulfita Raharjo dan Timnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) muncul pula hal baru yaitu Sembilan Magic untuk membuat PROPOSAL Penelitian menuju keberhasilan, Sbb. :
A. ALASAN
Alasan atau argumentasi ini sangat diperlukan untuk (a) mencegah kegiatan penelitian yang tidak potensial, dan (b) untuk memecahkan masalah (tidak mencapai tujuan)
Beberapa hal penting dalam alasan sebagai magic pertama adalah : Alasan rasional Mengapa penelitian tersebut penting dilakukan (urgency) Apa masalah pokoknya, dan bagaimana nanti untuk konseptual framework nya. Relevansinya terhadap (kebijakan, program) departemen dan sebagainya Analisa masalahnya bagaimana Analisa tentang isu/kebijakan, (informasi) yang akan menuntun kepada penspisifikasian tujuan Apa yang akan dipertanyakan, sehingga sungguh-sungguh diperlukan untuk diteliti.
B. KONTEKS
Konteks sangat berguna untuk memperkaya atau memperbaiki pengeta-huan peneliti, latar belakang pengalaman atau dasar-dasar untuk pendekatan yang akan dilakukan.
Beberapa hal yang berkaitan dengan Konteks diantaranya adalah: Mengacu pada usaha-usaha penelitian serupa (keadaan, situasi kecenderung-an, konsep metode dan hasil); Mengacu pada situasi/keadaan atau daerah, waktu, sistem, kebijakan tertentu dan sebagainya.
Untuk catatan, janganlah mengguna-kan konsep-konsep yang harus diukur yang tidak sesuai dengan permintaan.
C. KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka Konseptual sangat berguna, untuk menegaskan batas-batas secara logis untuk penyelidikan/penelitian (a) dan (b). sebagai petunjuk bagi peneliti untuk memperhitungkan tentang apa yang relevan dan apa yang tidak relevan untuk dipelajari dalam penelitian.
Beberapa hal penting dalam kerangka konseptual diantaranya: Peneliti menyusun sebuah kerangka logis untuk hal yang akan ditelit (apa-apa yang relevan) Dilengkapi dengan perspektif yang diperoleh dari usaha-usaha atau penelitian sebelumnya, serta konsep-konsep apa yang relevan untuk itu Meliputi proposisi-proposisi (dugaan-dugaan) yang dianggap sudah diketahui, maupun yang dinyatakan tidak diketahui (sebab itu perlu dukungan penelitian untuk mengetahuinya). Menspesifikasikan: Variabel tergantung (dependent variable) Variabel bebas (independent variable) Mata rantai penghubung dua kelompok variable (interventing variable)
Perlu diingat hal ini baru hanya kerangka, belum tahu hasilnya.
D. TUJUAN
Dimaksudkan agar proposisi-proposisi (dugaan-dugaan) yang merupa-kan subjek dan juga metode penelitian yang cocok dengan pelaksanaan peneliti-an tersebut. Bentuk tujuan penelitian dapat, (a). berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab, dan (b). hypotesis-hypotesis apa yang akan diuji sehingga menjadi arah / sasaran penelitian.
Tujuan penelitian merupakan atau menunjukan unit�unit yang seharusnya diobservasi (a); apa yang harus diobservasi (b) dan (c). bagaimana proses pengobservasiannya.
Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang tujuan diantaranya: Merupakan sasaran dari penelitian yang akan ditangani. Sebagai acuan, memeriksa sampai seberapa jauh permasalahannya (a), apa perma-salahan pokok atau akar permasala-hannya (b), apa penyebabnya (c) dan (d), bagaimana kira-kira penanganan-nya. Dari kerangka konseptual akan mempermudah penelitian dalam merumuskan tujuan yang akan diinginkan. Artinya, ditarik dari sudah jelasnya kerangka konseptual pertanyaan kita, apalagi yang belum, apa lagi yang ingin dicapai. Itulah tujuan, dengan konsep yang telah benar-benar. Setelah kiat-kiat proposal dikuasai, sekarang penjabaran proposalnya menjadi rancangan penelitian (Research Design). RESEARCH DESIGN (riset disain) dimulai dari tujuan. Untuk meman-tapkan tujuan mantapkan dulu pada pendahuluan, latar belakang, apa saja yang harus dimuat, diantaranya: Mengutarakan Alasan dilakukan penelitian (lihat IIIA). Relevansi dari penelitian yang akan dilakukan Analisis tentang masalah yang akan diteliti Memberikan rambu-rambu yang mencegah terangkatnya penelitian yang tidak potensial terhadap pemecahan masalah atau pencapaian dari tujuan-tujuan penelitian. Mengungkapkan pokok permasalahan dalam penelitian.
E. POPULASI YANG DITELITI
Populasi penelitian mencakup 6 (enam) hal yaitu: Penentuan unit observasi Penentuan / penunjukan populasi dari unit yang akan diobservasi / dianalisa Penentuan/pengadopsian prosedur penelitian dan pengukuran unit-unit untuk (yang akan diobservasi) termasuk Skop atau Ruang lingkup penelitian Penentuan banyaknya unit yang akan diobservasi Populasi penelitian sangat berkaitan dengan operasionalisasi dari metodologi atau metode penelitian Variabel-variabel yang dimuat dalam kerangka konseptual tersebut: Dicari / didapatkan dari siapa? Apakah individu; kelompok tertentu; tokoh masyarakat; lembaga /instansi/ pemerintah, swasta, LSM dan sebagainya), keluarga dan lain-lain Data yang dikumpulkan, ditentukan populasi yang akan dikaji sampai didapatkan untuk menjawab permasalahan dan tujuan penelitian (a), data yang relevan dan tidak relevan, bisa Perda dan sebagainya.
Makna dari semua populasi yang diteliti adalah makna yang sifatnya prinsif, yang mana suatu metodologi/metode penelitian dioperasionalkan.
F. SPESIFIKASI DATA
Melalui Spesifikasi data akan dapat membantu peneliti untuk BERHATI-HATI untuk tidak mengumpulkan data yang tidak relevan atau tidak digunakan (useless).
Spesifikasi data yang dikumpulkan diantaranya: Mengidentifikasikan konsep-konsep yang terkandung dalam tujuan penelitian (konsep-konsep). Menentukan data yang akan dikumpulkan sehubungan dengan populasi. Dari konsep-konsep ini dikembang-kan definisi operasional penelitian dari Definisi operasional akan menunjuk pada variabel-variabel dan Data/informasi apa yang akan dikumpulkan.
Variabel adalah semua objek yang menjadi sasaran penyidikan sebut saja gejala-gejala yang menunjukan variasi, baik dalam jenisnya (a), maupun dalam tingkatannya (b).
G. PENGUMPULAN DATA
Setelah spesifikasi data, tahap pengumpulan data sangat menentukan ukuran besar indeks variabel (a) dan (b). realibilitas data yang akan dikumpulkan.
Inti dari tahap Pengumpulan Data adalah:
Menjelaskan prosedur yang akan digunakan untuk pengumpulan data isinya : Teknik-teknik pengumpulan data yang akan dipakai Teknik pendekatan yang digunakan (MEAN, MEDIAN dan sebagainya) Instrumen-instrumen yang akan dipakai (kuantitatif dan kualitatif) Mendiskripsikan langkah-langkah atau urut-urutan yang harus diikuti dalam pemakaian instrumen (secara rinci) Hindarkan redaksi-redaksi yang sifatnya statement-statement yang tidak sesuai ujung pangkalnya atau mother hood.
H. ANALISIS
Tahap analisis merupakan TEST RIEL dari sebuah rencana penelitian yang menuntut pemahaman/ penguasaan peneliti untuk memahami lebih dulu beberapa keterbatasan dalam menerapkan kesimpulan-kesimpulan yang akan diambil.
Bila data yang dikumpulkan telah ditentukan, peneliti harus: Mempertimbangkan secara simultan prosedur analisisnya yang sesuai Bagaimana data akan diklasifikasikan Pengaturan kedalam variabel-variabel yang ditunjukkan oleh data tsb. Bagaimana hubungan antara variabel-variabel yang akan ditentukan Penggunaan program komputer (jika ingin mendalaminya)
I. PENGADMINISTRASIAN (ORGANISASI)
Setelah peneliti mengetahui atau memutuskan populasi yang akan ditentukan dan digunakan seperti (a) daerah penelitian, (b). hakekat dan jenis data yang akan dikumpulkan; (c). jenis-jenis prosedur yang akan dipakai untuk mengumpulkan dan menganalisa data, peneliti telah mempunyai dasar untuk memutuskan serangkaian keputusan-keputusan Administratif yang Rasional seperti perkiraan biaya (a); Personil (peneliti utama, madya, pembantu peneliti (b); jadwal waktu (c) dan (d). rencana kerja.
IV. PRINSIP METODOLOGI
Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji prihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatar bela-kangi berbagai metode yang diperguna-kan dalam aktivitas ilmiah. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuwan maupun peneliti didalam kegiatan ilmiah mereka.
Beberapa prinsip metodologi dapat dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya:
A. RENE DESCARTE S
Dalam karyanya �Discourse On Method� dikemukakan 6 (enam ) prinsip metodologi yaitu : Membicarakan masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal sehat (common sense) yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat menurut Descartes ada yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat) langkah atau aturan yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu: Janganlah pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenaranya. Artinya, dengan cermat hindari kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan jangan memasukkan apapun kedalam pertimbangan anda lebih dari pada yang terpapar dengan begitu jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi. Pecahkanlah setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik. Arahkan pemikiran andah secara jernih dan tertib, mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, setahap demi setahap kepengetahuan yang paling kompleks, dan dengan mengandaikan sesuatu urutan bahkan diantara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban baru. Buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan adakan tinjauan ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak suatu pun yang ketinggalan. Langkah yang digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam memperoleh kebenaran yang pasti. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut: Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak. Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling meragukan. Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak berubah namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi, karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena itu, kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu. Menegaskan prihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi yaitu RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani yang meluas). Tubuh (Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya karena ciptaan Tuhan, maka tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua kodrat ialah jiwa bernalar dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat tidak mungkin mati bersama dengan tubuh. Jiwa manusia itu abadi.
B. ALFRED JULES AYER
Dalam karyanya yang berjudul Language, truth and logic yang terkait dengan prinsip metodologi adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu: Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan Verifikasi dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai pernyataan yang mengandung makna Ayer menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-pernyataan metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang MEANING LESS (tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi apapun
C. KARL RAIMUND POPPER
K.R. Popper seorang filsuf kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada.
K.R. Popper mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut: Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui perinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori lain yang lebih tepat. Cara kerja metode induksi yang secara sistimatis dimulai dari pengamatan (observasi) secara teliti gejala (Simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang berulang -ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumus-kan menjadi hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil dibenarkan (justifikasi) akan berubah menjadi hukum. K.R. Popper menolak cara kerja diatas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi pengamatan empiris. K.R Popper menawarkan pemecahan baru dengan mengajukan prinsip FALSIFA BILITAS, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori kebenarannya bersifat sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa �Semua angsa berbulu putih� melalui prinsip falsitiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang bukan berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan segala usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh (CORROBORATION).
IV. PENUTUP
Sebagai penutup, dengan memahami dan menghayati metodologi dan sembilan keajaiban (magic) pembuatan proposal penelitian semoga kita memiliki tenaga ahli peneliti yang genius, cerdas (a) dan (c) menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, serta (c). dapat menyinari instansi terkait sebagai bahan masukan bagi pengembangan kebijakan dan program yang operasional dimasa datang. Agar tujuan tersebut dapat diwujudkan, berikut disampaikan dua puluh satu kiat untuk mencapai sukses dari Nugroho A Suryo sebagai berikut: Kenali diri sendiri dan lingkungan sekitar kitanya. Manfaatkan kekuatan yang dimiliki, hilangkan kelemahan, gunakan peluang dan hindari ancaman yang ada. Bekerjalah dengan keras dan cerdik. Gunakan kreativitas untuk mempperoleh keunggulan bersaing. Milikilah komitment yang kuat untuk menjadi pemenang dan jangan mudah putus asa. Bekerjalah dengan memperhatikan konsep bisnis, indera bisnis dan suara hati nurani. Buatlah perencanaan kerja tetapi jangan terlalu kaku dengan rencana tersebut. Belajarlah dari pengalaman orang lain atau perusahaan lain, dan ikuti perkembangan konsep bisnis. Berani mengakui kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama atau yang sudah di ketahui. Berani mengambil resiko tetapi berani pula mengelola resiko dengan baik. Komunikasikan pendapat secara nasional dan jangan cari musuh. Lakukan perbaikan secara terus menerus baik dari sendiri maupun proses kerja di perusahaan. Lihatlah perubahan sebagai teman bukan sebagai musuh. Tanggap atas perubahan yang terjadi maupun yang akan terjadi. Perbesar jaringan bisnis yang ada. Gunakan jaringan yang ada dan perbesar terus. Jaringan ini bukan untuk membentuk kolusi atau nepotisme, tetapi memperbesar peluang dengan cara sehat. Jangan terlalu sering pindah kerja atau usaha. Tekunilah apa yang dikerjakan. Dengan menekuni, maka seseorang akan mengenali, menikmati pekerjaannya dengan baik dan menjadi ahli dibidangnya. Tingkatkan kemampuan berbaha asing. Tingkatkan kemampuan kepemim-pinan dan kemampuan impersonal. Tingkatkan kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan imple-mentasi perubahan yang besar. Tingkatkan kemampuan mengatasi konflik dan jangan menjadi penyebab konflik. Tingkatkan terus kemampuan, ketrampilan kecil seperti teknik penyusunan laporan, pembuatan proposal yang baik, teknik presentasi dan teknik negosiasi. Tingkatkan terus motivasi kerja dan tunjukkan kemampuan untuk berprestasi. Tingkatkan terus motivasi kerja dan kemampuan bawahan atau kelompok kerja anda.
Oleh : Titin Supenti
I. PENDAHULUAN
Metodologi atau Metode Penelitan yang tepat dan benar semakin dirasakan urgensinya dan menjadi peringkat sangat penting bagi keberhasilan suatu riset (penelitian). Salah satu hal yang penting dalam setiap penelitian adalah perumusan metodologi penelitian. Melalui metodologi harus dengan jelas tergambar diantaranya bagaimana cara penelitian dilaksanakan yang tertata secara sistimatis; bagaimana landasan teori tentang rancangan penelitian (research design), model yang digunakan (didahului dengan rancangan percobaan (penelitian eksperiment) atau teknik � teknik yang lumrah digunakan dalam pengumpulan, pengolahan dan analisa data. Metodologi atau metode yng digunakan antara lain metode sejarah, metode deskriptif antara lain menggambarkan tentang objek tertentu, manusia, kondisi, sistem dan sebagainya yang terkini. Sering juga digunakan metode survey (menyelidiki gejala, fakta secara faktual), metode percobaan (eksperiment), metode KASUS (suatu objek spesifik), kooperatif (menjawab sebab akibat dengan menganlisis faktor penyebab utama) atau gabungan, serta pemikiran kritis dan analisa tentang sampling maupun design percobaan serta studi kepustakaan.
II. METODOLOGI ATAU METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang dipilih. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang digunakan. Saat ini, Kemantapan ataupun k etajaman, keakuratan metodologi penelitian sudah �terlihat kecendrungan mulai diabaikan�. Hal ini terlihat jelas, bahwa setelah term of reference (TOR) disetujui (ok) baru dicari pembenar terutama pembenaran metodologi, diantaranya proporsi sampling, pemilihan daerah studi dan sebagainya. Padahal sebelum penelitian dilaksanakan seorang peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya 3 (tiga) pertanyaan pokok (NAZIR, Mohammad: 1985 : 51) yaitu: Urutan kerja apakah yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian Alat-alat apa yang digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan dan analisa data ? Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Prosedur memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengontrol kegiatan atau tahap-tahap kegiatan (a); mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitain (b) dan (c); mempermudah pula peneliti dalam meng-hadapi ataupun memberikan penjelasan pada saat dilaksanakan pemeriksaan. Teknik penelitian mengatakan alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian. Jika suatu penelitian dikerjakan dengan mengguna-kan questioner (daftar pertanyaan) sebagai alat dalam mengumpulkan data, maka yang dibicarakan disini adalah teknik pengumpulan data. Sedangkan metodologi penelitian memandu si peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan.
Jika seorang berbicara tentang cara seorang peneliti melakukan percobaan lapangan, dimana dalam menentukan plot-dilapangan, ia pertama-tama membagi daerah dalam 4 (empat) buah blok. Kemudian blok-blok tersebut dibagi 4 (empat) keperluan perlakuan yang akan dia kerjakan dan seterusnya, maka yang dibicarakan disini adalah posedur penelitian. Jika kita membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan, maka yang dibicarakan adalah metode penelitian.
A. Metode Kuantitatif
Metode ini sangat cocok untuk digunakan pada penelitian dimana data yang dapat diidentifikasi dengan mudah.
Beberapa hal lain dari metode kuantitatif diantaranya : Peranan identifikasi dan spesifikasi variabel sangat penting; Penelitian ini berdasarkan pada absraksi variabel dari konteksnya Sangat menekankan pentingnya reliability dan replicability data; Kurang memperhatikan validity; Sangat erat hubungannya dengan metode penelitian Survey, Sensus dan sebagainya; Kondisi data hanya menunjukkan keadaan atau situasi pada suatu waktu priode tertentu atau beberapa waktu (longitudinal); Cenderung menggunakan pendekatan diduktif (umum ke khusus); Sangat cocok untuk pertanyaan yang diawali, apa, dimana, siapa dan kapan dan tidak cocok untuk pertanyaan mengapa dan bagaimana; Hasil analisis jika dikumpulkan dalam survey, sensus, secara statistik dapat digeneralisasi.
B. Metode Kualitatif
Metode ini sangat cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan apa, dimana dan kenapa atau bagaimana.
Beberapa hal lain dari metode kualitatif diantaranya: Data tidak dapat diidentifikasi dengan mudah; Data tidak dapat di kuantifikasikan; Menekankan pentingnya validity, kurang memperhatikan reliability; Erat kaitannya dengan studi kasus Hipotesa interpretasi data digunakan untuk membantu proses sebab akibat. Pendekatan yang dipakai bersifat induktif (dari yang khusus ke umum ) Hasil penelitian secara ilmiah dapat digenderalisasi (tidak dapat di gendralisasikan) dengan repliability penemuan dari beberapa studi. Analisa data deskriftif untuk melihat proses dan secara langsung. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti partisipasi observasi, wawancara berstruktur dan tidak berstruktur serta focus group.
III. SEMBILAN MAGIC PROPOSAL PENELITIAN
Dalam usulan proyek (USPRO) terdapat tiga kata kunci yang dulu sangat populer dengan istilah penting yaitu Abstrak, kata kunci dan urgensi (AKU). Abstrak merupakan keterangan singkat padat serta utuh tentang permasalahan yang akan ditangani (a); tujuan serta keluaran kegiatan (b) dan (c); pengaruh-nya terhadap permasalahan yang ditangani. Bagi kegiatan penelitian kekhususan pendekatan yang diperguna-kan (maksimal sepertiga halaman). Kata kunci merupakan sejumlah kata, bukan kalimat yang mengindikasikan teknik, proses atau keluaran yang sesuai dengan subjek kegiatan. Sedangkan urgensi merupakan keterangan tentang pokok-pokok kebijaksanaan yang diacu (a); pentingnya usaha untuk mengatasi permasalahan yang ditangani bagi pembangunan nasional, sektoral dan regional atau bagi perkembangan IPTEK, serta (c); pengaruh kegiatan ini bagi pemecahan permasalahan tsb. Dengan kata lain, diterangkan apa keuntungan/ manfaatnya jika proyek ini berhasil mencapai tujuan dan sasarannya (a) dan (b) apa pula kerugiannya atau kesulitan yang akan timbul jika masalah ini tidak diteliti; maksimal setengah halaman.
Sering dengan berkembangnya IPTEK dan berjalannya waktu istilah tersebut sudah nyaris tak terdengar sampai saat ini. Sampai akhirnya pada tahun 2001 melalui pelatihan Peningkatan Kapasitas Penelitian yang dipelopori oleh Ibu Dr. Yulfita Raharjo dan Timnya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) muncul pula hal baru yaitu Sembilan Magic untuk membuat PROPOSAL Penelitian menuju keberhasilan, Sbb. :
A. ALASAN
Alasan atau argumentasi ini sangat diperlukan untuk (a) mencegah kegiatan penelitian yang tidak potensial, dan (b) untuk memecahkan masalah (tidak mencapai tujuan)
Beberapa hal penting dalam alasan sebagai magic pertama adalah : Alasan rasional Mengapa penelitian tersebut penting dilakukan (urgency) Apa masalah pokoknya, dan bagaimana nanti untuk konseptual framework nya. Relevansinya terhadap (kebijakan, program) departemen dan sebagainya Analisa masalahnya bagaimana Analisa tentang isu/kebijakan, (informasi) yang akan menuntun kepada penspisifikasian tujuan Apa yang akan dipertanyakan, sehingga sungguh-sungguh diperlukan untuk diteliti.
B. KONTEKS
Konteks sangat berguna untuk memperkaya atau memperbaiki pengeta-huan peneliti, latar belakang pengalaman atau dasar-dasar untuk pendekatan yang akan dilakukan.
Beberapa hal yang berkaitan dengan Konteks diantaranya adalah: Mengacu pada usaha-usaha penelitian serupa (keadaan, situasi kecenderung-an, konsep metode dan hasil); Mengacu pada situasi/keadaan atau daerah, waktu, sistem, kebijakan tertentu dan sebagainya.
Untuk catatan, janganlah mengguna-kan konsep-konsep yang harus diukur yang tidak sesuai dengan permintaan.
C. KERANGKA KONSEPTUAL
Kerangka Konseptual sangat berguna, untuk menegaskan batas-batas secara logis untuk penyelidikan/penelitian (a) dan (b). sebagai petunjuk bagi peneliti untuk memperhitungkan tentang apa yang relevan dan apa yang tidak relevan untuk dipelajari dalam penelitian.
Beberapa hal penting dalam kerangka konseptual diantaranya: Peneliti menyusun sebuah kerangka logis untuk hal yang akan ditelit (apa-apa yang relevan) Dilengkapi dengan perspektif yang diperoleh dari usaha-usaha atau penelitian sebelumnya, serta konsep-konsep apa yang relevan untuk itu Meliputi proposisi-proposisi (dugaan-dugaan) yang dianggap sudah diketahui, maupun yang dinyatakan tidak diketahui (sebab itu perlu dukungan penelitian untuk mengetahuinya). Menspesifikasikan: Variabel tergantung (dependent variable) Variabel bebas (independent variable) Mata rantai penghubung dua kelompok variable (interventing variable)
Perlu diingat hal ini baru hanya kerangka, belum tahu hasilnya.
D. TUJUAN
Dimaksudkan agar proposisi-proposisi (dugaan-dugaan) yang merupa-kan subjek dan juga metode penelitian yang cocok dengan pelaksanaan peneliti-an tersebut. Bentuk tujuan penelitian dapat, (a). berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab, dan (b). hypotesis-hypotesis apa yang akan diuji sehingga menjadi arah / sasaran penelitian.
Tujuan penelitian merupakan atau menunjukan unit�unit yang seharusnya diobservasi (a); apa yang harus diobservasi (b) dan (c). bagaimana proses pengobservasiannya.
Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang tujuan diantaranya: Merupakan sasaran dari penelitian yang akan ditangani. Sebagai acuan, memeriksa sampai seberapa jauh permasalahannya (a), apa perma-salahan pokok atau akar permasala-hannya (b), apa penyebabnya (c) dan (d), bagaimana kira-kira penanganan-nya. Dari kerangka konseptual akan mempermudah penelitian dalam merumuskan tujuan yang akan diinginkan. Artinya, ditarik dari sudah jelasnya kerangka konseptual pertanyaan kita, apalagi yang belum, apa lagi yang ingin dicapai. Itulah tujuan, dengan konsep yang telah benar-benar. Setelah kiat-kiat proposal dikuasai, sekarang penjabaran proposalnya menjadi rancangan penelitian (Research Design). RESEARCH DESIGN (riset disain) dimulai dari tujuan. Untuk meman-tapkan tujuan mantapkan dulu pada pendahuluan, latar belakang, apa saja yang harus dimuat, diantaranya: Mengutarakan Alasan dilakukan penelitian (lihat IIIA). Relevansi dari penelitian yang akan dilakukan Analisis tentang masalah yang akan diteliti Memberikan rambu-rambu yang mencegah terangkatnya penelitian yang tidak potensial terhadap pemecahan masalah atau pencapaian dari tujuan-tujuan penelitian. Mengungkapkan pokok permasalahan dalam penelitian.
E. POPULASI YANG DITELITI
Populasi penelitian mencakup 6 (enam) hal yaitu: Penentuan unit observasi Penentuan / penunjukan populasi dari unit yang akan diobservasi / dianalisa Penentuan/pengadopsian prosedur penelitian dan pengukuran unit-unit untuk (yang akan diobservasi) termasuk Skop atau Ruang lingkup penelitian Penentuan banyaknya unit yang akan diobservasi Populasi penelitian sangat berkaitan dengan operasionalisasi dari metodologi atau metode penelitian Variabel-variabel yang dimuat dalam kerangka konseptual tersebut: Dicari / didapatkan dari siapa? Apakah individu; kelompok tertentu; tokoh masyarakat; lembaga /instansi/ pemerintah, swasta, LSM dan sebagainya), keluarga dan lain-lain Data yang dikumpulkan, ditentukan populasi yang akan dikaji sampai didapatkan untuk menjawab permasalahan dan tujuan penelitian (a), data yang relevan dan tidak relevan, bisa Perda dan sebagainya.
Makna dari semua populasi yang diteliti adalah makna yang sifatnya prinsif, yang mana suatu metodologi/metode penelitian dioperasionalkan.
F. SPESIFIKASI DATA
Melalui Spesifikasi data akan dapat membantu peneliti untuk BERHATI-HATI untuk tidak mengumpulkan data yang tidak relevan atau tidak digunakan (useless).
Spesifikasi data yang dikumpulkan diantaranya: Mengidentifikasikan konsep-konsep yang terkandung dalam tujuan penelitian (konsep-konsep). Menentukan data yang akan dikumpulkan sehubungan dengan populasi. Dari konsep-konsep ini dikembang-kan definisi operasional penelitian dari Definisi operasional akan menunjuk pada variabel-variabel dan Data/informasi apa yang akan dikumpulkan.
Variabel adalah semua objek yang menjadi sasaran penyidikan sebut saja gejala-gejala yang menunjukan variasi, baik dalam jenisnya (a), maupun dalam tingkatannya (b).
G. PENGUMPULAN DATA
Setelah spesifikasi data, tahap pengumpulan data sangat menentukan ukuran besar indeks variabel (a) dan (b). realibilitas data yang akan dikumpulkan.
Inti dari tahap Pengumpulan Data adalah:
Menjelaskan prosedur yang akan digunakan untuk pengumpulan data isinya : Teknik-teknik pengumpulan data yang akan dipakai Teknik pendekatan yang digunakan (MEAN, MEDIAN dan sebagainya) Instrumen-instrumen yang akan dipakai (kuantitatif dan kualitatif) Mendiskripsikan langkah-langkah atau urut-urutan yang harus diikuti dalam pemakaian instrumen (secara rinci) Hindarkan redaksi-redaksi yang sifatnya statement-statement yang tidak sesuai ujung pangkalnya atau mother hood.
H. ANALISIS
Tahap analisis merupakan TEST RIEL dari sebuah rencana penelitian yang menuntut pemahaman/ penguasaan peneliti untuk memahami lebih dulu beberapa keterbatasan dalam menerapkan kesimpulan-kesimpulan yang akan diambil.
Bila data yang dikumpulkan telah ditentukan, peneliti harus: Mempertimbangkan secara simultan prosedur analisisnya yang sesuai Bagaimana data akan diklasifikasikan Pengaturan kedalam variabel-variabel yang ditunjukkan oleh data tsb. Bagaimana hubungan antara variabel-variabel yang akan ditentukan Penggunaan program komputer (jika ingin mendalaminya)
I. PENGADMINISTRASIAN (ORGANISASI)
Setelah peneliti mengetahui atau memutuskan populasi yang akan ditentukan dan digunakan seperti (a) daerah penelitian, (b). hakekat dan jenis data yang akan dikumpulkan; (c). jenis-jenis prosedur yang akan dipakai untuk mengumpulkan dan menganalisa data, peneliti telah mempunyai dasar untuk memutuskan serangkaian keputusan-keputusan Administratif yang Rasional seperti perkiraan biaya (a); Personil (peneliti utama, madya, pembantu peneliti (b); jadwal waktu (c) dan (d). rencana kerja.
IV. PRINSIP METODOLOGI
Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji prihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatar bela-kangi berbagai metode yang diperguna-kan dalam aktivitas ilmiah. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuwan maupun peneliti didalam kegiatan ilmiah mereka.
Beberapa prinsip metodologi dapat dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya:
A. RENE DESCARTE S
Dalam karyanya �Discourse On Method� dikemukakan 6 (enam ) prinsip metodologi yaitu : Membicarakan masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal sehat (common sense) yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat menurut Descartes ada yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat) langkah atau aturan yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu: Janganlah pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenaranya. Artinya, dengan cermat hindari kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan jangan memasukkan apapun kedalam pertimbangan anda lebih dari pada yang terpapar dengan begitu jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi. Pecahkanlah setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik. Arahkan pemikiran andah secara jernih dan tertib, mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, setahap demi setahap kepengetahuan yang paling kompleks, dan dengan mengandaikan sesuatu urutan bahkan diantara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban baru. Buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan adakan tinjauan ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak suatu pun yang ketinggalan. Langkah yang digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam memperoleh kebenaran yang pasti. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut: Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak. Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling meragukan. Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak berubah namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi, karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena itu, kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu. Menegaskan prihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi yaitu RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani yang meluas). Tubuh (Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya karena ciptaan Tuhan, maka tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua kodrat ialah jiwa bernalar dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat tidak mungkin mati bersama dengan tubuh. Jiwa manusia itu abadi.
B. ALFRED JULES AYER
Dalam karyanya yang berjudul Language, truth and logic yang terkait dengan prinsip metodologi adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu: Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan Verifikasi dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai pernyataan yang mengandung makna Ayer menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-pernyataan metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang MEANING LESS (tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi apapun
C. KARL RAIMUND POPPER
K.R. Popper seorang filsuf kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada.
K.R. Popper mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut: Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui perinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori lain yang lebih tepat. Cara kerja metode induksi yang secara sistimatis dimulai dari pengamatan (observasi) secara teliti gejala (Simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang berulang -ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumus-kan menjadi hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil dibenarkan (justifikasi) akan berubah menjadi hukum. K.R. Popper menolak cara kerja diatas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi pengamatan empiris. K.R Popper menawarkan pemecahan baru dengan mengajukan prinsip FALSIFA BILITAS, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori kebenarannya bersifat sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa �Semua angsa berbulu putih� melalui prinsip falsitiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang bukan berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan segala usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh (CORROBORATION).
IV. PENUTUP
Sebagai penutup, dengan memahami dan menghayati metodologi dan sembilan keajaiban (magic) pembuatan proposal penelitian semoga kita memiliki tenaga ahli peneliti yang genius, cerdas (a) dan (c) menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, serta (c). dapat menyinari instansi terkait sebagai bahan masukan bagi pengembangan kebijakan dan program yang operasional dimasa datang. Agar tujuan tersebut dapat diwujudkan, berikut disampaikan dua puluh satu kiat untuk mencapai sukses dari Nugroho A Suryo sebagai berikut: Kenali diri sendiri dan lingkungan sekitar kitanya. Manfaatkan kekuatan yang dimiliki, hilangkan kelemahan, gunakan peluang dan hindari ancaman yang ada. Bekerjalah dengan keras dan cerdik. Gunakan kreativitas untuk mempperoleh keunggulan bersaing. Milikilah komitment yang kuat untuk menjadi pemenang dan jangan mudah putus asa. Bekerjalah dengan memperhatikan konsep bisnis, indera bisnis dan suara hati nurani. Buatlah perencanaan kerja tetapi jangan terlalu kaku dengan rencana tersebut. Belajarlah dari pengalaman orang lain atau perusahaan lain, dan ikuti perkembangan konsep bisnis. Berani mengakui kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama atau yang sudah di ketahui. Berani mengambil resiko tetapi berani pula mengelola resiko dengan baik. Komunikasikan pendapat secara nasional dan jangan cari musuh. Lakukan perbaikan secara terus menerus baik dari sendiri maupun proses kerja di perusahaan. Lihatlah perubahan sebagai teman bukan sebagai musuh. Tanggap atas perubahan yang terjadi maupun yang akan terjadi. Perbesar jaringan bisnis yang ada. Gunakan jaringan yang ada dan perbesar terus. Jaringan ini bukan untuk membentuk kolusi atau nepotisme, tetapi memperbesar peluang dengan cara sehat. Jangan terlalu sering pindah kerja atau usaha. Tekunilah apa yang dikerjakan. Dengan menekuni, maka seseorang akan mengenali, menikmati pekerjaannya dengan baik dan menjadi ahli dibidangnya. Tingkatkan kemampuan berbaha asing. Tingkatkan kemampuan kepemim-pinan dan kemampuan impersonal. Tingkatkan kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan imple-mentasi perubahan yang besar. Tingkatkan kemampuan mengatasi konflik dan jangan menjadi penyebab konflik. Tingkatkan terus kemampuan, ketrampilan kecil seperti teknik penyusunan laporan, pembuatan proposal yang baik, teknik presentasi dan teknik negosiasi. Tingkatkan terus motivasi kerja dan tunjukkan kemampuan untuk berprestasi. Tingkatkan terus motivasi kerja dan kemampuan bawahan atau kelompok kerja anda.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.
Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.
Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.
Apa itu Skripsi
Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).
Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.
Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).
Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.
Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.
Miskonsepsi tentang Skripsi
Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.
Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.
Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.
Hal-hal yang Perlu Dilakukan
Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.
Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.
Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.
Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.
Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.
Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.
Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.
Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?
Tahap-tahap Persiapan
Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.
Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.
Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.
Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.
Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.
Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.
Kiat Memilih Dosen Pembimbing
Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.
Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.
Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?
Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.
Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:
- Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
- Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.
Tapi, keuntungannya:
- Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
- Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
- Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.
Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.
Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.
Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.
Format Skripsi yang Benar
Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.
Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.
Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.
Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.
Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.
Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.
Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).
Beberapa Kesalahan Pemula
Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.
Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.
Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)
Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.
Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.
Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.
Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.
Menghadapi Ujian Skripsi
Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.
Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.
Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.
Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.
Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.
Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.
Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.
Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.
Pasca Ujian Skripsi
Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.
Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?
Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.
Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.
Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan? FILSAFAT PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH:
Tinjauan Historis dan Praksis
Mohamad Ali dan Marpuji Ali
Dosen Al Islam & Kemuhammadiyahan UMS
PENDAHULUAN
Prof. M. Yunan Yusuf, Ketua Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Pusat periode 2000-2005, acapkali melontarkan wacana "Robohnya Sekolah Muhammadiyah" untuk menggambarkan betapa rendahnya rata-rata kualitas dan mutu sekolah yang diselenggarakan Muhammadiyah. Kritisi atas pendidikan Muhammadiyah juga muncul berkenaan dengan belum tercerminnya nilai-nilai Islam dalam perilaku warga sekolah, belum berhasil menekan ongkos pendidikan sampai ke batas termurah, belum sanggup menciptakan kultur islami yang representatif, telah kehilangan identitasnya, dan lebih kooperatif dengan kelompok penekan. Berbagai kritik tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan perombakan kurikulum, peningkatan gaji guru, pembangunan gedung sekolah ataupun pengucuran dana. Untuk menyahuti dan menuntaskan problem-problem itu harus ada keberanian untuk membongkar akar permasalahan yang sesungguhnya, yaitu karena belum tersedianya orientasi filosofi pendidikan Muhammadiyah dan teori-teori pendidikan modern dan islami. Karena adakalanya keterbelakangan sektor kependidikan suatu bangsa atau suatu umat disebabkan tidak terutama oleh keterbelakangan infrastruktur yang mendukungnya tetapi oleh perangkat konsep yang mendasarinya.
Dalam usia Muhammadiyah menjelang satu abad dengan jumlah lembaga pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan Perguruan Tinggi ribuan, adalah suatu yang aneh Muhammadiyah belum mempunyai filsafat pendidikan. Bagaimana mungkin kerja hiruk-pikuk pendidikan tanpa satu panduan cita-cita yang jelas? Apatah lagi bila dikaitkan dengan upaya mendidik dalam rangka pembentukan generasi ke depan. Ketiadaan penjabaran filsafat pendidikan ini, menurut Mahsun Suyuthi, merupakan sumber utama masalah pendidikan di Muhammadiyah. Bahkan Rusli Karim menengarai bahwa kekosongan orientasi filosofis ini ikut bertanggung jawab atas penajaman dikotomi antara “ilmu-ilmu keagamaan” dan “ilmu umum”, yang pada giliran berikutnya akan melahirkan generasi yang berkepribadian ganda yang tidak menutup kemungkinan justru akan melahirkan "musuh" dalam selimut. Dengan demikian, sudah tinggi waktunya untuk bergegas mencoba menjajagi kemungkinan munculnya satu alternatif rumusan pendidikan Muhammadiyah sebagai ikhtiar meniti jalan baru pendidikan Muhammadiyah. Menyatakan bahwa pendidikan Muhammadiyah belum memiliki rumusan filosofis bukan berarti tidak ada sama sekali perbincangan ke arah itu. Laporan seminar nasional filsafat pendidikan Muhammadiyah Majlis Dikdasmen Muhammadiyah Pusat, telah mulai menyinggung pembahasan tentang filsafat pendidikan Muhammadiyah, terutama tulisan A. Syafii Maarif yang berjudul "Pendidikan Muhammadiyah, aspek normatif dan filosofis". Sesuai dengan temanya, Maarif hanya menelusuri hasil-hasil keputusan resmi Muhammadiyah (aspek normatif) dan orientasi filosofis konsep ulul albab. Demikian pula buku suntingan Yunahar Ilyas dan Muhammad Azhar berjudul Pendidikan dalam Persepektif Al-Qur'an yang ditulis oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, berusaha mengelaborasi konsep-konsep pendidikan di dalam Al-Qur'an dan mendialogkan wahyu dengan perkembangan teori-teori pendidikan mutakhir. Karya terakhir yang patut dipertimbangkan adalah buku Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah karya Abdul Munir Mulkhan, seorang aktifis Muhammadiyah. Menurutnya, kemacetan intelektualisme Islam serta kemandegan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Muslim akibat berkembangnya semacam “ideologi ilmiah” yang menolak apapun yang bukan berasal dari Islam.
Artikel ini secara hati-hati akan coba mencari alternatif filsafat pendidikan Muhammadiyah dan merumuskannya pada tingkat praksis, ditingkat kurikulum pendidikan. Untuk melangkah ke arah itu, pertama akan ditelusuri problematika perumusan filsafat pendidikan Islam sebagai payung besar pendidikan Muhammadiyah. Kedua, melacak gagasan kunci dan praksis pendidikan Kyai Ahmad Dahlan yang bertitik tolak dari pendidikan integraslistik. Ketiga, menjajagi kemungkinan tauhid sebagai titik tolak perumusan filsafat pendidikan Muhammadiyah, dan kemudian ditutup dengan refleksi. LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat yang dianut dan diyakini oleh Muhammadiyah adalah berdasarkan agama Islam, maka sebagai konsekuensinya logik, Muhammadiyah berusaha dan selanjutnya melandaskan filsafat pendidikan Muhammadiyah atas prinsip-prinsip filsafat yang diyakini dan dianutnya. Filsafat pendidikan memanifestasikan pandangan ke depan tentang generasi yang akan dimunculkan. Dalam kaitan ini filsafat pendidikan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari filsafat pendidikan Islam, karena yang dikerjakan oleh Muhammadiyah pada hakikatnya adalah prinsip-prinsip Islam yang menurut Muhammadiyah menjadi dasar pijakan bagi pembentukan manusia Muslim. Oleh karena itu, sebelum mengkaji orientasi filsafat pendidikan Muhammadiyah perlu menelusuri konsep dasar filsafat pendidikan Islam yang digagas oleh para pemikir maupun praktisi pendidikan Islam.
Filsafat pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang pendidikan bercorak Islam yang berisi perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam itu dan bagaimana usaha-usaha pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Mohd. Labib Al-Najihi, sebagaimana dikutip Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, memahami filsafat pendidikan sebagai aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Suatu filsafat pendidikan yang berdasar Islam tidak lain adalah pandangan dasar tentang pendidikan yang bersumberkan ajaran Islam dan yang orientasi pemikirannya berdasarkan ajaran tersebut. Dengan perkataan lain, filsafat pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam.
Al-Syaibany menandaskan bahwa filsafat pendidikan Islam harus mengandung unsur-unsur dan syarat-syarat sebagai berikut: (1) dalam segala prinsip, kepercayaan dan kandungannya sesuai dengan ruh (spirit) Islam; (2) berkaitan dengan realitas masyarakat dan kebudayaan serta sistem sosial, ekonomi, dan politiknya; (3) bersifat terbuka terhadap segala pengalaman yang baik (hikmah); (4) pembinaannya berdasarkan pengkajian yang mendalam dengan memperhatikan aspek-aspek yang melingkungi; (5) bersifat universal dengan standar keilmuan; (6) selektif, dipilih yang penting dan sesuai dengan ruh agama Islam; (7) bebas dari pertentangan dan persanggahan antara prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasarnya; dan (8) proses percobaan yang sungguh-sungguh terhadap pemikiran pendidikan yang sehat, mendalam dan jelas.
Objek kajian filsafat pendidikan Islam, menurut Abdul Munir Mulkhan, dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat pendidikan Islam adalah bahan dasar yang dikaji dan dianalisis, sementara obyek formalnya adalah cara pendekatan atau sudut pandang terhadap bahan dasar tersebut. Dengan demikian, obyek material filsafat pendidikan Islam adalah segala hal yang berkaitan dengan usaha manusia secara sadar untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang berkembangnya kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian atau akhlak peserta didik melalui pendidikan. Sedangkan obyek formalnya adalah aspek khusus daripada usaha manusia secara sadar yaitu penciptaan kondisi yang memberi peluang pengembangan kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian sehingga peserta didik memiliki kemampuan untuk menjalani dan menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan menempatkan Islam sebagai hudan dan furqan. Sebagaimana dinyatakan Arifin, bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan ilmu yang ekstensinya masih dalam kondisi permulaan perkembangan sebagai disiplin keilmuan pendidikan. Demikian pula sistematikanya, filsafat pendidikan Islam masih dalam proses penataan yang akan menjadi kompas bagi teorisasi pendidikan Islam. Kalau demikian, apabila filsafat pendidikan Muhammadiyah mengacu atau sama dengan filsafat pendidikan Islam sebenarnya masih memunculkan masalah, sebab ia masih rentan dan belum kukuh untuk disebut sebagai sebuah disiplin ilmu baru. Pada titik ini, orientasi filsafat pendidikan Muhammadiyah itu dapat memperkaya dan memperkukuh kedudukan filsafat pendidikan Islam. KYAI AHMAD DAHLAN: PERETAS PENDIDIKAN INTEGRALISTIK
Meskipun tema pembaharuan pendidikan Muhammadiyah memperoleh perhatian yang cukup serius dari para pengkaji sejarah pendidikan Indonesia, namun sejauh ini belum ada satu karya pun yang menunjukkan bagaimana sebenarnya model filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Untuk melangkah ke arah itu bisa dilakukan dengan beberapa pendekatan: (1) pendekatan normatif yakni bertitik tolak dari sumber-sumber otoritatif Islam (al-Qur’an dan Sunnah Nabi), terutama tema-tema pendidikan, kemudian dieksplorasi sedemikian rupa sehingga terbangun satu sistem filsafat pendidikan; (2) pendekatan filosofis yang diberangkatkan dari mazhab-mazhab pemikiran filsafat kemudian diturunkan ke dalam wilayah pendidikan; (3) pendekatan formal dengan merujuk pada hasil-hasil keputusan resmi persyarikatan; (4) pendekatan historis-filisofis yaitu dengan cara melacak bagaimana konsep dan praksis pendidikan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kunci dalam Muhammadiyah lalu dianalisis dengan dengan pendekatan filosofis. Corak pendekatan keempat yang dipilih dalam tulisan ini, dengan menampilkan Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sebagai tokoh kuncinya. Benar bahwa dia belum merumuskan landasan filosofis pendidikan tapi sebenarnya ia memiliki minat yang besar terhadap kajian filsafat atau logika sehingga pada tingkat tertentu telah memberikan jalan lempang untuk perumusan satu filsafat pendidikan.
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan kyai musti lebih banyak merujuk pada bagaimana ia membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir Kyai yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Kyai terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Kyai dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.
Pribadi Kyai Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu "model" dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan "titik pusat" dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan ekonomi, Kyai Dahlan mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Titik bidik pada dunia pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung persoalan umat yang sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik asosiasi (sejak tahun 1901), ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga pendidikan Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di pesantren yang hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja. Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini Kyai Dahlan “gelisah”, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan, atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu.
Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, Kyai Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Kyai Dahlan tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.
Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Kyai Dahlan akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan Kyai Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Kyai menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala al-Ma’un sebagaimana dipraktekan Kyai Dahlan.
Anehnya, yang diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau menerima inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap sebagai bid’ah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari Kyai Dahlan adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk atau hasil ijtihadnya. Menangkap api tajdid, bukan arangnya. Dalam konteks pencarian pendidikan integralistik yang mampu memproduksi ulama-intelek-profesional, gagasan Abdul Mukti Ali menarik disimak. Menurutnya, sistem pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini yang paling baik adalah sistem pendidikan yang mengikuti sistem pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran mengikuti sistem madrasah/sekolah, jelasnya madrasah/sekolah dalam pondok pesantren adalah bentuk sistem pengajaran dan pendidikan agama Islam yang terbaik. Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolah-sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan. Salah satu model pendidikan terbaru adalah full day school, sekolah sampai sore hari, tidak terkecuali di lingkungan Muhammadiyah. SEKOLAH SYARIAH: SEBUAH CATATAN KANCAH
Pendidikan Islam yang bercorak integralistik adalah suatu sistem pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara sebegitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam. Meski ide ini telah klasik namun tetap menarik perhatian, sebab merealisasikan ke tataran praksis selalu tidak mudah. Setelah pembaharuan pendidikan berlangsung hampir satu abad dualitas pendidikan Islam (juga Muhammadiyah) masih tampak menonjol. Suatu dualitas budaya muncul di mana-mana di dunia Muslim, suatu dualitas dalam masyarakat yang berasal dari sistem pendidikan ganda; sistem pendidikan Islam tradisional, dan sistem pendidikan sekuler modern melahirkan tokoh-tokoh sekuler. Dengan demikian, proses pencarian sistem pendidikan integralistik harus dilakukan secara terus-menerus sebangun dengan akselerasi perubahan sosial dan temuan-temuan inovatif pendidikan. Di Muhammadiyah, langkah ke arah itu masih terus berlangsung yaitu dengan membangun sekolah-sekolah alternatif atau kemudian dikenal dengan sekolah unggulan.
Satu dekade terakhir ini virus sekolah unggul benar-benar menjangkiti seluruh warga Muhammadiyah. Lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) berpacu dan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan untuk menuju pada kualifikasi sekolah unggul. Sekarang ini hampir di semua daerah kabupaten atau kota terdapat sekolah unggul Muhammadiyah, terutama untuk tingkat TK dan Sekolah Dasar. Sekolah yang dianggap unggul oleh masyarakat sehingga mereka menyekolahkan anak-anak di situ pada umumnya ada dua tipe; sekolah model konvensional tetapi memiliki mutu akademik yang tinggi, atau sekolah model baru dengan menawarkan metode pembelajaran mutakhir yang lebih interaktif sehingga memiliki daya panggil luas.
Ada beberapa sisi menarik dari Sekolah Model Baru ini. Pada umumnya dikelola oleh anak-anak muda, memakai sistem full day school (waktu pembelajaran hingga sore hari), memakai metode-metode baru dalam pembelajaran. Hampir semua SD model baru ini justru muncul atau gedungnya itu berasal dari SD Muhammadiyah yang sudah mati, tapi dengan manajemen dan sistem pendidikan baru dapat tumbuh menjadi sekolah unggul, misal; di Jakarta ada SD Muhammadiyah 8 Plus yang berada di Duren Sawit, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, SD Muhammadiyah Alternatif di Magelang, SD Muhammadiyah Condong Catur di Yogyakarta, termasuk SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta.
Perjumpaan penulis dengan mereka (kepala-kepala sekolahnya) menunjukkan bahwa inovasi-inovasi pendidikan yang dikembangkan, meskipun sudah cukup signifikan belum menyentuh pada persoalan krusial, yakni mencoba merumuskan bagaimana filsafat dan kurikulum pendidikan alternatif. Ahmad Solikhin, Kepala SD Muhammadiyah Condong Catur, sudah merasakan urgensinya namun belum menjadi kesadaran bersama sehingga belum ada upaya-upaya serius untuk merumuskan satu sistem pendidikan alternatif yang islami. Ikhtiar untuk coba merumukan satu sistem pendidikan alternatif mulai tumbuh di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta di bawah bimbingan langsung seorang pakar pendidikan khusus, Prof. Sholeh YAI, Ph.D. Adalah menarik untuk mengikuti dari dekat proses-proses yang sedang berlangsung di dalamnya.
Untuk meraih kembali kegemilangan Islam, menurut Prof. Sholeh, sudah tinggi waktunya untuk segara menafsirkan Al-Qur’an dengan pendekatan sistem, atau Tafsir Sistem. Pada instansi pendidikan ada satu konsep kunci yang musti dirumuskan, yakni ide fitrah berupa tauhid. Dengan demikian, orientasi filsafat dan kurikulum pendidikan bertitik tolak dari konsep Tauhid. Bagaimana tauhid mendasari pendidikan di SD Muhammadiyah Program Khusus, mari kita ikuti penjelasan berikut:
Berseberangan dengan pandangan hidup (paradigma pendidikan) kaum sekuler yang menempatkan material-duniawiyah sebagai tujuan utama. Paradigma pendidikan Islam justru mengaksentuasikan nilai-nilai tauhid sebagai tujuan yang paling prinsipil dan substansial. SD Muhammadiyah Program Khusus menjadikan tauhid sebagai landasan pokok kurikulum yang secara kongkrit terejawantahkan dalam seluruh proses pembelajaran. Kurikulum yang ada dimodifikasi, dirancang, dan didesain sedemikian rupa sehingga nilai-nilai tauhid menjiwai dan mempola seluruh mata pelajaran; pembelajaran matematika, sains, bahasa dan materi lain diorientasikan untuk mengungkit kembali potensi tauhid (baca fitrah), menumbuhkembangkan, dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Secara kasat mata adalah mudah untuk mengatakan bahwa seluruh lembaga pendidikan Islam, apalagi sekolah Muhammadiyah, sudah otomotis berdasarkan tauhid. Bukankah di sekolah tersebut diajarkan materi agama yang relatif banyak? Kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ketiadaan orientasi filsafat pendidikan pada urutannya membawa kebingungan pada diri pendidik sehingga ketika mengajar peserta didik sangat mungkin tergelincir pada filsafat pendidikan sekuler. Dengan demikian, tanpa disadari kita telah ikut mengkampanyekan paham sekularisme. Bagaimana kedudukan Tauhid dalam penyusunan kurikulum di SD Muhammadiyah Program Khusus, kita simak uraian di bawah ini:
Sebuah ilustrasi berikut mungkin bisa membantu: puluhan truk (rit) pasir, sejumlah sak semen dan beberapa kaleng cat tidak begitu bermakna apabila hanya di pajang di toko atau disimpan di gudang. Material itu menjadi bermakna di tangan tukang batu atau arsitek, beragam bentuk bangunan atau arsitektur akan bisa diwujudkan…..Dalam konteks pendidikan ilustrasi tersebut menjadi jelas; melimpahnya materi tentang aqidah, akhlak, al-Qur’an-Hadits, atau hafalan sekian juz plus materi ilmu umum menjadi tidak bermakna manakala dijejalkan begitu saja ke peserta didik dalam keadaan saling terpisah dan bersifat parsial.
Kita menyadari bahwa ikhtiar membangun kurikulum berbasis tauhid (KBT) tidak semudah membalikkan telapak tangan dan membutuhkan beberapa generasi untuk merealisasikannya, tapi langkah itu setidaknya telah meletakkan satu batu bata untuk pembangunan peradaban Islam yang kokoh dan anggun. Dan kerja di pendidikan adalah kerja-kerja yang sangat stategis dalam rangka meretas generasi masa depan yang berkualitas. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana aktualisasi KBT di SD Muhammadiayah Program Khusus? Untuk sekarang ini masih terlalu dini untuk melakukan penilaian, tapi paling tidak sebuah penilaian awal yang bersifat umum perlu dikemukakan. Perlu ditekankan di sini, bahwa ini adalah penglihatan awal dari sebuah proses yang masih sedang berlangsung sehingga tidak menutup kemungkinan ada perubahan di kemudian hari.
Pertama, peserta didik pada umumnya berani mengekspresikan diri, ada keberanian untuk mengutarakan pikirannya. Meski ada keberatan dari beberapa orang tua dan guru karena alasan etika atau unggah ungguh, seiring meningkatnya kedewasaan masalah ini pasti akan tertata dengan sendirinya. Kemampuan ini adalah sesuatu yang sangat berharga, dan telah telah menghilang di sekolah-sekolah konvensional. Banyak temuan di lapangan, anak-anak berani mengingatkan orang tuanya yang lupa makan dengan berdiri, mengingatkan mereka untuk sholat. Fenomena ini disebabkan atau dilatar belakangi oleh (a) alasan agama yang memang ditanamkan di sekolah ini, bahwa yang wajib di takuti (dalam makna positif) dan Yang Maha Benar adalah Allah karenanya selain Dia tidak perlu ditakuti dan ada kemungkinan melakukan kekeliruan sehingga sudah pada tempatnya bila diingatkan, tidak terkecuali orang tua atau guru. Dan, karena (b) model pembelajaran inklusi yang dikembangkan oleh sekolah. Dengan pembatasan jumlah siswa maksimal 30 perkelas dan diampu 2 guru memungkinkan setiap potensi anak terdeteksi oleh guru sehingga dapat ditumbuhkan secara optimal.
Kedua, semangat anak-anak untuk mempraktekkan ajaran agama sangat tinggi, sejak kelas 1 ditanamkan untuk selalu shalat wajib lima waktu secara berjamaah. Mulai kelas 3 sudah kelihatan bahwa mereka rata-rata lebih suka shalat berjamaah di masjid, bahkan ada beberapa anak yang sudah secara rutin menjalankan shalat Tahajud. Keadaan ini sedikit banyak merupakan buah dari pendekatan praktek dalam pembelajaran agama. Agama bukan hanya olah intelektual yang berisi konsep-konsep abstrak atau menjadi hafalan di kepala, tapi dengan mempraktekkan secara langsung apa yang diperintahkan oleh Islam dan menghindari apa yang dilarangnya.
Ketiga, muncul rasa ingin tahu yang besar pada diri anak-anak untuk segera memahami suatu permasalahan. Ini memang sudah dirancang, di mana semua tema pembelajaran harus di kaitkan dengan problem-problem kongrit di lapangan, baik yang dilakukan secara reguler berupa Praktek Pembelaran Lapangan (PPL) yang dilakukan setahun 2 kali maupun dengan model riset laboratorium. REFLEKSI
Apabila Muhammadiyah benar-benar mau membangun sekolah/universitas unggul maka harus ada keberanian untuk merumuskan bagaimana landasan filosofis pendidikannya sehingga dapat meletakkan secara tegas bagaimana posisi lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah dihadapan pendidikan nasional, dan kedudukannya yang strategis sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fungsinya sebagai wahana dakwah Islamiyah. Ketiadaan orientasi filosofis ini jelas sangat membingungkan; apa harus mengikuti arus pendidikan nasional yang sejauh ini kebijakannya belum menuju pada garis yang jelas karena setiap ganti menteri musti ganti kebijakan. Kalau memang memilih pada pengembangan iptek maka harus ada keberanian memilih arah yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Model pondok gontor bisa dijadikan alternatif, dengan bahasa dan kebebasan berfikir terbukti mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia-manusia yang unggul.
Jika menengok sekolah/universitas Muhammadiyah saat ini, dari sisi kurikulumnya itu sama persis dengan sekolah/universitas negeri ditambah materi al-Islam dan kemuhammadiyahan. Kalau melihat materi yang begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak, karenanya amat jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul. Apakah tidak sudah waktunya untuk merumuskan kembali Al-Islam dan kemuhammadiyahan yang terintegrasikan dengan materi-materi umum, atau paling tidak disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik; misalnya, evaluasi materi ibadah dan Al-Qur’an, serta bahasa dengan praktek langsung tidak dengan sistem ujian tulis seperti sekarang ini.
Sembari merumuskan orientasi filosofis pendidikan, pendidikan Islam (Muhammadiyah) memerlukan kepekaan dalam memahami perkembangan kehidupan dan menjawab setiap kebutuhan baru yang timbul dari cita-cita anggota masyarakat dengan strategi sebagai berikut: mengusahakan nilai-nilai islami dalam pendidikan Islam menjadi ketentuan standar bagi pengembangan moral atau masyarakat yang selalu mengalami perubahan itu; Mengusahakan peran pendidikan Islam mengembangkan moral peserta didik sebagai dasar pertimbangan dan pengendali tingkah lakunya dalam menghadapi norma sekuler; Mengusahakan norma islami mampu menjadi pengendali kehidupan pribadi dalam menghadapi goncangan hidup dalam era globalisasi ini sehingga para peserta didik mampu menjadi sumber daya insani yang berkualitas; Mengusahakan nilai-nilai islami dapat menjadi pengikat hidup bersama dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam yang kokoh dengan tetap memperhatikan lingkungan kepentingan bangsa; dan (5) mengusahakan sifat ambivalensi pendidikan Islam agar tidak timbul pandangan yang dikotomis. DAFTAR PUSTAKA
Abdul Munir Mulkhan.1993. Paradigma Intelektual Muslim;Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: SIPRESS.
_________________ .1990. Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Abdul Mukti Ali. 1985. Interpretasi Amalan Muhammadiyah. Jakarta: Harapan Melati.
_____________ . 1987. Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini. Jakarta: Rajawali Pers.
Achmadi. 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta Aditya Media.
Ahmad Syafii Maarif. "Pendidikan Muhammadiyah: Aspek Normatif dan Filosofis" dlm. M Yunan Yusuf & Piet H. Chaidir. 2000. Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Naskah Awal. Jakarta: Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah.
Ahmad D. Marimba.1989. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Al-Maarif.
Ahmad Tafsir. 1994. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung; Rosdakarya.
Amir Hamzah Wirjosukarto.1968. Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran yang diselenggarakan oleh Pergerakan Muhammadiyah.Malang: Ken Mutia.
Brubacher, John S. 1978. Modern Philosophies of Education. New York: McGraw-Hill Book Company.
CA van Peursen. 1980. Orientasi di Alam Filsafat. Jakarta: Gramedia.
HM Arifin.1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam Barnadib. 1982. Arti dan Metode Sejarah Pendidikan. Yogyakarta:FIP-IKIP Yogyakarta.
Karel A. Steenbrink.1994. Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta; LP3ES.
Marpuji Ali & Mohamad Ali, “Meretas Sekolah Unggul dan Menata Majlis Dikdasmen Muhammadiyah” dalam Suara Muhammadiyah 1-15 Oktober 2004.
M. Sholeh YAI & Mohamad Ali. “Menuju Kurikulum Berbasis Tauhid” dalam PK Media edisi II/2004.
MT Arifin.1987. Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah dalam Pendidikan. Jakarta: Pustaka Jaya.
M Yunan Yusuf & Piet H. Chaidir. "Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Sebuah Perumusan Awal" dalam M Yunan Yusuf & Piet H. Chaidir (ed.). 2000. Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Naskah Awal. Jakarta: Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah.
M. Rusli Karim. "Pendidikan Muhammadiyah dilihat dari Perspektif Islam" dlm. M.Yunan Yusuf dkk. (ed.). 1985. Cita dan Citra Muhammadiyah. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mahsun Suyuthi. "Filsafat Pendidikan Muhammadiyah Kembali Tergugat" dlm. Amien Rais (ed). 191984. Pendidikan Muhammadiyah dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: PLP2M.
M. Quraish Shihab. 1993. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Muhammad Quthb. 1984. Sistem Pendidikan Islam. Terjemahan Salman Harun. Bandung: Al-Ma’arif
Noeng Muhadjir.1987. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Soegarda Purbakatja. 1970. Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka. Jakarta: Gunung Agung.
Tim Dosen IAIN Sunan Ampel Malang. 1996. Dasar-Dasar Kependidikan Islam. Surabaya: Karya Abditama.
Seperti biasa, dengan retorika berapi-api Prof. Yunan Yusuf berulang kali melemparkan gagasan itu, misalnya dalam acara Diksuspala angkatan XV dan Workshop Sekolah Unggul Muhammadiyah yang berlangsung tiga kali masing-masing di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya sepanjang tahun 2004. Istilah 'Robohnya Sekolah Muhammadiyah' beliau pinjam dari sasatrawan asal Minang, AA Nafis (2000) melalui karanya yang berjudul 'Robohnya Surau kami'. Melalui cerpen ini Navis mengkritik kaum agamawan (para penganut agama, terutama Islam) yang terlalu bersemangat untuk meraih surga diakhirat tapi melupakan meraih "surga" di muka bumi ini melalui kerja-kerja kemanusiaan (menjalankan fungsinya sebagai khalifah), sampai akhirnya Surau itu roboh. Dengan meminjam istilah itu, secara konotatif kemungkinan kritik itu diarahkan kepada warga Muhammadiyah yang berlomba-lomba mendirikan sekolahan hanya bermodal ikhlas tanpa memperhatikan mutu/kualitas dan standar kelayakan pendidikan sehingga begitu ada arus perubahan satu persatu sekolah-sekolah Muhammadiyah rontok, kehabisan murid seperti yang terjadi belakangan ini. Sedangkan secara denotatif, memang untuk menunjukkan bahwa bangunan gedung-gedung sekolah Muhammadiyah rata-rata sudah menua, reot sehingga benar-benar mau roboh.
Kritik itu diutarakan oleh saudara Mahsun Suyuthi, "Filsafat Pendidikan Muhammadiyah Kembali Tergugat" dlm M. Amien Rais, Pendidikan Muhammadiyah dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: PLP2M, 1985) hlm. 85-101.
Filsafat memang bukan hal yang mudah, namun di lain pihak dapat dikatakan bahwa setiap orang berfilsafat karena ia merefleksikan banyak hal. Berfilsafat merupakan salah satu kemungkinan yang terbuka bagi setiap orang, seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan yang tidak mempersoalkan hal ikhwal sehari-hari. Pernyataan inklisifitas filsafat tersebut disampaikan CA van Peursen, Orientasi di Alam Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1980) hlm 1- 8.
Al-Syaibani menunjukkan beberapa kegunan filsafat pendidikan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan, yaitu: (1) untuk membentuk pemikiran yang sehat bagi para penyelenggara dan pengelola terhadap proses pendidikan; (2) dapat membentuk azas yang dapat ditentukan pandangan pengkajian yang umum dan yang khas; (3) untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh; (4) menjadi sandaran intelektual atas tindakan-tindakan dalam pendidikan; (5) memberi corak dan pribadi yang khas dan istimewa sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan realitas sosial yang melingkunginya. Lihat Omar Mohammad Al Touny Al-syabani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hlm. 32-38.
Persoalan ini telah digumuli secara intensif oleh Dr. Ahmad Tafsir mulai dari penelitian tesis sampai dengan disertasi dan pengalaman menjadi kepala SMP Muhammadiyah di Bandung selama 7 tahun, ia menuturkan: "Disertasi itu sendiri tidak terlalu baik, tapi ada satu hal penting yang saya temukan dalam penelitian itu: mengapa sekolah-sekolah Muhammadiyah secara pukul rata mutunya lebih rendah ketimbang sekolah pemerintah dan sekolah yang dikelola oleh lembaga Katolik". Menurutnya ada dua kelemahan mendesar: pertama, umat Islam belum memperhatikan masalah mutu pendidikan; kedua, pengelola, kepala sekolah dan guru sekolah Islam/Muhammadiyah belum memiliki teori-teori pendidikan modern dan islami. Lihat Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 1994) hlm. 1-3.
Winarno Surakhmad, “Ilmu Kependidikan untuk Pembangunan” dlm. Prisma No 3/1986.
Mahsun Suyuthi, "Men
ggugat ....... hlm. 96.
Rusli Karim melihat bahwa ijtihad KH Ahmad Dahlan untuk mengadopsi sistem pendidikan model Barat adalah satu jalan pintas, keterpaksaan (baca: dharurat). Sebab, Kyai melihat bahwa pendidikan merupakan kunci untuk melakukan berbagai perintah agama. Mengingat sistem pendidikan kolonial dianggap yang terbaik maka jalan yang paling mudah adalah dengan mengadopsi sistem tersebut lalu disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Generasi sesudah Kyai Dahlan lebih disibukkan untuk mendirikan lembaga pendidikan hasil ijtihad, bukan menangkap subsatansi ijtihad yaitu bagaimana mengintegrasikan/mensintasakan ilmu umum dan ilmu agama, karenanya cita-cita Kyai untuk melahirkan ulama-intelek dan intelek ulama belum dapat terpenuhi.
Ahmad Syafii Maarif, "Pendidikan Muhammadiyah: Aspek Normatif dan Filosofis" dlm M. Yunan Yusuf dan Piet H. Chaidir (ed.), Filsafat Pendidikan Muhammadiyah (Jakarta: Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah, 2000) hlm. 19-27.
Buku ini ditulis oleh para intelektual Muhammadiyah seperti: Ahmad Ahzar Basyir, Ahmad Syafii Maarif, Mochtar Buchori, Noeng Muhadjir, Yunan Yusuf, dan lain-lain. Sedangkan tema-tema yang dipilih meliputi: manusia dalam perspektif Al-Qur'an, psikologi dalam perspektif al-Qur'an, Pendidikan dalam perspektif Al-Qur'an tinjauan mikro dan makro, sains dan teknologi dalam perspektif Al-Qur'an, dan pendidikan Al-Qur'an di perguruan tinggi.
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah (Yogyakarta: Sipress, 1993).
Pedoman Guru Muhammadiyah, Seri MPP No. 5, hlm. 26.
M. Yunan Yusuf & Piet H. Khaidir, "Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Sebuah Perumusan Awal" dlm M.Yunan Yusuf & Piet H. Khaidir (ed.) Filsafat Pendidikan Muhammadiyah: Naskah Awal (Jakarta: Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah, 2000) hlm. 1-2. Mei 2006 - 11:00:12 (Dibaca 2492 kali) FORMAT PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DI UIN/IAIN: Review Atas Kurikulum dan Proses Pembelajaran
PBB UIN Jakarta (01/03/2006), Latar Belakang Masalah
Signifikansi penelitian ini adalah untuk mempertajam proses pemetaan masalah serta pencarian solusi bagi problem yang melilit Perguruan Tinggi Islam Negeri (UIN/IAIN), khususnya terkait dengan wacana perlunya pendidikan anti-korupsi. Karena dari sisi desain kurikulum dan proses pembelajaran, di perguruan tinggi tersebut terdapat beberapa masalah, sebagaimana tergambarkan pada uraian berikut:
a. Implikasi positif dari integrasi ilmu-ilmu tradisional Islam (fiqh, akhlak/tasawuf dan tafsir/hadis) dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora modern ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran tidak tercapai. Meski proses integrasi metodologis dan materil antara kurikulum ilmu-ilmu tradisional Islam (fiqh, tasawwuf dan kalam) dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora modern sedang dan telah berlangsung, namun proses kontekstualisasi ilmu-ilmu tersebut dengan wacana dan masalah sosial yang relevan tidak berjalan sesuai dengan tujuan idealnya. Sejalan dengan desain kurikulum sebagaimana di atas, proses pembelajaran yang terjadi di lembaga pendidikan tinggi Islam juga cenderung menekankan pada pengajaran kognitif dan kurang memperhatikan pada tujuan afektif (membentuk ketangguhan moral peserta didik). Akibatnya proses pembelajaran kurang responsive terhadap problem aktual. Hal ini berarti, --meminjam istilah Paulo Freire-- keseluruhan proses pembelajaran berlangsung lebih hanya sekedar pengajaran yang lebih bertumpu pada konservasi konsep (the banking concept of education), tidak sebagai upaya untuk secara kontinyu bermuara pada konsepsi pendidikan kritis yang relevan dengan misi perubahan sosial (problem posing education). Indikator konkrit dari hal ini adalah tidak terintegrasinya problema sosial kontemporer, semisal korupsi di dalam Kurikulum, Silabus, Satuan Acara Perkuliahan (SAP) pada mata kuliah yang seharusnya sangat dekat dengan isu-isu nilai anti korupsi (semisal, Mata Kuliah Tasawuf, Akhlak, Fiqh Jinayah, dll.). Proses pembelajaran demikian itu diperparah oleh penerapan sistem SKS paket. Mahasiswa tidak diberikan peluang untuk memilih mata kuliah sesuai dengan minat, bakat dan dosen yang dianggapnya kompeten. Dosenpun tidak diberi peluang untuk menawarkan mata kuliah baru sesuai dengan keahlian dan perkembangan ilmu, serta tuntutan sosial dan moral.
b. Arus kapitalisasi kurikulum dan proses pembelajaran yang tidak terhindarkan. Desain kurikulum dan proses pembelajaran menjadi bagian dari arus kapitalisme, sehingga kurikulum dan proses pembelajaran dibuat untuk menjawab tantangan pasar atau lowongan kerja semata. Konsep pendidikan berbasis kompetensi, sebagaimana di amanatkan UU Sisdiknas baru, lebih dipahami sebagai kompetensi kerja. Akibatnya adalah lembaga Pendidikan Tinggi Islam Negeri di Indonesia sebagaimana lembaga perguruan tinggi lainnya, baru mampu menciptakan alumni yang menguasi bidang dan profesi ilmunya dan menjadi kepanjangantangan dari proses industrialisasi atau kepentingan kapitalisme global. Produknya adalah robot-robot dalam bentuk manusia yang kurang memiliki kepekaan sosial. Pada gilirannya, seiring dengan masih melekatnya kultur feodalisme pendidikan, maka saat ini pendidikan tinggi Islam negeri juga telah menjadi bagian dari cara masyarakat untuk mendapatkan gelar akademik sebagai pengganti gelar kebangsawanan. Tujuannya, hanya untuk memperoleh hak-hak istimewa kultural atau pekerjaan tertentu. Ringkasnya, arus kapitalisasi mendorong pandangan hedonis-pragmatis. Ia mengajarkan agar mahasiswa dapat cepat mendapatkan kemapanan finansial atau keuntungan secepatnya, tanpa perlu mempertimbangkan apakah itu dengan cara korupsi atau tidak.
c. Manajemen pendidikan yang tidak bebas dari praktek dan kultur koruptif. Format kurikulum dan proses pembelajaran yang compatible dengan tuntutan sosial dan moral di atas, tampaknya dipengaruhi oleh tidak adanya kurikulum implisit atau kultur lembaga yang kondusif bagi penanaman nilai-nilai sosial yang mendesak seperti anti korupsi. Padahal, pengaruh kultur lembaga pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap prilaku anak didik, bahkan lebih besar daripada kurikulum formal. Kultur kerja yang koruptif tersebut, tidak saja terjadi di kantor pemerintahan, partai politik dan lembaga swadaya masyarakat lainnya, tetapi lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi juga mendapatkan virus dari kultur tersebut. Dugaan ini khususnya terkait dengan lemahnya manajemen lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi. Salah satu titik kelemahan itu adalah masih diberlakukannya pola manajemen kampus yang sentralistik (seperti rector/dekan selaku pimpinan eksekutif juga menjadi ketua senat universitas/fakultas selaku pimpinan legislative universitas). Kondisi ini mengakibatkan tidak adanya keseimbangan proses check and balance yang bermuara pada control over collective binding decision making process. Selain itu, pendekatan kerja di perguruan tinggi juga cenderung memakai budaya birokratik-feodalistik, sehingga cenderung mengabaikan aspek profesionalitas dan cenderung berorientasi mengontrol secara otoritatif dan serba regulatif. Jika diukur dengan ukuran prinsip-prinsip anti korupsi, manajemen pendidikan tinggi menjadi problematic. Hal ini karena prinsip-prinsip antikorupsi seperti nilai akuntabilitas, transparansi, fairness dan kerangka dasar aturan (seperti statuta UIN/IAIN) tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karenanya upaya membangun budaya antikorupsi perlu menjadi salah satu agenda perhatian perguruan tinggi.
Atas pemetaan masalah di atas, penelitian tentang format pendidikan antikorupsi ini sangat signifikan dilakukan.
Telaah Pustaka
Sejauh yang bisa dipantau, penelitian tentang korupsi masih minim dan lebih minim lagi jika dikaitkan dengan pendidikan. Beberapa usaha sosialisasi gerakan anti korupsi dan good governance di Indonesia sendiri telah digalang oleh beberapa institusi, misalnya Koalisi Antarumat Beragama untuk Anti Korupsi (Koalisi), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3 UMY), Pusat Studi Agama & Peradaban Muhammadiyah, serta Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).
Koalisi Antarumat Beragama untuk Anti Korupsi, misalnya pernah melakukan jajak pendapat di kalangan mahasiswa. Hasil penelitian di 11 perguruan tinggi ini menunjukkan hasil yang mencengangkan. Terutama di kalangan mahasiswa. Salah satu kesimpulan penelitian tersebut adalah bahwa mahasiswa menyatakan ketidaksetujuan yang tinggi terhadap korupsi, namun kecenderungan perilaku mereka justru permisif terhadap korupsi. Temuan itu menunjukkan kenyataan bahwa masih ada mahasiswa yang setuju dengan korupsi dan belum terpetakannya istilah korupsi secara definitif sehingga mahasiswa belum paham dimensi korupsi jelas.
Lebih lanjut buku yang ditulis oleh Yunahar Ilyas et.al. misalnya, merupakan salah satu upaya untuk mensosialisasikan kampanye antikorupsi di kalangan masyarakat melalui jalur pendidikan keumatan. Buku ini menarik karena pembahasannya dilakukan dengan pendekatan lintas agama; Islam, Kristen, Hindu dan Buddha dan menitikberatkan pada pembahasan aktualisasi nilai-nilai keagamaan dalam upaya pemberantasan korupsi. Diharapkan dengan adanya pendekatan keagamaan seperti ini sosialisasi gerakan antikorupsi akan semakin massif dan menyentuh seluruh kalangan masyarakat. Sementara itu dari kalangan Muhammadiyah juga telah ada usaha untuk mensosialisasikan gerakan anti korupsi ini melalui beberapa pelatihan, penerbitan buku serta diskusi tentang pentingnya good governance yang ditujukan kepada publik. Salah satu buku yang telah diterbitkan berjudul Membasmi Kanker Korupsi . Buku ini merupakan kompilasi tulisan beberapa cendekiawan dalam merespon isu korupsi. Selain mengulas berbagai faktor penyebab dan maraknya korupsi di Indonesia, buku ini juga menawarkan beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan sebagai langkah-langkah untuk memberantas korupsi di Indonesia. Tawaran tersebut diantaranya perlunya pendekatan kultural untuk proses internalisasi nilai-nilai antikorupsi melalui pendidikan.
P3M yang berbasis kultural kaum Nahdliyyin juga telah melaksanakan sejumlah bahtsul masail (diskusi hukum Islam) di beberapa kalangan komunitas pesantren. Sebagai follow up-nya, institusi ini juga melakukan usaha penerbitan hasil-hasil bahtsul masa'il tersebut agar pesan-pesan anti korupsi bisa lebih luas lagi dikonsumsi oleh publik.
Menariknya, di kalangan akademisi perguruan tinggi, sejauh ini rupanya isu korupsi belum menjadi isu yang menarik. Di samping tidak adanya penelitian lapangan, tulisan tentang korupsi juga masih minim. Hal ini bisa dilihat dari hasil tulisan skripsi, tesis maupun disertasi di dua lembaga pendidikan tinggi di Jakarta yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Universitas Indonesia (UI) Depok, Di UIN Jakarta misalnya, tercatat hanya ada 3 buah skripsi dan 1 buah tesis yang membahas isu ini. Sedangkan disertasi, sejauh yang bisa dipantau, tidak ada sama sekali. Hal serupa juga dapat ditemui di UI.
Berdasarkan penelitian terdahulu, terlihat bahwa pendidikan antikorupsi sudah mendapat perhatian, sekalipun masih minim. Namun sampai penelitian ini dilakukan, belum ada upaya untuk mengimplementasikan pendidikan antikorupsi secara lebih sistematis dan kontinyu. Mengarah pada kepentingan tersebut, maka penelitian ini memfokuskan pada upaya untuk melakukan curriculum development melalui strategi evaluasi kurikulum dan proses pembelajaran yang selama ini terjadi di UIN/IAIN. Tanpa adanya kurikulum serta proses pembelajaran yang baik dan tepat, tampaknya tujuan dan sasaran pendidikan antikorupsi agak sulit dicapai. Munculnya gagasan curriculum development ini dalam rangka meresponi perubahan dan kebutuhan masyarakat terhadap peran lembaga pendidikan dalam mengatasi masalah-masalah sosial, seperti halnya korupsi.
Di tengah kondisi bangsa yang sulit mencari teladan moral, maka pendidikan antikorupsi menjadi penting dilakukan. Karenanya, berbeda dengan upaya pemberantasan korupsi yang bersifat kuratif, maka tawaran penelitian ini mengarah pada upaya preventif dan pre-emptif untuk mencegah tindak pidana korupsi, khususnya melalui jalur pendidikan berbasiskan Islam.
Definisi Operasional
Yang dimaksud dengan korupsi dalam penelitian ini adalah penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan baik oleh tenaga struktural, fungsional, maupun mahasiswa pengurus organisasi intra kampus untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri, keluarga, atau klik.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi perkuliahan, proses, dan media yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan pembelajaran. Kurikulum yang dimaksud adalah silabus dan SAP yang berdekatan dengan nilai-nilai antikorupsi.
Sedangkan yang dimaksud proses pembelajaran adalah proses pengembangan kecerdasan intelegensia, emosional, spiritual, dan sosial serta daya kritis mahasiswa UIN/IAIN terhadap nilai-nilai antikorupsi. Pendidikan antikorupsi adalah proses transfer dan penanaman nilai-nilai antikorupsi melalui aktifitas belajar-mengajar.
Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian
1. Pembatasan Penelitian
Penelitian ini membatasi pada persoalan kurikulum dan proses pembelajaran yang berhubungan dengan upaya internalisasi nilai-nilai antikorupsi di UIN/IAIN.
2. Rumusan Masalah Penelitian
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagaimana pandangan dan sikap civitas akademika UIN/IAIN terhadap antikorupsi? b. Apakah kurikulum yang berlaku di UIN/IAIN telah memuat pendidikan antikoruspi? c. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan di UIN/IAIN telah berperan dalam upaya internalisasi nilai-nilai antikorupsi? d. Bagaimanakah format pendidikan antikorupsi sebaiknya dilakukan di masing-masing UIN/IAIN?
Tujuan dan Output Penelitian
Penelitian ini bertujuan: 1. Menganalisis pandangan dan sikap civitas akademika UIN/IAIN terhadap antikorupsi. 2. Menganalisis kurikulum yang berlaku di UIN/IAIN telah memuat pendidikan antikoruspi. 3. Mengkritisi proses pembelajaran yang dilakukan di UIN/IAIN dalam perannya sebagai proses internalisasi nilai-nilai antikorupsi. 4. Menawarkan format alternatif pendidikan antikorupsi di UIN/IAIN.
Diharapkan penelitian ini melahirkan output sebagaimana berikut: 1. Bangunan epistemologi pendidikan tinggi Islam tentang anti korupsi. 2. Tawaran kurikulum pendidikan anti korupsi, baik yang terintegrasi maupun yang tersendiri. 3. Tawaran proses pembelajaran yang efektif bagi penanaman sikap antikorupsi di UIN/IAIN. 4. Referensi dalam pembuatan modul pendidikan antikorupsi di UIN/IAIN. 5. Terdorongnya UIN/IAIN untuk menjadi lembaga pendidikan tinggi Islam yang memiliki corporate culture yang sesuai dengan agenda anti korupsi, bahkan jika dimungkinkan menjadi zona anti korupsi.
Asumsi Penelitian
1. Hingga saat ini, di UIN/IAIN belum ada mata kuliah khusus mengenai antikorupsi. 2. Ada beberapa mata kuliah yang seharusnya membahas dengan baik isu anti korupsi, tetapi tidak membahasnya. Atau, sekalipun membahasnya, namun hanya selintas saja dalam satu pokok bahasan tertentu. 3. Baik kurikulum maupun proses pembelajaran yang terjadi kurang mempengaruhi pengembangan kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial mahasiswa mengenai anti korupsi.
Kerangka Teoretik
Diantara hal yang menyulitkan terkait dengan proses didaktis metodis yang berjalan di UIN/IAIN adalah masih dominannya pendekatan pengajaran konvensional dan kurang variatifnya metode pembelajaran active learning diterapkan.
Pendekatan dan kelemahan itu diperparah dengan proses pembelajaran yang berjalan secara monoton serta hanya berorientasi pada kurikulum berbasis penguasaan materi konvensional (subject oriented curriculum) sehingga dosen dianggap sebagai titik sentral dan menjadi "bank" soal dari proses kegiatan belajar-mengajar. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya proses pembelajaran yang monoton, tidak memberikan ruang dialog dan interaksi demokratis antara peserta didik dan dosen. Proses pembelajaran tersebut sangat dominan dilakukan dengan cara indoktrinasi-oral dan sedikit sekali yang mengkaitkannya dengan arus kenyataan praktikal dan aktual, semisal kejahatan korupsi.
Hal ini bisa dilihat pada pendefinisian tema tema "pencurian" dan "perampasan hak-hak kepemilikan finansial" dalam pengajaran fiqh. Di dalam mendefinisikan tema tersebut, baik di dalam kurikulum, silabus maupun Satuan Acara Perkuliahan (SAP), dinamakan sebagai pencurian dan perampasan hak kepemilikan finansial yang dilakukan secara fisik, semisal merampok (hirabah) ataupun perampasan di jalanan (qath'u al-thariq). Dus, belum menyentuh bentuk-bentuk perampasan dan perampokan finansial dalam mekanisme non fisik yang lebih sistemik dan mutakhir, semisal kejahatan korupsi sebagai gejala penyalahgunaan kekuasaan, ineffesiensi administrasi dan sekaligus sebagai salah satu bentuk kejahatan kerah putih (white collar crime). Mata kuliah akhlak dan tasauf masih dikonsentrasikan pada pengajaran dan identifikasi teoretis akhlak yang terpuji dan perjalanan spiritual kesufian yang bersifat pengalaman personal belaka. Dalam ilmu tasauf, pengajaran terminologi maqamat (spiritual station) seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, misalnya. Searah dengan pendekatan itu adalah terminologi-terminologi semisal sabar, tawakkal, khauf, raja, zuhud dan hulul. Terminologi ini diajarkan minus kontekstualisasi dan integrasi dengan realitas serta hampir tanpa penafsiran ekstensif terkait dengan aspek sosial-horizontal. Apalagi, mengaitkan nilai-nilai abstrak itu dengan perilaku dan realitas kecenderungan kekuasaan materil dan politik manusia sebagai khalifah Allah yang jika tidak dikontrol secara mekanis dan sistemis akan bersifat manipulatif dan korup, termasuk dengan memakai topeng ritual dan aksesori sufistik itu sendiri. Kredo korupsi dan kekuasaan yang terkenal: power tends to corrupt but absolute power corrupts absolutely.
Tidak adanya keinginan kuat untuk menselaraskan desain kurikulum dan proses pembelajaran dengan persoalan progresivitas masyarakat, mengakibatkan kurikulum dan proses pembelajaran kurang diintegrasikan dan dikontekstualisasikan dengan wacana dan masalah sosial yang aktual dan relevan. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh minimnya strategi pembelajaran yang variatif dan inovatif, semisal penggunaan audio visual, role play, demonstrasi modelling, psiko-conditioning, pembentukan kebiasaan (habit formation), milliu based educational approach dan lain sebagainya. Kenyataan yang demikian, tentu saja tidak dapat terus dibiarkan. Pengalaman di negara maju, Amerika Serikat misalnya, mengindikasikan dengan jelas bahwa desain kurikulum dan pembelajaran selalu di upgrade seiring dengan perkembangan masyarakatnya. Tahun 30-an, karena pengaruh dari progresivitas masyarakatnya, kurikulum lebih ditekankan kepada pengembangan potensi anak yang seluas-luasnya (child-centered curriculum) sebagai antitesa dari kurikulum lama yang lebih bersifat subject-centered curriculum. Tetapi, tahun 40-an sebagai akibat dari terjadinya perang, maka asas kebersamaan dan kemasyarakatanlah yang lebih ditekankan sehingga dikenalkan design kurikulum baru yang bersifat society-centered. Dalam perkembangan berikutnya, seiring dengan mulai menghangatnya "perang dingin" dan kompetisi kemajuan scientifik antara USA dan Uni Soviet, khususnya di bidang ilmu pengetahuan ruang angkasa (perang bintang/star war), maka dikenalkanlah model discipline-centered curriculum yang hampir identik dengan subject-centered. Mengacu kepada kerangka dasar desain kurikulum dan model pembelajaran Coombs, Ryan dan Romine, dapat disampaikan bahwa ada banyak faktor terkait dengan efektivitas proses pendidikan untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Diantara faktor itu adalah: pengorganisasian kurikulum, fasilitas penunjang, manajemen dan metode pendidikan itu sendiri serta sumberdaya manusia yang menopang berjalannya aktivitas tersebut.
JUMLAH DATA SAMPEL PENELITIAN ANTIKORUPSI
1. IAIN Ar-Raniry Aceh : 49 2. IAIN Sumatera Utara : 48 3. IAIN Imam Bonjol Padang : 44 4. UIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru : 48 5. IAIN Sultan Thaha Jambi : 46 6. IAIN Raden Fatah Palembang : 46 7. IAIN Raden Intan Lampung : 44 8. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : 50 9. IAIN Sunan Gunung Djati Bandung : 49 10. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta : 50 11. IAIN Walisongo Semarang : 47 12. IAIN Sunan Ampel Surabaya : 49 13. UIN Malang : 49 14. IAIN Antasari Banjarmasin : 46 15. IAIN Alaudin Makasar : 46
JUMLAH KESELURUHAN : 711
|
| |
|
|
| |
KATA PENGANTAR |
| |
DAFTAR ISI |
| |
DAFTAR GAMBAR |
| |
DAFTAR LAMPIRAN |
| |
|
|
| |
ABSTRAKSI |
| |
|
|
| |
BAB I |
PENDAHULUAN |
| |
|
1.1 Latar Belakang |
| |
|
1.2 Maksud dan Tujuan |
| |
|
1.3 Metodologi Penelitian |
| |
|
1.4 Pembatasan Masalah |
| |
|
1.5 Sistematika Penulisan |
| |
|
|
| |
BAB II |
TINJAUAN PUSTAKA |
| |
|
Berisi landasan teori dari permasalah yang diambil, juga landasan teori dari sistem komputer/ bahasa pemrograman yang dipakai (bila memakai program komputer) |
| |
|
|
| |
BAB III |
DATA HASIL PENELITIAN |
| |
|
Semua informasi yang ada di perusahaan yang berhubungan dengan masalah yang diambil. |
| |
|
|
| |
BAB IV |
ANALISA HASIL PENELITIAN |
| |
|
Melakukan analisa terhadap data hasil penelitian berdasarkan daftar pustaka serta bidang ilmu yang relevan. |
| |
|
Bila usulan perbaikan atau perancangan system menggunakan Software Komputer, harus disertakan : |
| |
|
• Flowchart Program |
| |
|
• Contoh Run Program |
| |
|
• Contoh Lay-Out Input dan Output Program |
| |
|
|
| |
BAB V |
KESIMPULAN DAN SARAN |
| |
|
Menyimpulkan hasil analisa dan memberikan masukan/ sran bagi perbaikan sistem di perusahaan. |
| |
|
|
| |
DAFTAR PUSTAKA |
| |
LAMPIRAN (termasuk daftar listing program bila ada) |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
PEDOMAN FORMAT PENULISAN |
| |
|
|
| |
|
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS KRISTEN PETRA
USULAN TUGAS AKHIR
|
Nama |
: |
Bernard Adytia Darmadi |
|
Nrp |
: |
26401207 |
|
Peminatan |
: |
Teknologi Perangkat Lunak |
|
Judul Tugas Akhir |
: |
Perancangan dan pembuatan mesin pencari paper, journal berbasis web dengan metode fuzzy relation |
|
Pembimbing 1 |
: |
Dr. Ir Rolly Intan, M.A.Sc. |
|
Pembimbing 2 |
: |
Resmana Lim, Ir. , M.Eng. |
|
Dilaksanakan |
: |
Semester Genap 2004 / 2005 |
| |
|
Surabaya, 1 Nopember 2004 |
| |
|
Yang mengusulkan |
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
Bernard Adytia Darmadi |
| |
|
|
| |
Mengetahui : |
|
|
Pembimbing I |
|
Pembimbing II |
| |
|
|
| |
|
|
|
Dr. Ir Rolly Intan, M.A.Sc. |
|
Resmana Lim, Ir. , M.Eng. |
| |
|
|
| |
Koordinator Tugas Akhir |
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Silvia Rostianingsih S.Kom M.MT. |
|
Judul Tugas Akhir
Perancangan dan pembuatan mesin pencari paper, journal berbasis web dengan metode fuzzy relation
Latar Belakang Masalah
Kemudahan dan efektifitas adalah dua kata kunci sukses sebuah mesin pencari. Kata "kemudahan" berkaitan dengan kemudahan penggunaan yang kemudian berkaitan dengan desain Graphical User Interface (dalam hal ini desain webpage), kata "efektifitas" berkaitan dengan hasil pencarian yang berhubungan dengan bagaimana sebuah hasil pencarian di ranking (page ranking) ditambah lagi dengan pemberian suggest informasi/dokumen lain yang berhubungan (similar pages) .
Pemberian similar pages / suggest informasi merupakan sebuah nilai tambah yang besar karena bila kita mencari pada mesin pencari maka yang kita inginkan hanya satu yaitu mendapatkan hasil dengan waktu yang sesingkat – singkatnya ironisnya hanya beberapa situs terkemuka yang memberikan fasilitas similar page ini, padahal jika dilihat dari keperluan maka failitas similar pages merupakan nilai tambah yang sangat besar. Semisal kita mencari dengan keyword "pasar modal", maka kita hanya menemukan hal – hal yang mempunyai kata "pasar modal", namun akan merupakan sebuah nilai tambah manakala juga diberikan suggest bahwa ada dokumen yang mengandung kata "stock exchange", "bursa efek", "bursa saham", "saham", dan lain – lain yang mungkin tidak mempunyai kata "pasar modal" tetapi mempunyai hubungan dengan kata "pasar modal".
Dengan penerapan Fuzzy Relation maka pemberian hal di atas sangat dimungkinkan untuk dilakukan. Dengan Fuzzy Relation maka kita dapat mendefinisikan hubungan yang terjadi disertai dengan bobot hubungannya, sehingga kita tidak hanya diberikan suggest paper, tetapi juga bobot hubungannya (degree of similarity).
Perumusan Masalah
Masalah yang ada dalam implementasi:
1. Hingga saat ini masih banyak mesin pencari yang melakukan pencarian berdasarkan pada text / sintaks.
Bila kita membuat fasilitas search / pencarian terhadap sesuatu hal maka kita terbiasa membuat search berdasarkan pada jumlah keyword yang ada pada sebuah halaman. Disatu sisi hal ini dapat dikatakan cukup karena mampu menampilkan dokumen (dalam hal ini paper) yang mempunyai keyword yang kita minta. Namun disisi lain bila kita berbicara dalam lingkup ke – ilmuan maka sebuah ilmu pastilah berhubungan dengan ilmu yang lain, dalam hal ini sebuah dokumen (paper, journal) juga mempunyai hubungan dengan dokumen (paper, journal) lain. Sehingga akan menjadi sebuah nilai tambah yang besar bila hasil pencarian juga menampilkan dokumen – dokumen yang mempunyai relasi dengan dokumen yang kita interest.
2. Tidak adanya / tidak jelasnya hubungan antara paper dengan keyword.
Bagaimana cara mendefinisikan sebuah hubungan antara keyword dan paper, merupakan sebuah masalah tersendiri bila kita berbicara hubungan antara dokumen yang satu dengan yang lain. Untuk menjamin keberhasilan / kemudahan maka kita harus dapat menemukan 4 macam relasi yang mungkin terjadi. 4 kemungkinan hubungan yang mungkin terjadi adalah :
keyword dengan keyword
keyword dengan paper
paper dengan keyword
paper dengan paper
3. Bila memang ada hubungan seperti yang ada pada nomor 2, maka tidak diketahui hubungan kekerabatan (jauh dekat relasinya)
Bila kita berbicara hubungan maka kita juga berbicara nilai / bobot hubungan, bobot sebuah hubungan diperlukan untuk menilai seberapa jauh / dekat sebuah relasi yang terjadi
Tujuan Tugas Akhir
Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah membuat aplikasi mesin pencari (search engine) berbasis web yang tidak hanya mencari berdasarkan pada kesamaan kata kunci pencarian yang diberikan dengan paper atau journal ilmiah yang ada, namun juga memberikan referensi paper, journal yang berelasi dengan paper, journal yang kita interest.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup dibatasi pada:
Hanya mencari pada file dengan format pdf (portable document format)
keyword ditentukan dari beberapa hal :
a. keyword yang diberikan pada masing – masing paper
b. banyaknya kata yang muncul pada sebuah paper (dikurangi stop words )
c. administrator dapat memasukkan keyword atau phrase tambahan yang diperkirakan mempunyai relasi dengan paper
Fuzzy relation diterapkan untuk pencarian similar page dan keyword anjuran (suggested keyword)
aplikasi dibuat dengan standart PHP4 / Zend Engine 1
Tinjauan Pustaka
Aplikasi mesin pencari dengan metode fuzzy relation ini dijabarkan sebagai berikut :
4. dibuat daftar / library kata – kata yang menjadi interest pada paper – paper yang ada
5. searching dilakukan pada paper, kata – kata yang ada pada library kemudian dilakukan pencocokan
contoh :
pada library tersimpan kata: fuzzy
fuzzy relation
fuzzy thesaurus
pada paper terdapat kalimat :
fuzzy adalah sebuah mata kuliah di informatika
-> ditemukan kata fuzzy sebanyak 1
fuzzy relation adalah salah satu bagian dari fuzzy logic
-> ditemukan kata fuzzy dan fuzzy relation masing - masing sebanyak 1
6. dari langkah ini maka kita mendapatkan bobot sebuah keyword terhadap paper atau secara fuzzy dikatakan terdapat fuzzy set keyword pada sebuah paper.
Contoh :
p -> paper
d -> keyword
p1 = {0.3/d2, 0.7/d5, 1/d7, 1/d8},
p2 = {1/d2, 0.8/d5, 0.8/d7, 1/d8},
p3 = {0.9/d1, 0.9/d3, 1/d4, 0.8/d6},
p4 = {1/d1, 0.5/d3, 0.8/d4, 0.8/d6},
p5 = {0.1/d2, 0.7/d5, 1/d4, 1/d8},
p6 = {0.9/d2, 1/d5, 0.8/d4, 1/d8}
kemudian dengan rumus :
dapat ditemukan hubungan antara paper – paper yang ada
misal
hubungan = 0,78
berikut adalah perbandingan hubungan antara paper – paper yang ada
|
X / Y |
P1 |
P2 |
P3 |
P4 |
P5 |
P6 |
|
P1 |
1.00 |
0.78 |
0 |
0 |
0.64 |
0.54 |
|
P2 |
0.98 |
1.00 |
0 |
0 |
0.64 |
0.73 |
|
P3 |
0 |
0 |
1.0 |
0.97 |
0.36 |
0.22 |
|
P4 |
0 |
0 |
0.83 |
1.00 |
0.29 |
0.22 |
|
P5 |
0.60 |
0.50 |
0.28 |
0.26 |
1.00 |
0.70 |
|
P6 |
0.67 |
0.75 |
0.22 |
0.26 |
0.93 |
1.00 |
Pada langkah 3 kita mendapatkan tabel hubungan antara paper yang satu dengan yang lain. Dengan tabel hubungan tersebut pada bila kita interest pada sebuah paper kita dapat pula mendapatkan paper lain yang berhubungan dengan paper yang kita interest, ditambah lagi dengan tingkat hubungannya.
7. pada langkah 3 kita mendapatkan terdapat fuzzy set keyword pada sebuah paper. Pada langkah 4 kita akan mencari fuzzy set paper pada keyword (keyword mempunyai hubungan dengan paper mana saja)
rumus
contoh: kita akan mencari bobot keyword (d2) pada paper 1
hasil keseluruhan
p-> paper
d-> keyword
d1 = {0.25/p3, 0.32/p4},
d2 = {0.1/p1, 0.28/p2, 0.06/p5, 0.24/p6},
d3 = {0.25/p3, 0.16/p4},
d4 = {0.28/p3, 0.26/p4, 0.36/p5, 0.27/p6},
d5 = {0.23/p1, 0.22/p2, 0.25/p5, 0.27/p6},
d6 = {0.22/p3, 0.26/p4},
d7 = {0.33/p1, 0.22/p2},
d8 = {0.33/p1, 0.28/p2, 0.36/p5, 0.27/p6}.
Pada langkah 4, kita mendapatkan hubungan antara keyword dengan paper. Dengan hubungan ini maka bila kita mempunyai keyword maka kita dapat menentukan paper mana yang berhubungan dengan keyword tersebut
kemudian dengan rumus :
dapat ditemukan hubungan antara keyword - keyword yang ada
misal
hubungan
hubungan
berikut adalah perbandingan hubungan antara keyword-keyword yang ada
|
X / Y |
d1 |
d2 |
d3 |
d4 |
d5 |
d6 |
d7 |
d8 |
|
d1 |
1.00 |
0 |
1.00 |
0.44 |
0 |
1.00 |
0 |
0 |
|
d2 |
0 |
1.00 |
0 |
0.26 |
0.64 |
0 |
0.58 |
0.53 |
|
d3 |
0.72 |
0 |
1.00 |
0.35 |
0 |
0.79 |
0 |
0 |
|
d4 |
0.89 |
0.44 |
1.00 |
1.00 |
0.54 |
1.00 |
0 |
0.51 |
|
d5 |
0 |
0.91 |
0 |
0.44 |
1.00 |
0 |
0.82 |
0.86 |
|
d6 |
0.84 |
0 |
0.93 |
0.44 |
1.00 |
1.00 |
0 |
0 |
|
d7 |
0 |
0.47 |
0 |
0 |
0 |
0 |
1.00 |
0.49 |
|
d8 |
0 |
1.00 |
0 |
0.54 |
0 |
0 |
1.00 |
1.00 |
Metodologi
Langkah-langkah dalam pengerjaan Tugas Akhir:
Studi literatur tentang:
1.1. Fuzzy Relation dan penerapannya
1.2. Teori Web Programming
1.3. Teori Administrasi Linux
Perencanaan dan Pembuatan Perangkat Lunak:
1.4. Modul Library dan Indexing
1.5. Modul Administrator
1.6. Modul Search Engine
Pengujian dan Analisa Perangkat Lunak
1.7. Pengujian program yang telah dibuat
1.8. Analisa hasil output dari program
Pengambilan Kesimpulan
1.9. Pengambilan kesimpulan dengan membandingkan hasil output program dengan analisa secara manual pada paper, journal yang ada serta melihat pula pada hasil indexing pada database
Relevansi
Manfaat dari perangkat lunak ini adalah memudahkan user untuk selain mendapatkan paper berdasarkan keyword yang dimasukkan (sintaks), namun juga dapat menemukan paper – paper lain yang mempunyai relasi dengan paper yang kita pilih
Jadwal Kegiatan
|
Kegiatan |
Bulan 1 |
Bulan 2 |
Bulan 3 |
Bulan 4 |
|
Studi Literatur |
X |
X |
|
|
|
Perencanaan sistem |
X |
X |
|
|
|
Pembuatan Aplikasi |
|
X |
X |
|
|
Pengujian dan analisa |
|
|
X |
X |
|
Penyerahan |
|
|
|
X |
Daftar Pustaka
Castagnetto, Jesus, et al.,eds. Professional PHP Programming. PDF
Haryanto, Steven. PHP: kumpulan resep pemrograman. Jakarta: Dian Rakyat, 2004
Haryanto, Steven. Regex: kumpulan resep pemrograman. Jakarta: Dian Rakyat, 2004
Intan, Rolly, and Mukaidono, Masao. Toward a Fuzzy Thesaurus Based on Similarity in Fuzzy Covering. PDF
Panduan Lengkap pengembangan jaringan linux. Yogyakarta : Andi Offset, 2003
Purbo, Onno W. Apache Web Server. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 2001
Welling, Luke, and Thomson, Laura. PHP and Mysql Web Development. PDF
www.php.net/manual/en 2004
www.mysql.org 2004
| |